Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
SAYANG TUNGGU DULU


__ADS_3

"Sayang ternyata kamu di sini" ucap Vania sambil meletakkan kopi di meja kerja Ariya.


"Vania apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya Ariya tiba-tiba dengan menatap Vania tampa berkedip.


Vania langsung mematung mendengar pertanyaan Ariya dan menoleh melihat Ariya dengan mata berkaca-kaca, "Ariya kamu memata-matai aku" tanya balik Vania.


Melihat mata Vania berkaca-kaca, Ariya jadi panik dan berdiri dari kursinya, "Bukan begitu sayang, kamu tau sendiri kan musuh perusahaan ku sangat banyak jadi aku selalu mengutus orang menjagamu" ucap Ariya sambil memegang kedua bahu Vania, mencoba menjelaskan pada Vania agar tidak salah faham.


Mendengar penjelasan Ariya, Vania melangkah duduk di sofa yang ada di ruang kerja Ariya, di ikuti Ariya di belakangnya. Keduanya duduk terdiam, Vania menyadari bahwa Ariya mengetahui ke bersamaan dirinya dengan Dani tadi.


Vania menoleh ke arah Ariya, "Ariya" ucapan Vania terpotong ketika Ariya mengangkat telunjuknya ke bibir Vania.


"Uusst.... Kamu tidak perlu menjelaskan semuanya, aku percaya padamu sayang" ucap Ariya.


"Dia teman aku 8 tahun yang lalu, cuma dia satu-satunya teman priaku yang tau profesi ku dulu" ucap Vania menjelaskan pada Ariya.


"Yah sudah, ayo kita ke kamar sayang" ajak Ariya mengalihkan pembicaraan.


*******


Akhir pekan telah tiba, hari ini Vania berencana ke kediaman wiraguna untuk mengunjungi mertuanya.


Ariya dan Meli sedang duduk di ruang keluarga, Meli sedang membaca buku sambil nyemil, sedangkan Ariya sedang sibuk dengan leptopnya.


Ariya menutup leptopnya dan melirik buku yang di baca Meli ternyata buku yang sama, yang di lihat di kamar Meli tempo hari.


Ariya berdiri mendekati Meli dan mengacak-ngacak rambut Meli, "Kamu tidak perlu membaca buku itu, biar aku yang memberimu pemahaman" ucap Ariya dengan menatap Meli sambil tersenyum.


Meli membulatkan matanya mendengar perkataan Ariya lalu menutup buku yang dia baca, kemudian melihat ke arah Ariya sambil meletakkan tangannya di dahi Ariya, "Tidak panas" gumam Meli.


Dari Arah tangga turunlah Vania, Vania melihat kedekatan suaminya dengan Meli, sementara Ariya tidak melihat ke datangan Vania yang turun dari tangga, "Kak Ariya sudah, kak Vania melihat kita di tangga".

__ADS_1


Vania melihat kedekatan suaminya dengan Meli, melihatnya sejenak dan berusaha bersikap biasa saja meski dalam hatinya teriris, "Ariya, Meli aku mau ke rumah mamah dulu" ucap Vania Setelah sampai ke lantai bawa.


Ariya bersandar di sofa lalu tersenyum sambil mengangguk. Sebelum Vania melangkah, Ariya memanggilnya, "Sayang tunggu dulu" sambil melangkah ke arah Vania.


"Sayang sepertinya kamu melupakan sesuatu" kemudian memegang kepala Vania dan mencium keningnya.


Vania membalas dengan tersenyum, lalu mengalungkan tangannya di leher suaminya, kemudian mencium pipinya, "Sayang aku ke rumah dulu" lalu melihat ke arah Meli, "Mel aku pergi dulu" ucap Vania.


"Iya kak Vania" jawab Meli.


"Hati-hati di jalan Vania" ucap Ariya yang memasukkan satu tangan di saku celananya dengan menatap kepergian Vania.


Setelah Vania keluar rumah, pandangan Ariya berpaling melihat Meli yang masi duduk di sofa. Meli yang merasa di lihatin, buru-buru mengambil bukunya lalu pura-pura membacanya, "Semoga saja kak Ariya sudah pergi" batin Meli di balik bukunya.


Ariya tersenyum melihat tingkah Meli, kemudian melangkah ke arah sofa, "Bukunya terbalik" sambil memutar buku yang di pegang Meli dan duduk di sampingnya, lalu membuka leptopnya sambil tersenyum.


Meli menyimpang bukunya di atas meja dan handuk berdiri, tapi langkahnya terhenti karena Ariya memegang tangannya, "Duduk di sini saja" ucap Ariya dengan tidak melihat Meli.


"Tapi kak Ariya" ucap Meli terhenti ketika Ariya menarik tangannya untuk duduk ke sofa kembali. "Kamu harus menurut kata suami" ucap Ariya dengan menatap tajam Meli. Meli yang di tatap cuma bisa menunduk.


Meli mengigit bibir bawanya, "Tapi kak".


"Tidak ada kata tidak untuk Ariya wiraguna, ayo bersiaplah" ucap Ariya dengan tegas.


Sementara Vania di dalam mobil menuju ke rumah Renata yang duduk di kursi penumpang, membayangkan kedekatan Ariya dan Meli. Kemudian menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan, "Aku harus tegar, Ariya berusaha bersikap adil dan itu tidak salah" gumam Vania dengan air mata menetes.


"Ting" hp di tangan Vania berbunyi.


"Sayang, aku keluar bersama Meli" isi pesan dari Ariya.


Vania membalas, "iya Ariya" dan menggenggam erat hpnya, dengan menatap lurus ke depan.

__ADS_1


Ariya membaca pesan balasan Vania dengan menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan, kemudian berdiri berjalan naik tangga.


Ariya sedang berdiri di depan cermin, menatap dirinya yang berpenampilan casual, penampilan casualnya terlihat lebih mudah dari usianya.


"Ini tidak salah, aku cuma berusaha bersikap adil" ucap Ariya masi melihat dirinya di cermin.


Kemudian Ariya berjalan keluar kamar, di saat yang bersamaan Meli juga keluar kamar, Meli terlihat cantik dengan dress selutut, rambutnya di buat lurus dan tidak di ikat, tas kecil di lengannya mempercantik penampilannya.


Mata Ariya tidak berkedip melihat ke cantikan Meli, begitu pula sebaliknya Meli sangat kagum melihat penampilan Ariya yang berbeda.


"hemmm" Ariya mencoba mencairkan suasana lalu mendekati Meli dan memegang bahu Meli dengan satu tangan di saku celananya, "kau sangat cantik, ayo kita berangkat".


Meli yang di puji cuma tersenyum dan mengikuti langkah Ariya untuk turun.


Saat ini Ariya dan Meli sedang berada di mall ternama di kota itu, Ariya memilih beberapa pakaian untuk Meli, setelah itu Ariya membawa Meli ke tempat perhiasan emas.


"Meli sekarang pilih yang mana kamu suka" ucap Ariya.


"Tapi kak Ariya, ini tidak perluh" ucap Meli.


Penjaga toko tersebut berucap kepada Ariya dan Meli, "Kalian ini pasangan pengantin baru yang terlihat cocok".


Meli melihat Ariya dengan wajah tegang, kemudian Ariya memeluk bahu Meli, "Iya dia ini istri saya, kami sedang mencari kalung yang cocok", ucap Ariya. Meli cuma tersenyum canggung sambil mengangguk.


"Iya pak kami ada keluaran terbaru" ucap penjaga toko tersebut sambil memperlihatkan kalung berlian yang sangat cantik.


Ariya mengambil kalung tersebut, dan mencoba memakaikan di leher Meli, yang membuat Meli menjadi tegang.


Ariya melihat Meli di cermin yang ada di toko tersebut, sambil memakaikan kalungnya, "Sangat cantik, secantik yang memakainya" ucap Ariya masi melihat Meli tampa berkedip.


Meli yang menyadari tatapan Ariya yang tajam tampa berkedip, secepatnya menundukkan pandanganya.

__ADS_1


"Kak Ariya aku ke toilet dulu" ucap Meli yang di balas anggukan oleh Ariya.


Ariya segera membayar kalung yang di pakai Meli, dan Ariya melihat gelang berlian terlihat simpel tapi akan terlihat cantik jika di pakai oleh Vania yang anggun, "Bungkus yang ini juga" sambil menunjuk gelang tersebut.


__ADS_2