
Sabtu sore telah tiba, Nara sedang berada di restoran tempatnya bekerja paruh waktu setiap sabtu dan minggu.
Hingga malam tiba restoran itu sudah kurang pengunjung, Nara sedang membersihkan salah satu meja dan ada yang memanggilnya.
"Pelayan" panggil suara seorang pria.
Nara kemudian menoleh, "Kak Andra" ucapnya sedikit kaget, tenyata Andra yang memanggilnya.
"Ini tidak salah, kamu Nara kan?" tanya Andra memastikan.
"Iya ini aku kak" jawab Nara antusias.
"Sini duduk dulu kita ngobrol" ucap Andra sambil menarik kursi untuk Nara duduki.
"Jangan dong kak, nanti bos aku marah" ucap Nara.
"Tidak akan marah, karena ini salah satu cabang restoran kami" lanjut andra.
"Jadi restoran ini milik Wiraguna group?" ucap Nara tidak menyangka. Andra hanya menganggu.
"Jadi saat ini aku bicara dengan tuan mudah Andra" sambil duduk di kursi samping Andra.
"Kak andra aku kagum sama kakak, meskipun pewaris wiraguna group, tapi tidak sombong dan masi ingin bicara dengan orang bawa seperti kami" ucap Nara, sambil tersenyum melihat penampilan Andra yang sederhana dengan jaket jeans.
*Ya penampilan Andra memang tidak lah rapi seperti tuan mudah pada umumnya, karena dia menyukai kendaraan bermotor, jadi jaket Jeans dan celana jeans sudah menjadi andalannya.*
"Jangan bilang begitu Nara, aku tidak terlalu tertarik dengan perusahaan" ucap Andra.
"Kok gitu kak, bagaimana pun itu tangung jawab kakak nantinya" ucap Nara.
"Aku tidak perlu pusing saat ini, ada adikku yang akan mengurus perusahaan, dia lebih jago di bidang bisnis" ucapnya menjelaskan pada Nara.
"Sampai kapan kak Andra akan mengandalkan adiknya, sedangkan pada dasarnya pewaris perusahaan adalah kakak" ucap Nara memberi pendapat.
"Asal kamu tau Nara, Wiraguna group sangat lah besar, itu adalah beban bagiku, apakah nantinya aku bisa mempertahankan semua itu" curhat Andra. Nara hanya mengangguk pelan mencoba memahami ke adaan Andra.
"Papaku adalah pria yang hebat, beliau bisa memimpin wiraguna group masi berjaya sampai sekarang, sedangkan kepintaran dan kehebatan papaku, di warisi oleh adikku yang menjadi kebanggaan ku." lanjut Andra, entah kenapa Andra bisa nyaman curhat dengan Nara.
"Sepertinya kak Andra sangat sayang pada adiknya?" tebak Nara.
"Iya aku sangat menyayanginya, bahkan aku rela berkorban untuknya" ucap Andra.
"Oh so sweet, aku jadi terharu" balas Nara.
__ADS_1
"Ah bisa aja kamu, kamu juga kerja di sini?" tanya Andra sambil melihat sekeliling yang sudah sepi.
"Sabtu, minggu aku kerja di sini kak" jawab Nara.
"Kan kamu juga kerja sama kak Selin, memang tidak cukup" tanya Andra lagi.
"Aku kerja sambil kuliah kak, kerja juga kalau tidak ada jadwal kuliah, jadi tidak cukup" jelas Nara.
"Oh gitu yah, ya sudah Nara aku pulang dulu, makasih sudah temani bicara" ucap Andra sambil berdiri.
"Iya kak hati-hati di jalan" ucap Nara dan di balas anggukan oleh Andra.
Nara menatap kepergian Andra, "Dia benar-benar pria idaman" sambil menarik nafasnya.
********
Sore hari di apartemen Arvan, Arvan baru saja selesai mandi dengan rambut basah dan masi memakai jubah mandi yang memperlihatkan bagian dada kekarnya.
Tiba-tiba hp Arvan berdering, Arvan melihatnya dan tertulis nama "NARA", dia tersenyum lalu mengangkatnya.
"Ya halo" ucap Arvan.
"Ini dengan tuan muda Arvan, saya ingin menemui anda membahas desain yang akan saya kerjakan" suara Nara dari sebrang telpon.
Tidak lama kemudian pintu di ketuk seseorang, Arvan segera membuka pintu, berdirilah Nara di balik pintu.
"Selamat sore tuan muda Arvan" ucap Nara.
"Hmmm... masuk!" ajak Arvan. Nara pun masuk dan melihat seisi apartemen Arvan. Nara mengagumi kemewahan apartemen itu, di tambah rapi dan bersih.
"Silahkan duduk" ucap Arvan sambil duluan duduk bersandar di sofa, dengan menyilang kakinya masi dengan jubah mandinya.
Nara melihat ke arah Arvan, dia baru sadar kalau Arvan hanya memakai jubah mandi yang memperlihatkan dadanya.
Nara secepatnya memutar balik badannya, tidak ingin melihat Arvan, "Taun muda sebaiknya, memakai pakaian dulu" ucapnya dengan sopan.
Arvan tersenyum tipis, "Jangan berani memerintah ku, laksanakan tugasmu secepatnya" ucapnya santai.
"Kalau begitu, tuan mudah berdiri biar aku ukur" ucap Nara hati-hati.
"Duduk lah dulu Nara, Namamu Nara kan?, Kita bicara dulu, inikan masi sore" ucap Arvan menatap Nara.
"Ya tuan mudah, namaku Nara" sambil duduk pelan-pelan di sofa.
__ADS_1
"Nara di mana kamu kenal kakakku?" tanya Arvan sambil menyalakan rokoknya.
"Di jalan" jawab Nara singkat.
"Di jalan?" tanya balik Arvan sambil mengkerut kan keningnya.
"Iya aku ketemu kak Andra di jalan, waktu itu kak Andra menolong aku" sambung Nara menjelaskan.
"Kamu punya pacar Nara?" tanya Arvan tampa basa-basi, masi gayanya yang santai.
"Tidak ada tuan" jawab Nara sambil mengigit bibir bawanya, yang menambah kecantikannya.
Sebagai pria normal, Arvan tentu tidak munafik kalau di matanya, Nara sangat lah cantik dan lembut.
"Aku tidak suka basa-basi Nara, kamu mau jadi pacar pura-pura ku?" sambil menatap mata Nara tampa berkedip.
Nara yang di tatap langsung menurunkan pandanganya, "Maksud tuan muda apa?" tanya Nara, dengan ekspresi bingung.
"Begini Nara, aku akan membayar mu mahal, temani aku di setiap kesempatan termasuk pesta ulangtahun pernikahan orang tuaku" Ucap Arvan menjelaskan pada Nara sambil berdiri dari duduknya.
Nara tidak langsung menjawab, dia berfikir sangat keras, tapi belum bisa memutuskan iya atau tidak. Di sisi lain Nara juga membutuhkan uang.
Arvan berjalan mengambil dompetnya dan mengeluarkan satu kartu kredit, kemudian berjalan ke arah Nara dan memberikan kartu kredit itu.
"Ambil ini, uang dalam kartu ini cukup untuk kebutuhanmu" ucap Arvan sambil mengamati wajah Nara yang berfikir.
"Maaf tuan mudah Arvan, aku tidak bisa" tolak Nara sambil menahan kartu kredit yang di kasi kan Arvan.
Arvan menarik kembali tangannya dan menyimpang kembali kartunya, "Baik kalau kamu berubah pikiran hubungi aku lagi" ucapnya sambil duduk. Nara hanya mengangguk pelan.
"Kalau begitu selesaikan tugasmu" perintah Arvan.
Nara yang mendapat perintah langsung berdiri dari duduknya, lalu mendekati Arvan.
"Maaf tuan mudah, silahkan berdiri saya akan mengukur anda" ucap Nara saat berada di depan Arvan.
Arvan berdiri dari duduknya, dan Nara mulai mengukur tubuhnya. Nara melingkarkan tangannya ke pinggang Arvan, membuat jarak mereka sangat dekat, Ariya tidak pernah berhenti mengamati wajah cantik Nara.
"Maaf tuan baju anda kebesaran, saya kesusahan mengukur lingkar pinggang anda" ucap Nara untuk mencairkan suasana, karena memang jubah mandi Arvan, membuat Nara kesulitan mengukurnya.
"Apa aku harus buka baju" ucap Arvan dan langsung membuka bajunya.
Nara menahan nafasnya melihat tubuh kotak Arvan yang seperti roti sobek, dia diam saja tidak tau harus bagaimana.
__ADS_1
"Ayo cepat ukur, aku ada urusan lain?" perintah Arvan sengaja mengerjai Nara, karena baru saja menolak tawarannya.