
Arvan yang memeluk Elena, melihat keberadaan Nara yang melihatnya, pandangan mereka bertemu.
Nara yang ingin menemui Arvan mengurungkan niatnya, dia kemudian meninggalkan tempat itu.
Nara sedang berjalan di pinggir jalan, berencana pulang sendiri, tiba-tiba sepatu hak tinggi yang di pakainya patah, "Aah sial banget sih nasib aku, kenapa bisa patah" ucap Nara sambil melepas sepatunya.
Tiba-tiba Arvan datang langsung menggendongnya, Nara membulatkan matanya kaget, tapi Arvan dengan santai menggendongnya.
"Hai kak lepaskan aku, aku bisa jalan sendiri" ucap Nara sambil memukul lengan Arvan dan berusaha untuk turun dari gendongan Arvan.
Arvan tidak mempedulikan ucapan Nara, dia tetap berjalan menuju mobilnya dan memasukkan Nara di dalam mobil sportnya, kemudian berjalan ke arah kemudi.
"Kenapa, kamu cemburu?" tanya Arvan yang melihat Nara diam saja, sambil fokus mengemudikan mobilnya.
"Apa cemburu? mana mungkin" ucap Nara sambil menoleh melihat Arvan.
"Bisa saja kan, sekarang kamu suka sama aku" ucap Arvan tersenyum melihat Nara.
"Hmmm gimana yah, aku lebih mengagumi Kak Andra" ujar Nara, berterus terang.
Setelah pembicaraan tadi, mereka hanya diam saja. Pada akhirnya mobil sudah sampai di apartemen Arvan.
Keduanya pun masuk di apartemen layaknya suami dan istri, tapi Nara dan Arvan masuk di kamarnya masing-masing.
Nara sedang berada di kamarnya, dia baru saja melepas pakaiannya masi dengan riasan makeup nya, saat ini sedang memakai baju tidur seksi karena di merasa sedikit gerah.
Nara sedang duduk di depan meja rias, ingin menghapus makeup nya.
"Ting" bunyi notifikasi hp Nara. Nara segera membukanya.
"Ke kamarku sebentar" ternyata isi pesan Arvan.
Tampa berfikir Nara langsung menuju kamar Arvan, dia hanya mengambil jubah tidur yang panjangnya sepaha dan mengikat di pinggangnya.
"Kak Arvan" panggil Nara sambil mengetuk pintu.
__ADS_1
"Masuk Nara, pintu tidak di kunci" teriak Arvan dari dalam.
Nara membuka pintu pelan-pelan, terlihatlah Arvan sedang berbaring di ranjangnya dengan memejamkan matanya.
Nara yang baru masuk kamar itu untuk pertama kalinya, dia kagum dengan interior kamar Arvan yang mewah, sambil melihat ke setiap sudut kamar itu.
Arvan membuka matanya dan melihat Nara yang berpakaian seksi, "Nara bisa bantu aku" panggil Arvan.
"Iya kak, bisa" sambil mendekati Arvan.
"Kepalaku sakit bisa bantu pijatkan" ucap Arvan yang memegang kepalanya yang sakit.
Nara yang panik, langsung duduk di samping Arvan dan memijat kepalanya Arvan dengan berhadapan.
"Pijatan mu enak sekali Nara, kepalaku agak enakan" ucap Arvan, pelan-pelan membuka matanya, dan di suguhkan pemandangan yang sangat indah.
Terlihat buah dada Nara yang berukuran besar, hampir keluar dari tempatnya karena Nara memakai baju tidur model singlet tali kecil.
Arvan menatap buah melon Nara tampa berkedip, membuat di bawa sana menenggak. Nara yang menyadari tatapan Arvan yang mesum, langsung menghentikan aktifitasnya dan segera berdiri.
Tapi Arvan mempererat pelukannya di pinggang Nara, hingga dia bisa merasakan buah kenyal Nara yang hampir saja melompat dari tempatnya, dan Nara juga merasakan s*njata Arvan yang mengganjal di bawanya.
"Nara apa kamu lupa, kalau kamu menandatangani surat kontrak itu tampa merubah isinya, jadi aku bebas melakukan layaknya orang pacaran" ucap Arvan, mulai menarik leher Nara mendekati wajahnya, membuat Nara semakin marah dengannya.
Nara berusaha melawan, tapi apa lah daya Nara kekuatan Arvan lebih besar.
Arvan mencium tubuh Nara yang wangi, di tambah makeup Nara yang belum luntur, menambah kecantikan Nara tiga kali lipat, membuat h*srat Arvan makin menggila.
Arvan memutar tubuh Nara berada di bawahnya dan mulai m*ncium lembut leher Nara hingga turun ke belahan buah kenyal Nara yang putih mulus.
Nara menatapnya penuh kebencian dengan mata berkaca-kaca, dan mulai terbuai dengan sentuhan Arvan yang pertma kali untuknya, tapi di berusaha melawan agar tidak terlena dengan aksi bejat Arvan.
Arvan berbisik di telinga Nara, "Masuk dalam kamar pria dewasa dengan berpenampilan seperti ini, kamu sangat berani Nara" sambil meninggalkan jejak di leher Nara.
"Aku pikir kamu pria baik-baik, tapi ternya bajingan" ucap Nara penuh amarah.
__ADS_1
"Jadi aku harus membayar berapa? untuk memiliki tubuh kamu ini" bisik Arvan sambil meraba dan menarik tali pengikat jubah tidur Nara.
Kekuatan Nara sudah terkuras melawan tubuh kekar Arvan, sekarang dia sudah pasrah apapun yang akan terjadi.
Arvan kembali mencium buah k*nyal Nara yang terlihat dan kembali meninggalkan jejak, tapi Arvan tidak mengeluarkan mainannya.
Pelan-pelan Arvan menuju bibir Nara untuk m*lumatnya, tapi aksinya berhenti saat menatap dalam-dalam mata Nara yang berkaca-kaca seolah-olah sangat memohon untuk berhenti.
Arvam menghentikan aksinya dan membuang dirinya berbaring di samping Nara. Nara secepatnya bangun dan menangis sesenggukan sambil mengikat tali jubahnya tidurnya.
"Jangan pernah lagi memakai baju seperti itu, masuk di kamar pria dewasa, keluarlah" perintah Arvan.
Nara secepatnya keluar dari kamar Arvan. Arvan hanya melihat kepergian Nara dan secepatnya masuk kamar mandi, untuk menuntaskan h*sratnya yang sudah di ubun-ubun.
Setelah selesai di kamar mandi, Arvan sedang duduk bersandar di sofa sambil menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan, "Maafkan aku Nara" ucap Arvan.
Nara sedang berada di kamarnya dan melihat dirinya di cermin, Nara memegang tanda merah yang di buat Arvan di lehernya, "Kenapa dia sangat jahat, dia benar-benar melecehkan ku" ucap Nara penuh kebencian.
Keesokan harinya, Nara sedang menarik kopernya ingin meninggalkan apartemen Arvan, langkahnya terhenti ketika mendengar suara Arvan.
"Mau kemana?" tegur Arvan.
Nara menoleh, "Aku mau pergi" jawab Nara dengan ekspresi marah.
Arvan secepatnya berdiri, lalu menahan tangan Nara, "Jangan pergi nara maaf kan aku" dengan wajah merasa bersalah.
Nara membuang pandangannya, tidak ingin melihat Arvan, "Jangan berani melarang ku tuan mudah yang terhormat" ucap Nara dengan menekan suaranya.
"Kamu lupa isi surat perjanjian itu Nara Larasati?" ucap Arvan sambil mengelilingi Nara.
"Saya tidak lupa taun mudah, di dalam surat perjanjian itu, cuma berpacaran bukan tinggal di apartemen anda, dan aku punya ini untuk mencari rumah baru" ucap Nara sambil memperlihatkan kartu kredit yang di berikan Arvan, dengan nada pelan tapi menekan suaranya.
"Baik jika itu yang kamu ingin kan, di dalam surat perjanjian tidak ada larangan kontak fisik bukan" ucap Arvan sambil tersenyum penuh kemenangan, di dekat telinga Nara.
"Jadi mau anda apa?" tanya Nara sambil melirik menatap tajam pada Arvan yang berada dekat dengan wajahnya.
__ADS_1