Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
TERNYATA DIA BELUM BERUBAH


__ADS_3

Di kantor wiraguna group, Ariya dan Yuda sedang berada di ruangan Ariya "Yuda selidiki siapa saja pria yang dekat dengan Vania" ucap Ariya. "Baik tuan" jawab Yuda dengan menunduk hormat.


Pintu di ketuk seseorang, "Yuda sepertinya itu Vania yang datang, buka pintunya dan keluarlah" perintah Ariya.


Yuda segera membuka pintunya dan betul Vania yang datang, "Silahkan masuk nona, pak Ariya sudah menunggu" dan keluar dari ruangan Ariya.


Setelah melihat ke datangan Vania, Ariya langsung berdiri dari kursi kebesarannya menuju sofa, "Silahkan duduk Vania"


Vania kemudian duduk di sofa, di susul Ariya duduk di sampingnya, "Begini pak Ariya, saya ingin melaporkan proyek hotel di luar kota, sepertinya kita harus meninjaunya sendiri, supaya sesuai hasil yang kita inginkan" ucap Vania menjelaskan.


Ariya mengamati berkas di depan Vania, membuat jarak di antara mereka sangat dekat dan Vania bisa mencium bau maskulin dari tubuh Ariya.


Vania berhenti menjelaskan membuat Ariya melihat Vania, jarak wajah mereka sangat dekat. Ariya tersenyum "Apa lagi Vania?" tanya Ariya. "Cuma itu" jawab Vania.


Tiba-tiba Vania mual dan pusing, untung saja Ariya cepat menangkapnya "Ayo Vania aku antar pulang", sambil memapah tubuh Vania.Vania cuma mengangguk.


Di dalam mobil Vania masi bersandar di tubuh Ariya "Vania aku bawa kamu ke rumah sakit yah?" ucapnya lembut.


"Gak perlu Ariya ke apartemenku saja, aku cuma butuh istirahat" masi memejamkan matanya.


Ariya menggendong tubuh Vania ala bridal style, masuk ke apartemennya dan membaringkan Vania di ranjangnya. "Istirahat lah Vania", sambil menyelimuti Vania.


Vania bagun dan bersandar di ranjang, "Ariya makasih yah" sambil menatap Ariya.


Ariya cuma mengangguk pelang, "Vania istrahat lah dulu, jangan terlalu capek. Soal proyek di luar kota aku bisa meminta perwakilan yang lain untuk mengantikan mu" ucapnya dengan nada lembut.


Batin Vania "Ariya setulus itu kah dirimu, meski kamu berfikir aku hamil kamu tetap perhatian padaku" masi menatap Ariya.


Ariya yang di tatap merasa aneh, "Kenapa Vania?" tanya Ariya.


"Ariya kenapa kamu belum menikah?" tanya Vania dengan ragu.


Ariya kemudian mengambil tangan Vania dan menempelkan di dadanya, "Bagaimana aku bisa menikah, kalau nama Vania lestari selalu ada di sini" dengan suara yang berat tapi terdengar lembut.


Secepatnya Vania menarik tangannya, "a ariya hari ini kamu bisa bersamaku, aku sedang tidak enak badan" ucapnya dengan mengalihkan pembicaraan.


"Tapi Vania, kamu harus istirahat kasian..." ucapan Ariya terpotong kala Vania menggenggam tangannya.


"Mau yah Ariya" rengek Vania manja.


"Baik lah Vania" kemudian menelpon yuda, "Yuda batalkan semua rapat hari ini" sementara tangan kirinya masi di genggam Vania.


"Makasih yah Ariya" reflek memeluk Ariya karena senang, entah apa yang membuat Ariya senang mungkin karena Ariya masi mengutamakannya.


Vania melepaskan pelukannya "maaf" ucap Vania.


Ariya cuma mengangguk, "Vania aku ke toilet dulu" dan berdiri masuk toilet.


Setelah kepergian Ariya, Vania tersenyum penuh arti.


Sementara di toilet, Ariya mencuci mukanya "Vania! kenapa Vania kamu bersikap seperti ini, di saat aku tau sisi lain darimu dan dengan mudah aku menerima semua kenyataan, apa aku sangat bodoh, entahlah saat ini aku tidak tau harus apa" pikir Ariya kemudian keluar dari toilet.


Vania sekarang seudah berganti pakaian rumah, Vania masi terlihat imut meski usianya sudah kepala 3, mungkin karana Vania punya postur tubuh yang tidak terlalu tinggi, membuatnya lebih mudah dari usianya.

__ADS_1


Ariya melihat Vania dan tersenyum sambil berjalan ke arah Vania, dengan lengan baju yang di gulung sampai sikut, membuat aura ketampanan Ariya meningkat.


Ariya duduk di samping Vania, "Bagaimana perasaan kamu sekarang" sambil memegang bahu Vania dengan lembut.


"Aku udah baikan kok" dengan wajah yang ceria.


"Vania kalau kamu mau sesuatu katakan saja padaku" tanya Ariya.


"Ha...ha...ha... jangan seperti itu Ariya, kamu itu seperti suami yang menanyakan istrinya yang sedang hamil, maunya apa" ucapnya bercanda untuk memancing reaksi Ariya.


Ariya jadi bingung harus bilang apa dan mengalihkan pandanganya ke arah lain kemudian tersenyum, "Ini sangat lucu". mereka tertawa bersama.


Vania menghentikan tawanya, "Ariya apa ada yang ingin kamu tanyakan?"


"Tidak Vania, aku akan menuggu kamu yang akan cerita semuanya" dengan menatap Vania dengan serius.


"Kalau begitu datanglah di minggu ini tempat fitnes dekat apartemenku" ucap Vania.


********


hari minggu pun tiba, Ariya sedang di kamarnya menikmati rokoknya, dia sedang memikirkan perkataan Vania yang ingin bertemu di tempat fitnes, "Apa aku harus datang?".


sementara di tempat fitnes, Vania dan Revan sedang berolahraga, Vania sedang fitnes yang berat-berat, yang intinya tidak boleh untuk wanita hamil.


Penampilan Vania kali ini sangat seksi karena cuma memakai baju fitnes, dadanya yang besar lebih menonjol ke depan dan perut yang kelihatan ramping dan seksi.


Ariya melihat dari kejahuan Vania dan Revan, "bodoh kenapa aku harus datang kesini" ucapnya dengan kesal.


kemudian matanya terfokus pada alat fitnes yang di pakai Vania.Vania sedang memakai alat fitnes untuk merampingkan perut.


sedang berfikir dan bingung.


Tidak lama kemudian datanglah seorang perempuan.


Vania melihat Elina datang, "Hei Elin, elo udah datang" sambil cipika-cipiki.


"Baru saja Van, gue sirik tau gak sih sama elo, habisnya elo bisa fitnes, sedangkan gue gak" sambil memberi minum ke Revan.


Revan kemudian memegang perut istrinya "Sayang kamu yang sabar, nanti juga kalau baby kita lahir, kamu bisa fitnes lagi" sambil mencium kening Elina.


Ariya yang melihat itu dari ke jahuan jadi bingung, "Sepertinya ada yang tidak aku ke tahui" sambil menuju ke arah Vania.


Baru saja Ariya hampir sampai ke tempat Vania, Revan dan Elina sudah ingin pergi.


Revan dan Elina bergandengan pergi, "Dah Elina, pak Revan" sambil mengambil air untuk minum. Tapi dia tidak menyadari kehadiran Ariya di sampingnya.


"Kamu tidak cemburu Vania" sambil mengangkat besi di samping Vania.


Vania menoleh, "Kenapa aku harus cemburu melihat kebahagian orang lain" sambil main fitnes lagi.


Keduanya sudah duduk istirahat, mereka ngos-ngosan kemudian tertawa bersama.


"Vania bukanya kamu tidak boleh melakukan olahraga yang berat-berat" tanya Ariya sambil melihat Vania.

__ADS_1


"Jadi kamu masi mengira aku hamil Ariya", tanya balik Vania dan duduk di samping Ariya.


Ariya masi mencoba mencerna ucapan Vania, "Jadi kamu tidak hamil Vania" tanya Ariya lagi.


Vania tidak mengiyakan, dia malah berargumen dengan Ariya, "Menurut kamu? ayo kita tes IQ seorang CEO wiraguna" sambil melihat Ariya dan tersenyum manis.


Ariya tersenyum "Aku salah lagi Vania".


********


Di kantor prakasa group, Revan sedang sibuk dengan berkas-berkas di mejanya, pintu di ketuk seseorang "masuk".


Ternyata Vania yang masuk "Pagi pak" dan berdiri di samping Revan.


"Pak Revan, ini berkas kerja sama dengan wiraguna group" sambil meletakkan berkas di samping Revan. Revan menggambil nya dan melihatnya.


"Pak kita harus datang langsung meninjau tempatnya, supaya tidak ada kesalahan, mungkin akan memakan waktu dua hari" ucap Vania menjelaskan.


"Bersama pak Ariya" tanya Revan. "Iyya pak" jawab Vania.


"Pergi lah, aku percayakan proyek ini denganmu Vania" sambil memberikan berkas kembali pada Vania.


Ariya dan Vania sudah ada di luar kota, di mana area hotel yang akan di bangun, mereka meninjau pembangunan. Ariya dan Vania benar-benar bekerja secara profesional.


Peninjauan proyek telah selesai sekarang Ariya dan Vania menuju hotel.


Ariya sedang berada di kamarnya memakai kimono tidur dengan dada yang terbuka memperlihatkan dada atletisnya.


Ariya menelpon Vania "datang ke kamarku sekarang juga" dan membuang hpnya di kasur.


"Pintu di ketuk Vania "Pak Ariya boleh aku masuk".


"Masuklah" ucap Ariya.


Vania pun masuk dan melihat Ariya sedang duduk di sofa dengan segelas wine di tangannya.


"Duduk lah Vania, aku ingin ngobrol denganmu", sambil menepuk kursi di sampingnya.


Vania agak ragu untuk duduk, tapi akhirnya dia duduk di samping Ariya.


"Mau minum" sambil memberikan gelasnya ke Vania.


"Sudah lama sih aku gak minum, tapi aku akan mencobanya lagi" sambil mengambil gelas yang di kasi Ariya dan meminum wine sisa Ariya.


Ariya tersenyum melihatnya, "ternyata dia belum berubah" banting nya.


Vania sudah sedikit rileks, karena minuman yang di minumnya.


"Vania kamu tau, 8 tahun aku menunggu momen ini bersama denganmu " Ariya minum lagi seteguk.


"Cuma minuman ini yang menemaniku, di saat aku mengingat dirimu" ucap Ariya meluapkan isi hatinya. Vania hanya diam mendengarkan nya.


"Ketakutan selalu menghantuiku, aku takut di mana aku sudah kembali, tapi kamu sudah jadi milik orang lain" ucapnya sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


"Ariya" ucap Vania lirih kemudian menghapus air mata Ariya.


__ADS_2