
Ariya, Vania dan Meli sedang berkeliling rumah itu, Vania melihat jam tangannya.
"Ariya, Mel aku duluan, ada urusan" ucap Vania.
"Kemana?" tanya Ariya dengan menatap Vania.
"Ke suatu tempat, daah" lalu berlalu pergi.
Ariya dan Meli melihat kepergian Vania hingga hilang di balik tembok.
"Kak Ariya tidak ikut dengan kak Vania?" ucap Meli.
"Tidak Mel, kakak ada keperluan lain, kamu istirahatlah jangan capek-capek jaga kandungan kamu dengan baik" ucap Ariya lalu menunduk mencium perut Meli.
Meli kembali tersentuh dengan sikap manis Ariya, "Iya kak".
"Aku pergi dulu, telpon saja kalau kamu butuh sesuatu" ucap Ariya, dan meninggalkan rumah yang di tempati Meli.
Setelah kepergian Ariya, Meli duduk di kursi yang ada di pinggir kolam berenang, "Kenapa harus kak Vania yang menjadi wanita pertama dalam hidup kak Ariya, wanita yang sudah aku anggap kakak sendiri dan menjadi malaikat penolongku" tuturnya, sambil menatap senduk ke kolam berenang.
Tiba-tiba datang pelayan dari dapur yang memang sudah akrab dengan Meli, dan memegang pundak Meli, "Nona Meli jangan bersedih, semua pasti ada jalan terbaiknya" ucap pelayan itu.
"Apa salah, kalau aku mencintai suami aku sendiri?" tanya Meli pada pelayan yang berdiri di sampingnya.
"Itu tidak salah Nona, tapi sepertinya sangat sulit tuan Ariya melepaskan nyonya Vania" ucap pelayang itu.
Meli langsung menatap pelayan itu, "Apa kamu tau juga kisah cinta mereka?" tanya Meli penasaran.
"Tau semuanya nona, saya sudah bekerja 15 tahun bersama tuan Ariya" jawab pelayang itu menatap lurus ke depan, seolah-olah membayangkan kisah cinta tuannya.
Meli tidak bertanya lagi, dia masi duduk melamun di tempatnya.
"Nona sebaiknya istirahat, kalau terjadi apa-apa dengan calon pewaris wiraguna group, habislah aku yang sebagai pelayan pribadi nona" mohon pelayan itu.
"Apa kak Ariya sekejam itu" tanya Meli lagi.
"Lebih dari itu nona, sebelum kehadiran nyonya Vania dalam hidup tuan, beliau adalah pria yang arogan sangat dingin, bermain dengan wanita ke wanita lain dan tidak pernah menghargai wanita mana pun kecuali nyonya besar(Renata), dan tidak akan mengampuni siapa pun yang membuat kesalahan" ungkap pelayan itu panjang lebar, menjelaskan pada Meli.
Sekarang Meli berdiri dari tempatnya, "yah sudah, aku ke kamar dulu, aku jadi takut sama kak Ariya" gumam Meli dan berjalan pergi.
"Jangan takut nona, tuan Ariya tidak akan berani dengan calon ibu anaknya" teriak pelayan itu sambil tersenyum melihat punggung Meli.
__ADS_1
Ariya sedang berada di jalan raya, "Pak kita ke rumah sakit" perintah Ariya pada sopirnya sambil melepas kancing lengan baju kemejanya.
"Baik tuan" jawab sopir itu singkat.
Ariya ingin menemui dokter Susan, dokter psikiaternya untuk konsul penyakitnya.
Setelah sampai di rumah sakit terbesar di kota itu, Ariya langsung menuju keruangan dokter Susan, karena sudah janjian untuk bertemu.
Sekarang Ariya sudah berada di sofa dalam ruangan dokter Susan.
"Ada apa ini Ariya?, sudah lama sekali kamu tidak pernah menemui ku" tanya dokter Susan dengan santai.
"Penyakit ku, pernah kambuh lagi dok" ucap Ariya.
"Kok bisa Ariya?, coba cerita apa yang terjadi" tanya dokter Susan dengan menatap Ariya serius.
"Begini dok, aku berpikir untuk melepaskan Vania, karena aku tidak ingin egois menyakiti hati dua wanita sekaligus" ucap Ariya mencoba menjelaskan pada dokter Susan.
"Terus" tanya dokter Susan, sambil mengamati apa inti dari masalahnya.
"Karena aku merasa, yang paling tersakiti saat ini dan seterusnya adalah Vania, jadi aku ingin melepaskan Vania, tapi kenyataannya memikirkan Vania saja pergi dari sisiku, bisa mengguncang emosiku dok" ungkap Ariya menjelaskan semuanya.
"Tapi dok kenapa aku merasa, kalau aku juga mencintai Meli" ungkap Ariya masi di tempat duduknya.
"Apa kamu yakin kalau itu cinta Ariya?" interogasi Dokter Susan untuk memastikan perkembangan penyakit Ariya.
"Entahlah dok, aku juga tidak bisa memastikan itu, karena Meli mengandung anakku bisa saja rasa ini, cuma rasa tanggung jawab" jawab Ariya.
"Baik Ariya, sekarang aku bisa menyimpulkan lagi, di saat kamu merasa ada cinta dengan Meli, kamu memikirkan untuk melepaskan Vania agar dia bisa bahagia dan tidak terikat dengan pernikahan yang menyakitkan" tanya dokter Susan memastikan, dengan menatap ke dinding kaca di ruangannya.
"Kurang lebih seperti itu dok" jawab Ariya.
"Jadi kesimpulan terakhir adalah, tidak ada satu pun yang bisa mengantikan cintamu pada Vania di dalam hatimu, kecuali buah hatimu nanti" ucap Dokter Susan sambil menoleh pada Ariya.
"Jadi apa yang harus aku lakukan dok?" tanya Ariya lagi sambil berdiri menghadap dokter Susan.
"Jangan melakukan apa pun, sebelum bayi kamu lahir" saran Dokter Susan.
"Baik dokter Susan terma kasih, saya permisi dulu" pamit Ariya.
"Iya Ariya" ucap dokter Susan sambil mengangguk.
__ADS_1
Kemudian Ariya keluar dari ruangan dokter Susan, selanjutnya Ariya melangkah keluar rumah sakit dan masuk dalam mobilnya setelah sopir membuka pintu mobilnya.
Sementara di tempat lain, Vania sedang mengendarai mobilnya menuju danau buatan milik wiraguna group.
Vania berjalan di pinggir danau, Vania memang sering ke tempat itu jika ingin menenangkan diri, dan tempat itu juga menjadi pertemuan pertamanya dengan Ariya.
Vania sedang duduk di kursi yang ada di pinggir danau, memperhatikan air danau yang tenang, dengan rambut yang tertiup angin.
Tiba-tiba ada seorang pria duduk di sampingnya, Vania menolah ternyata Dani.
"Dani" panggil Vania. Dani hanya tersenyum.
"Kok kamu bisa di sini, jangan-jangan kamu segajah mengikuti ku?" tebak Vania sambil melihat ke arah Dani.
"Anggap saja instingku sebagai sahabatmu lagi berfungsi?, jadi aku ketempat ini" canda Dani.
"Ada apa Vania?, karena biasanya kalau kamu ke tempat ini, pasti ada masalah" tanya Dani, sambil duduk bersandar di kursi.
"Tidak ada kok Dan, aku kesini untuk menenangkan diri saja" jawab Vania.
"Vania kamu ingat gak, dulu setiap ada masa, pasti kamu ke danau ini dan berteriak sekencang-kencangnya?" Dani mengingatkan Vania.
"Terus pasti kamu akan datang untuk menghiburku dan memberiku semangat" sambung Vania.
"Dan ternyata, sangat mudah membuat Vania lestari terhibur, tinggal bawa ke pasar malam" lanjut Dani bercerita.
"hahaha... " Vania tertawa, "benar-benar".
keduanya pun tertawa lepas, bercerita masa lalu mereka yang konyol.
Tidak jauh dari tempat mereka duduk, berdiri lah Ariya di balik pohon memperhatikan Vania yang bisa tertawa lepas. Ariya tidak mendekati Vania, malah sebaliknya dia meniggalkan tempat itu.
Ternyata Dani melihat keberadaan Ariya dan kepergiannya, "Ada apa ini, kenapa Ariya membiarkan ku bersama istrinya" batin Dani.
Vania mengibaskan tangannya ke wajah Dani yang sedang melamun, "hei ada apa?" tegur Vania.
"Ti tidak Vania" jawab Dani.
"Yah sudah, aku pulan duluan" pamit Vania.
"Hati-hati di jalan Vania" ucap Dani, Vania hanya mengangguk kemudian berjalan pergi.
__ADS_1