
Elena mengikuti langkah Arvan dan duduk di meja Arvan, "Kamu masi menganggap aku anak kecil, lihat tubuh ku ini aku seorang model terkenal, bahkan semua pria di kota ini mengidolakan ku" ucap Elena manja.
"Tapi tidak denganku Elena" ungkap Arvan tampa melihat Elena.
"Arvan!!! ya udah aku pulang" ucap Elena ambil menghentakkan kakinya keluar ruangan Arvan.
Arvan menutup bukunya dan tersenyum sambil menggeleng melihat kepergian Elena, "Daah... hati-hati dijalan Elena" ucapnya.
"Iya ya" teriak Elena di balik pintu.
Elena mengendarai mobilnya menuju suatu tempat, Elena sampai di basecamp mereka berempat (Elena, Arvan, Andra dan aditya) sering berkumpul sejak SMP, tempat itu penuh dengan fasilitas mewah, mulai dari alat olahraga, tempat fitnes dan disertai pasilitas modeling Elena, karya seni Andra dan buku pelajaran bisnis Arvan dan aditya.
Elena melangkahkan kakinya masuk dengan malas, dia langsung duduk bersandar di sofa, di dalam sudah ada Andra dan Aditya.
"Ada apa lagi Elen? habis menemui pria dingin itu" sahut Aditya yang lagi baca buku.
"Sudah lah Elen, mending cari yang pasti-pasti aja" timpal Andra yang sedang melukis seseorang.
"Kalian tau Arvan itu masi menganggap aku anak kecil, dia tidak lihat aku model terkenal, yang di idolakan pria di kota ini" tutup Elena. Andra dan Aditya sama-sama tersenyum melihat sikap manja Elena.
Andra berdiri dari duduknya, dan mengusap rambut Elena sambil berbisik, "Sepertinya kamu harus menyerahkan dirimu, baru bisa meluluhkan hati pria dingin itu" kemudian berlalu pergi.
"Andraaa!!!" teriak Elena sambil melempar Andra dengan bantal sofa, tapi Andra menangkapnya.
"Elen, Adit aku pulang dulu" ucapnya dan meninggalkan tempat itu.
Setelah kepergian Andra, Elena berdiri melihat lukisan Andra, "Dit lihat, Andra sepertinya melukis seseorang?" ucapnya sambil mengamati lukisan yang belum jadi itu.
"Iya siapa lagi, dia kan paling senang melukis dirimu" jawab Aditya dengan santai.
"Ya juga sih" ucap Elena masi melihat lukisan itu.
Sementara itu Andra sedang mengendarai motonya, menelusuri jalan ibu kota, motornya tiba-tiba berhenti ketika ada seorang wanita menyebrang dengan terburu-buru.
Barang bawaan wanita itu semuanya berhamburan, Andra turun dari motor dan membatunya.
"Maaf yah kak, aku sedang terburu-buru" ucap wanita itu.
"Lain kali hati-hati, itu bisa membahayakan keselamatanmu" ucap Andra
"Kalau buru-buru biar aku antar bagai mana" ucap Andra lagi.
__ADS_1
Wanita itu nampak berfikir sejenak dan melihat jam yang ada di pergelangan nya, "Baik lah kak" jawabnya sambil mengangguk. dan mereka kemudian menuju tempat di mana wanita itu sebutkan.
Akhirnya mereka sudah sampai di salah satu kampus cukup terkenal di kota itu.
"Makasih yah kak" sambil memberi helem ke andra.
"Oh ya siapa namamu?" tanya Andra.
"NARA kak" jawab wanita itu singkat, sambil berlari masuk
Andra memperhatikan kepergian Nara sampai menghilang, kemudian mengendarai kembali motornya pergi.
********
Pesta ulang tahun pernikahan Ariya dan Vania akan di gelar, tentu di sana akan banyak pengusaha ternama dan beberapa selebriti.
Arvan, Andra, Elena dan Aditya sebagai anak konglomerat di kota itu, tidak akan ketinggalan memamerkan busana yang di kenakan.
Saat ini mereka berempat sedang berada di butik, salah satu desainer ternama milik prakasa group, yang di kelola putri sulungnya, ya bernama Selin.
"Apa! kak Selin tidak bisa mengurus busana kami" protes Elena pada kakaknya.
"Elena, kakak akan usahakan mendesain busana kalian, tapi untuk penjahitan nya akan aku serahkan pada orang kepercayaan ku" ucap Selin menjelaskan.
"Selamat sore buk Selin" ucap Nara.
Ke limanya menoleh dan tatapan Nara tertuju pada Andra, Andra pun masi ingat betul wajah Nara, gadis yang dia temui beberapa hari yang lalu.
"Eh Nara kamu sudah datang, kenalkan dia Nara, yang akan mengurus busana kalian" ucap Selin sambil mendekati Nara.
"Apa? gadis biasa ini yang akan mengurus busana kami, pokoknya aku tidak mau kak" ucap Elena dengan tegas, sambil melipat kedua tangannya di dadanya.
"Bagaimana dengan kalian, kalian setuju?" ucap Selin berpaling melihat Arvan, Andra dan Aditya, dan tidak mempedulikan ucapan adiknya.
"Aku setuju" sahut Arvan, sambil menatap Nara tampa berkedip.
"A aku juga setuju" sahut Elena, tiba-tiba setuju karena Arvan juga setuju.
Semuanya tersenyum kecuali Nara, melihat Elena tiba-tiba setuju karena mereka sudah tau, kalau Marvin setuju pasti Elena juga akan setuju.
"Kalau Arvan sudah setuju, kita mau bilang apa lagi" ucap Aditya.
__ADS_1
"Kalau aku kenapa tidak, lagi pula kami sudah saling mengenal sebelumnya" timpal Andra lalu mendekati Nara.
"Kalian kenal di mana kak" tanya Arvan.
"Beberapa hari yang lalu, kita pernah bertemu" jawab Andra.
"Baguslah kalau semuanya sudah setuju, aku bisa tenang dengan kepergian ku ke luar negri" ucap Selin.
Elena kemudian berjalan duduk ke di samping Arvan, "Arvan nanti temani aku belanja dong" rengek Elena.
"Kak Andra temani Elen belanja, bisa kan" ucap Arvan.
"Kak Andra lagi, bosan tau sama kak Andra mulu" protes Elena.
"Jangan sering bilang bosan Elin, lama-lama biasa cinta" sambung Andra.
"Kak Andra, kakak tau sendiri kan aku sangat mengagumi adik kamu, jadi mana mungkin aku bisa berpaling" ucap Elena sambil memeluk lengan Arvan, tapi Arvan biasa saja.
Nara yang sedang membantu Selin, diam-diam mendengarkan percakapan keempat sahabat itu.
"Mereka adalah sahabat sejak sekolah dasar" ucap Selin, di belakang Nara. Nara hanya mengangguk.
Keempat sahabat itu ingin bergegas pulang, langkahnya terhenti ketika ada yang memanggilnya.
"Hei kalian tunggu" panggil Nara dari belakang.
"Ada apa Nara?" tanya Andra.
"Aku belum punya nomor kalian, kalian pasti sibuk tidak biasa ke sini terus, biar aku yang datang ke tempat kalian" jawab Nara, sambil memberikan hpnya.
Ke empatnya pun menyimpan nomor mereka di kontak Nara, dan terakhir Andra yang menyimpan nomornya.
"Nara jangan lupa namaku Andra, nomor kamu juga sudak aku simpan" ucap Andra sambil memberikan hp Nara.
"Teruuus semua saja, cewek di gombal" sahut Elena.
"Kamu cemburu yah" tanya Andra sambil mengusap lembut rambut Elena.
Keempatnya pun sudah pulang dan Arvan tidak langsung pulang ke rumahnya, dia memang punya apartemen, jika ingin sendiri dia ke apartemennya.
Saat ini Arvan sedang duduk bersandar di sofa apartemennya, sambil memegang hpnya, dia melihat panggilan masuk dengan nomor tidak di kenal.
__ADS_1
Arvan kemudian menyimpan nomor tidak di kenal itu dengan nama "NARA", ternyata Arvan juga memanggil nomornya melalui nomor Nara tadi.
Saat ini Arvan sedang di kamar mandi dengan bertelanjang dada, tubuh Arvan tidak kala atletisnya dengan tubuh papahnya.