Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
KAMI TIDAK AKAN TUNANGAN


__ADS_3

Setelah makan malam selesai, Andra mengantar Elena pulang dan berhenti di sebuah tempat terbuka.


Andra dan Elena keluar mobil lalu berdiri di depan mobil, Elena melihat Andra yang dari tadi diam saja, tidak seperti biasanya.


"Kak Andra kenapa tadi diam saja, dan tidak berusaha menentang keputusan om Ariya" tanya Elena masi menatap Andra.


"Bukan kah ini yang kamu mau selama ini untuk memiliki Arvan di sisimu, mana mungkin aku menghancurkan impian wanita yang aku sayangi" jawab Andra tidak melihat Elena.


Elena memegang pipi Andra agar melihatnya, "Hei sayang kamu cemburu, saat ini aku tidak ada perasaan dengan Arvan" ucap Elena dengan nada lembut.


Andra melepas tangan Elena di pipinya, "Jangan coba merayuku Elena, bertahun-tahun kamu mengagumi Arvan dan dengan mudahnya mengatakan tidak punya rasa" ucap Andra dengan dingin.


"Kak Andra aku tidak tau harus mengatakan apa, tapi di hati ini cuma ada kak Andra" ucap Elena untuk meyakinkan Andra.


"Elena sekarang sudah larut, aku akan mengantar mu pulang" ajak Andra, kemudian menarik tangan Elena dan membukakan pintu mobil.


Selama perjalanan pulang tidak ada satu pun yang bicara, suasana begitu tegang, hingga mobil sudah sampai di halaman rumah Elena.


Setelah mengantar Elena pulang, Arvan langsung pulang kerumahnya, lebih tepatnya rumah mamahnya.


Di dalam kamarnya Andra sedang melukis wajah Meli. Setelah selesai, Andra menatap gambar mamahnya dengan sendu.


"Mah kembali lah, aku membutuhkan mamah" ucap Andra masi melihat lukisan Meli.


********


Keesokan harinya berita pertunangan antara Arvan dan Elena akan segera di gelar, sudah tersebar di berbagai media.


Berita terkait pertunangan model ternama Elena rosalin dengan Arvan wiraguna akan segera di gelar menghebohkan khalayak ramai, membuat berita yang viral tentang status kekasih Arvan menjadi tenggelam.


Nara yang sedang berada di butik bersama teman kerjanya, juga melihat kabar terbaru itu di TV, Nara langsung menjatuhkan kain di tangannya.


"Ini tidak mungkin" gumam Nara lalu berlari masuk toilet.


Nara melihat dirinya di cermin, "Kenapa aku sangat bodoh, bisa-bisanya aku terjebak dengan perasaanku sendiri" ucapnya sambil membasuh wajahnya.

__ADS_1


"Jangan bermimpi ingin di nikahi Arvan, dia hanya menjadikanmu mainannya" sahut teman kerjanya yang tiba-tiba berdiri di belakang nya.


Nara tidak menghiraukan ucapan temannya, karena dia juga tidak menyangkan dengan semua yang terjadi.


Nara kemudian izin pulang karena alasan kurang enak badan, setelah sampai di apartemen Avan dia langsung berbaring di atas ranjang.


"kenapa aku harus bersedih, bukankah sudah ku sadari hal ini akan terjadi" ucap Nara lalu menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan.


Tiba-tiba bel apartemen Arvan berbunyi, Nara segera keluar kamarnya.


"Siap yah, kalau kak Arvan kan biasanya langsung masuk" ucapnya sambil berjalan membuka pintu.


Setelah pintu di buka, berdirilah Andra di balik pintu, dan keduanya sama-sama kaget.


"Nara kamu tinggal di sini?" tanya Andra.


"Kak Andra masuk dulu, nanti aku jelaskan" jawab Nara sambil menarik lengan Andra untuk masuk.


Andra akhirnya duduk di sofa dan menunggu penjelasan dari Nara, sambil menatap Nara penuh tanda tanya.


"Ayo katakan Nara sejak kapan kamu tinggal dini?" tanya Andra.


"Kenapa diam saja Nara, jangan sampai aku berfikir tidak-tidak padamu" tanya Andra yang kedua kalinya.


"Sepertinya saat ini tidak penting lagi mengetahui, kenapa aku tinggal di sini, lagi pula kak Arvan akan segera bertunangan" ucap Nara tidak berani menatap mata Andra.


"Sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu padaku, sungguh kamu benar-benar penuh misteri Nara" ucap Andra.


"Sayang aku datang" panggil Arvan yang tiba-tiba datang dari pintu. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat Andra sedang duduk di ruang tamu.


"Arvan akhirnya kamu datang" ucap Andra sambil berdiri.


"Kak Andra di sini, kebetulan aku ingin bicara" sambung Arvan.


"Tapi aku ini bicara berdua denganmu" ucap Andra sambil melirik Nara.

__ADS_1


"Kak Arvan, kak Andra, aku ke kamar saja" ucap Nara.


"Nara kamu tidak perlu ke mana-mana" ucap Arvan sambil berjalan duduk di samping Nara.


"Tapi Van, aku tidak ingin ada orang lain mendengar percakapan kita" ucap Andra.


"Kak Andra, Nara bukan orang lain, dia pacarku" ucap Arvan dengan tegas.


"Dengan tegas kamu mengatakan Nara pacarmu, tapi apa yang akan kamu lakukan dengan pertunangan kamu dengan Elena" ucap Andra menambah satu oktaf suaranya.


"Kami tidak akan tunangan" ucap Avan dengan santai sambil berdiri.


"Tidak ingin tunangan, sedangkan berita di luar sana tidak bisa kamu redam, kamu ingin mempermalukan Elena dan melukai hati Nara" ucap Andra masi dengan nada tinggi.


"Jaga ucapan mu kak, aku dari tadi berusaha untuk tenang, semua ini tidak akan terjadi kalau kak Andra ingin sedikit saja berjuang, untuk wanita yang kakak puja selama ini" jelas Arvan dengan tegas.


"Apa yang harus ku lakukan Van" tanya Andra memelankan ucapannya.


"Datang ke perusahaan, dan menduduki jabatan kak Andra, aku yakin perjodohan ini akan di tujukan padamu" ungkap Arvan.


"Aku akan membantu, tapi bukan terjun ke perusahaan" ucap Andra kemudian meninggalkan Apartemen Arvan.


Nara yang dari tadi mendengar perdebatan dua saudara itu tidak belum berani bicara, di masi duduk di tempatnya.


Setelah kepergian Andra, Arvan menoleh ke pada Nara, "Sayang kamu jangan dengarkan berita yang beredar di luar sana" ucap Arvan sambil memegang kedua pundak Nara.


"Kak Arvan, aku sudah menduga semua ini akan terjadi, kak Arvan dan kak Andra adalah bintang yang hanya bisa di lihat tapi tidak mungkin di gapai, bagai rakyat jelata seperti kami" ungkap Nara.


"Sayang tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, selagi kita ingin berusaha" sambung Arvan sambil memeluk Nara.


Tapi Nara melepas pelukan Arvan, "Tidak kak, terima lah pertunangan ini, lagi pula Elena sangat mengagumimu dan seiring berjalannya waktu kak Arvan pasti akan membuka hati" ucap Nara dengan mata berkaca-kaca.


"Nara jangan berfikir seperti itu, dengar yah, aku janji pada mu tidak akan menikah dengan Elena" ucap Arvan.


Nara hanya diam, dia tidak yakin dengan apa yang di janjikan Arvan.

__ADS_1


"Sekarang kamu istirahat dan jangan berfikir macam-macam, aku akan pergi menyelesaikan semua ini" sambung Arvan, kemudian pergi meninggalkan apartemennya.


Setelah kepergian Arvan, Nara masi duduk di tempatnya, "Nara jangan berharap lebih dan bermimpi terlalu tinggi, kalau jatuh pasti akan sangat sakit" ucap Nara untuk menyemangati dirinya sendiri.


__ADS_2