
Setelah mendengar pertanyaan Nara, Andra menarik nafasnya kasar.
Kemudian Nara menoleh melihat Andra dan menunggu jawabannya.
Andra kemudian berdiri dan melepas jasnya lalu memakaikan pada bahu Nara, "Di luar dingin" ucap Andra dan kembali duduk di samping Nara, membuat Nara menunduk.
"Kamu benar Nara, aku merindukan mamahku, beliau tinggal di luar negri" baru Andra menjawab pertanyaan Nara.
"Kenapa bukan kak Andra yang menemui beliau?" ucap Nara.
"Tidak Nara, beliau selalu berpesan untuk menjaga Arvan, jangan bertengkar dengan Arvan dan selalu mengalah untuk Arvan, itu lah yang selalu di ucapkan beliau" curhat Andra.
Entah apa yang membuat Andra nyaman curhat dengan Nara, bahkan dari awal setiap bertemu Nara, selalu saja curhat.
"Apa kah itu sebabnya, bertahun-tahun kak Andra memendam perasaan dengan Elena, karena kamu tau Elena mengagumi Arvan" ungkap Nara.
Andra langsung menatap tajam pada Nara, "Dari mana kamu tau semua itu?" tanya Andra.
"Di sini dingin, kita masuk saja" ucap Nara mengalihkan pertanyaan Andra.
Nara kemudian ingin berdiri untuk masuk, secepatnya Andra menarik tangannya kembali duduk.
"Siapa yang mengatakan semua itu Nara?" tanya Andra, "Arvan sudah cerita kalau awal hubungan kalian, hanyalah setingan" sambung Andra.
"Harus aku akui kalian memang saudara yang saling menyayangi, meski saling menyakiti tetap saja tidak ada yang dendam" ucap Nara.
"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan Nara, katakan siapa yang mengatakannya?" sambil menatap Nara.
"Arvan yang mengatakannya" jawab Nara.
"Jadi selama ini Arvan menolak Elena, itu semua karena aku menyukai Elena juga" tebak Andra.
"Katanya seperti itu" ucap Nara.
"Dasar bodoh, kamu sudah tau semuanya dan masi mau pacaran dengan Arvan" sambil memencet hidung Nara.
"Maksud kak Arvan apa?" tanya Nara tidak mengerti.
"Itu artinya Arvan juga menyukai Elena, dia menolak Elena karena aku" jelas Andra. Tapi Nara belum bisa mengerti.
"Apa Arvan pernah mengatakan tidak menyukai Elena?" sambung Andra, Nara menggeleng.
"Itu artinya, Arvan berusaha membuka hati padamu karena dia mengagumimu" jelas Andra.
"Jadi kak Arvan hanya menjadikanku pelarian" ucap Nara sambil berdiri.
"Tidak begitu juga Nara" jelas Andra dan ikut berdiri di samping Nara.
Nara diam saja, dia terlanjur berfikir kalau Arvan hanya menjadikannya pelarian.
__ADS_1
"Yah sudah Nara masuk lah, aku pulang dulu" pamit Andra.
"Hati-hati di jalan kak" pesan Nara.
"Siap" jawab Andra singkat, kemudian mengendarai motornya pulang.
********
Siang hari di perusahaan wiraguna group, Avan sedang berada di ruangan Andra untuk menjelaskan rencana ke depan di perusahaan.
"Kak Andra, kalau semuanya sudah jelas aku permisi dulu" ucap Arvan.
"Tunggu Arvan" sahut Andra.
"Ada apa, masi ada yang kurang jelas?" tanya Arvan.
Andra berdiri dan mendekati Arvan, "Kalau aku ingin menjaga Nara untuk selamanya, apa kamu keberatan?" tanya Andra dengan berbisik di telinga Arvan.
"Andra jangan gila, Nara itu wanita yang polos jangan melibatkan dia dalam hubung yang rumit ini" protes Arvan.
"Bukan aku yang melibatkan Nara, tapi kamu sendiri. Mengunakan gadis polos seperti Nara, untuk menyembunyikan perasaan pada wanita yang di kagumi kakaknya, itu adalah tindakan yang keliru" sindir Andra, membuat Arvan menatap tajam kakaknya.
"Stop kak jangan di bahas lagi, aku melakukan semua itu agar kejadian 20 tahun yang lalu tidak terulang" ungkap Arvan menaikkan satu oktaf suaranya.
"Itu lah sebabnya aku ingin menikahi Nara, agar sejarah tidak terulang lagi" ucap Andra.
"Jangan pernah menikahi Nara, kalau tidak ada ketulusan di hatimu, karena itu sama saja menaburi garam di atas lukanya" ucap Arvan.
"Kak Andra kamu harus tau Nara sangat mengagumi dirimu, itu lah sebabnya aku memilih Nara sebagai pacar setingan ku" ungkap Arvan supaya tidak bertindak lebih.
"Apa? Nara awalnya benar mengagumi ku" tanya Andra terkejut.
"Awalnya rencana ku berjalan dengan baik, kak Andra akhirnya pacaran dengan Elena, tapi tragedi malam itu menghancurkan semuanya" sambung Arvan.
Andra tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena yang dikatakan Arvan adalah kenyatannya memang begitu dan keduanya tidak berdebat lagi.
Arvan kemudikan mobilnya menuju butik Selin, sesampainya di sana Arvan langsung menemui Nara yang sedang sibuk bekerja.
"Apa kabar Nara" panggil Andra setelah berada di belakang Nara.
Nara yang mengenali suara Arvan langsung membeku, dia belum menoleh.
Arvan berjalan ke samping Nara, dan duduk di sofa, "Sepertinya kamu masi marah padaku" ucap Arvan lagi.
Nara menarik nafasnya dan menoleh melihat Arvan, "Kak Arvan sebaiknya jangan mengganggu aku lagi" ucap Arvan.
"Aku di sini untuk menyampaikan sesuatu" ucapnya sambil berdiri di dekat Nara.
"Katakan dan secepatnya pergi dari sini" ucap Nara tidak melihat Arvan.
__ADS_1
"Nara jangan salah lagi dalam memilih pasangan hidup, kamu adalah wanita yang kuat" ucap Arvan dengan serius.
Nara mengangguk dengan mata berkaca-kaca karena terharu, mendengar perkataan Arvan.
"Aku berharap suatu hari nanti kamu bisa sukses dan menggapai impianmu" ucap Arvan dan berlalu meninggalkan Nara.
Setelah kepergian Arvan, Nara masi berdiri di tempatnya.
"Hemmm...." suara seorang pria dari belakang.
"Kak Arvan kamu kembali lagi" ucap Nara terhenti saat melihat yang datang.
"Hai" ucap pria itu.
"Kak Aditya, ada apa?" tanya Nara sambil nyengir.
"Aku ingin bicara denganmu, tapi tempat ini tidak tepat, bisa ikut denganku makan siang" ajak Aditya. Nara mengangguk mengiyakan ajakan Aditya.
Setelah sampai di restoran, Aditya dan Nara sedang menikmati makan siang.
"Sebenarnya aku penasaran pada mu Nara" ucap Aditya.
Nara menghentikan makannya, "Ada apa denganku?".
"Kamu adalah gadis pertama yang bisa menggoyahkan hati seorang Arvan wiraguna, dan setelah Elena kamu adalah gadis kedua yang di perhatikan Andra wiraguna" terang Aditya.
Nara tersenyum, "Aku hanya gadis biasa yang bermimpi jadi orang yang sukses nantinya".
"Hubungan kalian sangat rumit, bisa di bilang cinta segi empat" sambung aditya.
Tiba-tiba Andra datang dan langsung duduk di samping Nara, "Jangan ganggu gadis ini, dia masi polos" ucap Andra pada sahabatnya.
"Nara minggu ini ada acara?" tanya Andra.
"Sepertinya tidak ada, ada apa kak" jawab Nara sambil makan.
Andra kemudian memberikan undangan pernikahan Arvan dan Elena.
"Aku akan datang" sambil mengambil undangan itu dengan santai.
"Benar-benar gadis yang luar biasa, sanggup menghadiri pernikahan mantan sendiri" puji Aditya.
"Bukannya apa kak, biar kak Andra ada temannya" ucap Nara pada Aditya. Kemudian ketiganya tertawa bersama.
"Kalau di lihat sepertinya kalian cocok" ucap Aditya pada Andra dan Nara.
"Aku juga merasakan itu" sambung Andra membenarkan ucapan Aditya.
Ucapan kedua pria di depannya membuat Nara salah tingkah, "Kalau begitu aku kembali ke butik dulu" ucap Nara sambil berdiri.
__ADS_1
"Aku antar Nara?" sahut Andra kemudian ikut berdiri.
"Baik kak" jawab Nara, kemudian mereka berangkat, sedangkan Aditya masi di tempatnya.