Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
AKU JANJI ARIYA


__ADS_3

"Kenalkan tante saya Meli dan tante pasti mamahnya kak Vania habisnya tante kelihatan baik" ucap Meli memperkenalkan dirinya.


"Kok kamu bisa yakin kalau aku mamahnya Vania" tanya Renata sambil duduk.


"Soalnya apa tante, kak Ariya itu dingin banget kaya kulkas dua pintu, terus dia itu percaya diri banget" jawab Meli dengan polos.


Renata mengerutkan dahinya melihat Vania, "Iya mah, meli ini memang sering mengatakan Ariya itu pria dingin, mamah tau sendiri kan wataknya Ariya seperti apa" ucap Vania kemudian melihat Meli.


Meli sekarang bingu, "Jadi tante ini mamahnya kak Ariya" tanya Vania.


"Iya Mel, beliu ini mamah Renata adalah mamahnya Ariya" jawab Vania sambil tersenyum.


"Maaf yah tante, aku gak ada maksud gimana-gimana tapi aku mengatakan yang sebenarnya" ucap Meli dengan menunduk.


Renata kemudian melihat tingkah polos Meli, "Kamu lucu sekali, berapa umurmu?" tanya Renata sambil memegang pundak Meli.


"19 tante" jawab Meli, kemudian berucap, "Kak Vania tante Renata, aku berangkat ke kampus dulu" sambil mencium pipih Vania dan beralih salim dan mencium tangan Renata.


"Iya Meli, hati-hati di jalan" ucap Vania.


"Iya kak" sambil meninggalkan meja makan.


Renata masi memperhatikan kepergian Meli, "Kelihatanya dia anak yang baik" ucapnya.


Vania melihat mertuanya, "Iya mah, dia anak yang baik, itu lah kami membiayai kuliahnya supaya hidupnya tidak hancur" ungkap Vania.


"Maksud kamu apa Vania?" tanya Renata bingung.


"Pada suatu malam Ariya membawanya ke rumah ini, karena Meli bersembunyi di mobilnya, sebab Meli ingin di jual oleh ayah angkatnya. Karena saya melihat anak itu baik jadi aku menyuruh Ariya menebusnya pada ayah angkatnya, karena aku tidak mau Meli bernasib sama denganku" jawab Vania menjelaskan pada mertuanya.


"Jadi Ariya yang membawanya kesini" tanya Renata lagi.


"Iya mah" jawab Vania.


"Kamu tidak sadar Vania, kalau takdir yang membawa gadis itu ke rumah ini" ucap Renata.


"Maksud mamah" tanya Vania.


"Maafkan mamah, tapi dia cocok jadi istri Ariya, sudah lama kan kita mencari wanita yang tepat" jelas Renata.

__ADS_1


Vania menahan Air matanya supaya tidak jatuh, dengan suara bergetar, "Tapi mah Meli sudah aku anggap adik aku sendiri" ucap Vania.


"oleh sebab itu Vania, mamah bilang cocok karena kenmistri kalian cocok jadi kamu bisa menyayangi anak Meli nantinya" ucap Renata meyakinkan Vania.


"Mamah benar, kita harus bicarakan pada Ariya" sambil meneteskan air matanya yang dari tadi di tahan.


Renata menggenggam tangan Vania, "Kamu yang sabar" Ucap Renata.


Malam hari telah tiba, makan malam sudah selesai, sekarang Meli sedang ada di kamarnya. Sedangkan Ariya dan Vania juga Renata sedang ada di ruang keluarga.


Ariya sedang membuka leptopnya, "Tunggu dulu Ariya, mamah ingin bicara" tahan Renata.


Ariya kembali menutup leptopnya, "Iya mah, ada apa?" tanya Ariya.


"Begini Ariya kami sudah mendapatkan wanita yang tepat menjadi ibu dari anakmu" ucap renata dengan wajah serius.


Ariya tidak menjawab, dia langsung menatap tajam Vania tampa berkedip, Vania yang di tatap cuma menunduk tidak berani melihat Ariya.


Renata melanjutkan ucapanya "Wanita itu adalah Meli, mamah yakin dia wanita yang cocok jadi ibu dari anakmu".


Ariya masi belum bersuara, tatapannya masi tertuju pada istrinya, tapi Vania belum berani melihat Ariya.


"Iya sudah mamah pergi dulu" ucap Renata kemudian pergi dari rumah putranya.


Setelah ke pergian Renata, Ariya menarik tangan Vania naik ke kamarnya, dengan menutup pintu dengan kasar lalu menguncinya dari dalam.


Kemudian Ariya mendekati Vania, Vania berjalan mundur belum berani menatap Ariya, hingga akhirnya Vania tersudutkan di dinding, Ariya kemudian berhenti berjalan dan menahan satu tangannya di tembok.


"Vania apa kamu yakin ingin menghadirkan wanita lain di antara kita" ucap Ariya dengan nada berat.


"Iya Ariya" jawab Vania masi menunduk dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Ariya mengangkat dagu Vania untuk menatapnya, tapi Vania memalingkan pandanganya dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu bohong Vania, mulut dan mata kamu berbeda" ucap Ariya dengan lantang.


Sekarang Vania benar-benar menangis, "Ariya tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang rela cintanya di bagi, tapi asal kamu tau kadang ke adaan dan takdir yang membuat kami harus menerimanya" ucap Vania di sela tangisnya.


Ariya melepaskan Vania dan mengusap rambutnya prustasi, "haaaee" sambil meninju tembok hingga tangannya mengeluarkan dara.

__ADS_1


Vania melihat tangan Ariya berdarah dia segera mengambil obat p3k, dan menarik lengan Ariya untuk duduk di ranjang, kemudian berlutut untuk mengobati luka suaminya.


Ariya mengalihkan pandangannya tidak ingin melihat perhatian Vania.


Vania mengobati luka Ariya hanya diam, tapi air matanya terus menetes. Ariya tidak tega melihat Vania menangis, setelah Vania selesai mengobati luka Ariya, Ariya mengangkat bahu Vania untuk duduk di sampingnya.


"Dengar sayang, apa pun yang terjadi ke depannya jangan pernah berfikir untuk meninggalkanku. Asal kamu tau andai aku di suruh memilih, terlahir dari keluarga wiraguna atau rakyat biasa , aku akan memilih jadi rakyat biasa supaya aku tidak perlu pewaris" ungkap Ariya panjang lebar.


"Aku janji Ariya, aku tidak akan meninggalkanmu" balas Vania.


Sekarang ke duanya sudah tenang dan sudah bisa mengontrol emosinya masing-masing, mereka duduk bersandar di ranjang dan Vania menyandarkan kepalanya di lengan Ariya.


"Kenapa harus Meli" tanya Ariya tiba-tiba.


Vania melihat Ariya "Karena kata mamah, meli adalah gadis yang baik" jawab Vania.


"Kamu yakin memilih gadis menyebalkan itu?" ucap Ariya.


"Jangan terlalu membencinya, lama-lama bisa cinta loh" ledek Vania.


"Apa katamu" ucap Ariya kemudian menggelitik Vania.


Vania tertawa mandja karena kegelian, hingga bangkit ke lelakian Ariya kemudian mengukung Vania di bawanya, "Sekarang kamu harus dapat hukuman karena berani meledek aku" tutur Ariya.


"Ampun sayang ak...." bela Vania, ucapannya terpotong ketika Ariya mencium bibirnya dengan lembut dan akhirnya tangan Ariya sudah menjalar di mana-mana.


Tidak terasa mereka sudah sama-sama polos, dan kembali melakukan penyatuan, hingga akhirnya sampai juga di puncak permainan, mereka sudah berkeringat hingga d*sahan panjang keluar dari mulut ke duanya, akhirnya mereka melakukan pelepasan. Keduanya merasa lelah dan tertidur.


********


Hari minggu telah tiba, Vania dan Ariya sedang berenang di kolam berenang, dari Arah dapur meli datang membawa 3 gelas es jeruk, "Kak Vania kak Ariya, minum lah dulu" panggil Meli.


Ariya dan Vania naik dari kolam dan memakai jubah mandi, kemudian mereka duduk di satu meja yang sama.


"Tumben banget kak Vania dan kak Ariya tidak keluar, biasanya hari minggu kalian menghabiskan waktu bersama?" tanya Meli.


Vania kemudian melihat Ariya, Ariya cuma membalas dengan mengangguk pelan, "Karena nanti kami ingin bicara denganmu" ucap Vania.


"Bicara apa kak Vania, kelihatanya serius banget" tanya Meli sambil meminum jusnya.

__ADS_1


"Nanti juga kamu tau semuanya" jawab Vania.


__ADS_2