Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
DOKTER PSIKIATER


__ADS_3

Ariya mendekati Vania dan memegang kedua lengannya Vania dengan lembut, "Dengar Vania aku memang salah dan aku minta maaf atas semuanya" dan melepaskan lengan Vania karena melihat Vania sudah tenang dan sepertinya ingin mendengarkan penjelasanya.


"Kamu tau Vania setelah utusanku selesai waktu itu aku ingin pelang secepatnya, tapi aku menyadari kekuasaan ku tidak sebesar sekarang. Meski pun aku pulang saat itu kamu tetap tidak ingin menikah denganku karena status sosial yang berbeda, jadi aku putus kan tinggal di luar negri dan memperluas kekuasaan ku. Sekarang aku datang Vania, dengan kekuasaan sangat besar dan tidak akan ada lagi yang bisa menjatuhkan ku cuma karena masalah pribadi". Ariya menjelaskan kepada Vania panjang lebar.


"Iyya Ariya kamu memiliki kekuasaan yang sangat besar saat ini, tapi tidak dengan hati ini" ucap Vania memegang dadanya.


"Vania aku mohon maafkan aku, kamu jangan keras kepala, aku bisa mati tampa mu" sambil memegang tangan Vania.


"Kamu bohong Ariya, buktinya 8 tahu berlalu kamu baik-baik saja" sambil melepaskan genggaman tangan Ariya.


"Ariya kalau semuanya sudah kamu katakan sebaiknya kamu pulang, karena aku ada janji bertemu seseorang" ucapnya berbohong dan membuka pintu apartemen untuk Ariya.


Setelah kepergian Ariya, Vania duduk menangis di lantai dengan memegang kalung pemberian Ariya, "Ariya kenapa kamu kembali dan memberiku harapan lagi" di selah tangisnya.


Ariya sedang ada di salah satu klub malam, saat ini Ariya sedang mabuk berat, bahkan sekertaris nya tidak bisa menghentikannya untuk berhenti minum.


Yuda kemudian menghubungi Vania, "Hallo nona Vania ini saya yuda, kamu bisa datang di klub (...). sekarang pak Ariya tidak terkendali dia tidak pernah begini sebelumnya" ucap yuda, tidak ada jawaban dari sebrang telpon. Ternyata Vania mematikan sambungan telponnya.


Sekarang kondisi Ariya sangat mabuk berat, Yuda sudah kualahan menangani bosnya, tiba-tiba Vania datang.


"Ariya hentikan" sambil memapah tubuh Ariya. samar-samar Ariya menyadari kehadiran Vania dan menghentikan minumnya.


Kondisi Ariya sekarang benar-benar mabuk berat, "Pak Yuda mari kita antar Ariya kerumahnya" ucap Vania. yuda membawa Ariya ke mobil, sedangkan Vania membawa mobil sendiri.


Ketiganya sudah sampai di rumah Ariya dan membaringkan Ariya di tempat tidurnya.


"Pak Yuda sebaiknya anda pulang saja biar aku yang menemani Ariya" sambil menyelimuti Ariya.


"Baik lah nona saya pamit dulu" kemudian meninggalkan kamar Ariya.


"Ternyata nona Vania masi peduli dengan tuan Ariya" ucapnya ketika di depan pintu kamar.


Sekarang tinggal Vania dan Ariya di kamar itu, Ariya sedang tertidur, sedangkan Vania duduk di samping Ariya.


"Ini sangat lucu, di tempat ini Ariya meninggalkanku sendiri, di mana aku benar-benar hancur saat itu dan 8 tahun berlalu aku di tempat ini lagi bersama Ariya, takdir benar-benar mempermainkan ku" sambil menatap Ariya.


Vania berdiri menuju sofa, dan melihat sekeliling, "Di kamar ini tidak ada foto siapa-siapa, berarti benar Ariya belum menikah sampai sekarang" sambil duduk di sofa.

__ADS_1


Sekarang pagi telah tiba, Ariya lebih dulu bangun dan memegang kepalanya yang masi sedikit pusing dan melihat Vania tidur di sofa.


Ariya tersenyum melihat Vania, "Ternyata semalam aku tidak mimpi, dia benar-benar datang dan menjagaku semalaman, berarti dia masi peduli denganku" lalu berdiri mendekati Vania.


Ariya berjongkok di depan wajah Vania dan mengecup bibir Vania, "ini tidak salah, aku benar-benar merindukanya" batinya, kemudian melangkah ke luar kamar.


Vania sudah bangun dan melihat Ariya tidak ada di tempat tidur, "Dia sudah bangun, kemana dia?" sambil berdiri.


Tiba-tiba pintu kamar di buka oleh Ariya, "Pagi Vania, kamu sudah bangun?" tanya Ariya, dengan memegang makanan di tangannya.


Vania masi berdiri di tempatnya, "Pagi juga Ariya, sebaiknya aku pulang" dengan sedikit kikuk.


Ariya secepatnya menyimpan makanan di atas meja sofa dan buru-buru menahan tangan Vania supaya tidak pergi. "Maaf Vania, duduk lah dulu kita bicara".


Setelah keduanya mencuci muka, keduanya sudah duduk di sofa kamar Ariya.


"Vania terima kasi untuk semalam dan kamu juga mau menjagaku semalaman", ucap Ariya sambil meminum jus jeruk supaya rasa pusing di kepalanya hilang.


"Itu tidak seberapa Ariya, itu cuma bentuk kemanusiaan" sambil memakan roti yang di bawa Ariya tadi.


"Vania aku tidak akan memaksa kamu lagi, untuk kembali padaku, tapi bisa kah kita berteman?" sambil melihat Vania dan tersenyum sangat manis. wajah arogan yang terlihat saat di kantor, semua berubah sangat manis di hadapan Vania.


Setelah kepergian Vania, Ariya menghubungi seseorang, "Jallo dok, kita bisa bertemu hari ini" dan menutup telponnya.


*Ariya sedang menelpon dokter psikiater. Selama meninggalkan Vania malam itu, Ariya harus konsultasi ke dokter pisikiater karena Ariya tidak bisa mengontrol dirinya, jika dirinya sangat bersedih. Itu semua bermula 8 tahun yang lalu ketika harus meniggalkan Vania dan harus menanggung rasa sakit karena berpisah dengan Vania.


Ariya sudah sampai di rumah sakit dan bertemu dokter psikiaternya, yang bernama dokter SUSAN, yang berumur 34 tahun.


"Bagai mana dok, apa aku harus meminum obat lagi" tanya Ariya ke pada dokter Susan.


"sepertinya Tidak perlu Ariya, cukup kamu melihat Vania. Itu adalah obat paling ampuh untuk masalahmu" ucap dokter Susan menjelaskan. Kemudian mereka berjalan keluar.


Karena Ariya dan Susan bukan sekedar dokter dan pasien, mereka adalah teman jadi sangat akrab.


Di rumah sakit yang sama, Vania , Elina dan Revan sedang ke dokter kandungan karena Elina sedang tidak enak badan, Vania juga ikut menemani Elina, karena Elina yang memintanya.


Hasilnya pun keluar Elina di nyatakan positif hamil, "Sayang selamat yah kita akan punya anak lagi" ucap Revan sambil memeluk istrinya, "Iya pah kita akan punya anak lagi" terus membalas pelukan suaminya.

__ADS_1


"hemmm.... kalian tidak sadar kalau ada jomblo disini" ucap Vania dan ke duanya melihat Vania kemudian mereka tertawa.


"Selamat yah untuk kalian berdua" sambung Vania.


"Oh yah aku ke toilet dulu, tolong pegangin ini" ucap Elina pada Vania sambil memberikan kertas hasil tes kehamilannya, Vania mengambil kertas tersebut.


"Pergilah sayang, kami tunggu di parkiran" sambung Revan pada Elina.


Dari arah depan juga ada Ariya dan dokter Susan, sedang berjalan ke arah Vania dan Revan.


Karena terlalu banyak orang Vania dan Ariya bertabrakan, hingga kertas di tangan Vania jatuh pas di kaki Ariya.


Ariya mengambil kertas tersebut dan sempat membaca hasil positifnya, karena kertas itu terlipat jadi Ariya tidak melihat namanya, jadi Ariya mengira hasil tes itu milik Vania.


Ariya melihat kertas itu dan beralih melihat Vania dan Revan bergantian cukup lama, "Apa mereka punya hubungan" batinnya.


Ariya mengembalikan kertas itu ke pada Vania dan berusaha menyembunyikan perasaanya, "Oh pak Revan, kebetulan sekali yah kita bertemu di sini, apa lagi bersama sekertaris Vania" sindir Ariya.


"Iya pak Ariya ini sangat kebetulan" sambung Revan.


Revan dan Vania melihat dokter Susan, "Oh ya kenalkan ini teman saya dokter Susan dan dokter Susan dia Revan dan Vania", ucap Ariya memperkenalkan dokter Susan.


Revan dan Vania mengulurkan tangannya "Revan" "Vania" ucap ke duanya.


"Ya sudah pak Revan kami harus duluan", sambil berlalu dari Vania dan Revan. Revan dan Vania cuma mengangguk.


"Oh yah pak Revan sekali lagi selamat atas kehamilan Elina lagi" berusaha menyembunyikan perasaan sedihnya.


"Iya Vania, sepertinya pak Ariya salah faham tentang hasil tes itu" sambil berjalan.


"itu akan lebih muda untuknya.." ucap Vania menggantung. Tapi Revan tidak terlalu mempedulikannya, biarlah menjadi prifasi Vania.


Ariya dan dokter Susan masi berjalan bersama, tapi tempat yang di lalui tidak banyak orang.


"Ariya itu lah yang aku bilang tadi, kamu tidak perlu obat" ucap dokter Susan.


"Maksudnya" tanya Ariya heran.

__ADS_1


"Aku melihatnya sendiri tadi, meski kamu terpukul melihat hasil tes itu, tapi kamu bisa mengontrol diri karena cuma melihat Vania" lanjut dokter Susan.


__ADS_2