
*Negara di mana Vania berada*
Beberapa saat setelah Vania janjian dengan Dani, Vania tiba-tiba menyenggol foto Ariya di atas meja, "Astaga kenapa aku bisa seceroboh ini sih" sambil memegang dadanya "Kok sakit banget sih"
Tiba-tiba hp Vania berbunyi, dia berdiri untuk mengangkatnya, "Hay Vania, aku sudah sampai, aku sudah ada di bawa" ucap Dani di layar hp Vania.
"Baik, tunggu yah Dan" ucap Vania sambil mematikan sambungan video.
Vania sudah sampai di bawa, "Hey Dania" sapa Vania.
"Ayo, langsung saja kita berangkat" ucap Dani sambil membukakan pintu mobil untuk Vania.
"Oke makasih loh, udah repot-repot jemput" sambung Vania dan masuk dalam mobil, di susul Dani masuk di samping Vania.
"Dalam sahabat tidak mengenal kata terima kasih Vania, kamu harus ingat itu" ucap Dani setelah duduk di samping Vania.
"Oke kita mau kemana?" tanya Vania.
"Di manapun nyonya wiraguna mau pergi, aku siap mengantar" ucap Dani dengan gayanya yang humoris. Vania hanya tersenyum dan menyenggol lengan Dani.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan mereka, menikmati jalan-jalan dan foto-toto sambil membeli makanan yang ada di jual di tempat itu, mereka cukup lama berkeliling sambil bercanda karena Dani selalu membuat Vania tersenyum dan tertawa, tidak bedah jauh 10 tahun yang lalu saat mereka sering bersama .
Saat ini mereka berjalan menikmati ice cream, "Vania dalam rangka apa kamu ke negara ini" tanya Dani sambil menatap Vania.
"Aku datang untuk pengobatan mamah Ariya yaitu nyonya Renata" jawab Vania sambil menikmati ice cream nya. Dani cuma mengangguk.
Tiba-tiba hp Dani bergetar, Dani mengangkatnya munculah wajah Amanda(anak Dani) di layar hpnya, "Hallo papah" ucap gadis itu.
"Halo juga putri manis ku, kamu mau tau papah lagi sama siapa" sambil mengarahkan kamera di wajah Vania.
"Tante cantik" seru Amanda.
__ADS_1
"hai sayang" ucap Vania sambil melambaikan tangannya ke kamera, "Pulang dari sini tante akan berkunjung di tempat kamu" sambung Vania.
"Tante cantik janji yah" ucap Amanda di lanjutkan bercanda mereka bertiga dan akhirnya Dani mengakhiri sambungan telepon.
Setelah bicara dengan Amanda,Vania tersenyum memandang ke depan, Dani melihat Vania yang kelihatannya tersenyum bahagia, "Vania semoga secepatnya kamu dan Ariya bisa di beri anak yang lucu-lucu" ucap Dani.
"Itu tidak mungkin Dan" jawab Vania sambil tertawa getir.
"Apa maksud kamu" tanya Dani masi menatap Vania.
Vania mengigit bibir bawanya dan mengedip-mengedipkan matanya agar air matanya tidak jatuh. Vania berdiri untuk menghindari Dani tapi air mata yang susah paya di pertahankan akhirnya jatuh, "Aku mandul" jawab Vania dengan nada sendu.
Dani berdiri dan memberi sapu tangan, Vania melihat Dani langsung tersenyum, "Aku jadi malu menangis di depan kamu, dari dulu cuma sapu tanganmu yang selalu mengusap air mataku" ucap Vania.
Dani pun tertawa, "Habisnya kamu itu paling suka menangis di hadapanku" ucap Dani untuk menghibur Vania. Kemudian Vania memukul lengan Dani.
Dani menatap ke depan memikirkan cara agar Vania mau cerita semuanya, "Vania asal kamu tau yah, selain aku bisa memberi sapu tangan, aku juga bisa mendengar curhatan orang" ucap Dani untuk memancing Vania agar mau cerita.
Dani terkejut dan langsung menatap Vania penuh iba, "Kamu itu adalah wanita terkuat yang pernah aku kenal" ucap Dani.
"Baik lah, karena kamu sudah jujur, aku ingin memperlihatkan sesuatu pada kamu" lanjut Dani.
"Apa Dan?" tanya Vania.
Dani memperlihatkan rekaman Ariya bersama Meli, Vania melihatnya tampa berkomentar sedikit pun.
"Salah satu bawahan ku mengirimnya, tapi media kami tidak akan menyiarkannya, tapi media lain kami tidak bisa menjamin, kalau saja berita ini sampai turun besok, sudah di pastikan akan menjadi trending topik" ucap Dani menjelaskan ke pada Vania.
"Dani aku harus segera pulang, Ariya pasti membutuhkanku" ucap Vania sambil berdiri.
Dani memperhatikan Vania yang berjalan di depannya, "Vania, aku baru melihat cintamu pada Ariya wiraguna begitu besar" batin Dani.
__ADS_1
**********
*Negara Ariya berada*
Setelah pertempuran sangat panjang, entah beberapa kali pelepasan, sekarang Meli terlelap di bawa selimut dengan tubuh masi polos memeluk tubuh Ariya. Tapi Ariya masi terjaga, setelah melihat Meli benar-benar terlelap, Ariya pelan-pelan melepas pelukan Meli karena dia tidak ingin Meli terbangun.
Ariya segera memakai kimono tidurnya dan mengikatnya asal, dia bergegas mengambil hpnya dan duduk di sofa.
Ariya sedang duduk menikmati rokoknya yang dia hisap dalam-dalam dan menghembuskan perlahan .
Ariya menelpon sekertaris nya, "Yuda daftarkan pernikahan kami berdua, dan ingat besok harus selesai" perintah Ariya kemudian menutup telponnya.
Matahari sudah menampakan sinarnya, pagi telah tiba orang-orang sibuk dengan aktifitasnya. Media online, media cetak dan media tv sedang memberitakan rekaman Ariya dan Meli di mall dan di hubungkan dengan status media sosial Vania yang sedang di landa galau, membuat media membesar-besarkan berita.
Semua publik berasumsi, bahwa CEO wiraguna yang di kenal sangat menyayangi istrinya, saat ini sedang berselingkuh dengan wanita mudah yang terpaut belasan tahun lebih mudah darinya. Baru beberapa jam berita itu di turunkan, sudah menjadi trending topik di berbagai media sosial dan kalangan masyarakat.
Sementara di salah satu kamar suite wiraguna group, terlihat Meli masi terlelap dalam selimut masi dalam ke adaan polos.
Sedangkan Ariya sedang duduk di sofa masi memakai kimono tidurnya, dia nampak tersenyum melihat hpnya, ternyata Ariya melihat media online yang memberitakan dirinya dan asumsi-asumsi publik.
Lalu Ariya beralih melihat Meli yang membuka matanya, "Kamu sudah bangun?" tanya Ariya.
Meli masi setengah sadar, dan menyadari dirinya yang polos di bawa selimut tampa sehelai pakaian pun, dia baru menyadari apa yang terjadi semalam dan melihat semua pakaiannya berserakan di lantai.
Meli kemudian beralih melihat Ariya yang duduk di sofa, baru saja mengajaknya bicara, kemudian pandangan mereka bertemu, Meli secepatnya menunduk karena malu, dia tidak menjawab Ariya dan ingin berdiri dari ranjang, "Ahwuu...." rintihan Vania karena sulit menggerakkan selangkangannya.
Tiba-tiba Ariya menggendongnya "Kak Ariya lepasin" sambil memukul-mukul dada Ariya.
Ariya tidak bergeming, "Bersihkan dirimu kemudian kita pulang" ucap Ariya, setelah mendudukkan tubuh Meli di dalam bathtub.
Setelah mengantar Meli pulang ke rumah, Ariya bergegas pergi ke kantor, setelah sampai di ruangannya dia menghubungi Yuda untuk datang ke ruangannya.
__ADS_1
Ariya sedang sibuk di kursi kebesarannya, dengan berkas-berkas di atas mejanya, tidak lama kemudian pintu di ketuk seseorang, "Masuk" ucap Ariya tampa melihat.