
Sekarang Arvan dan Nara sedang menikmati makan yang di beli Arvan, sementara Nara memperhatikan Arvan yang sedang makan.
"Aku memang tampan" sahut Arvan tampa melihat Nara.
Nara tersenyum melihat sikap pede Arvan, "Kak Arvan, awalnya aku mengira kamu pria yang dingin, ternyata bukan" ucap Nara sambil menikmati makannya.
Arvan hanya tersenyum mendengar penilaian Nara padanya.
Akhirnya keduanya sudah selesai makan dan Nara mencuci piring bekas makan mereka.
Keluarlah Arvan dari kamarnya, dia habis mandi dengan penampilan rumahan, kemudian mendekati Nara di dapur, "Ambil ini untuk kebutuhanmu? sambil memberikan kartu kredit pada Nara.
Nara yang baru selesai cuci piring, melihat kartu di tangan Arvan, "Terimakasih yah kak, akan ku pergunakan dengan baik" sambil mengambil kartu itu di tangan Arvan.
"Nara aku pulang dulu, kalau ada yang ingin kamu butuhkan telpon aku aja" ucap Arvan kemudian keluar dari apartemennya.
Nara hanya menatap kepergian Arvan lalu beralih melihat kartu kredit di tangannya, "Sepertinya kak Arvan adalah pria yang baik" gumam Nara.
*******
Malam hari di kediaman Ariya wiraguna, duduk lah Vania di taman rumahnya. Vania benar-benar masi cantik di usianya yang menginjak kepala lima, tubuhnya yang imut dan kulit kencang membuatnya, 10 tahun lebih mudah dari usianya.
Tampa sepengetahuan Vania datanglah Ariya dari belakang dan memberikan Vania selimut dari belakang.
"Sayang di sini dingin" ucap Ariya kemudian duduk di samping Vania.
Vania tidak menjawab, dia menyandarkan kepalnya di lengan kekar Ariya, Ariya langsung merubah posisi, memeluk pundak Vania dan menyandarkan di bahunya.
"Sayang tidak terasa usia pernikahan kita sudah lebih dari 20 tahun" ucap Vania.
"Di ulang tahun 23 tahun pernikahan kita kali ini, kamu mau apa sayang" tanya Ariya sambil menunduk melihat Vania.
Vania memperbaiki duduknya, "Aku mau hubungan kita seperti ini terus dan anak-anak kita bisa punya pasangan masing-masing" ucapnya sambil menatap Ariya.
"Hemmm.... papah, mamah Vania ternyata ada di sini mesra-mesran" Sahut Andra dari belakang.
"Ayo jagoan papah, duduk di sini" sambil menepuk kursi yang kosong di sampingnya.
Andra langsung saja duduk dengan santai di samping papahnya, "Mamah Vania, Arvan ada!" tanya Andra.
__ADS_1
"Ada, dia di kamarnya" jawab Vania.
"Sepertinya akhir-akhir ini Arvan lebih sering di rumah dibanding ke apartemennya" ucap Andra.
"Papah juga menyadari itu, cari tau apa penyebab berubahnya" ucap Ariya sambil menepuk pundak putranya.
*Arvan memang jarang ke apartemennya, karena dia ingin membuat Nara nyaman tinggal di apartemennya.*
Keesokan harinya, Elena sedang olahraga di tempat basecamp mereka berempat, Elena sedang melati otot perutnya agar lebih langsing, wajar karena dia seorang model ternama, jadi dia sangat menjaga tubuh rampingnya.
Tiba-tiba Andra datang dari belakang, "Kamu di sini Elena" ucapnya langsung mengelus kepala Elena dengan lembut.
"Kak Andra, dengan siapa kesini?" tanya Elena, tidak menghentikan aktifitasnya.
"Dengan pria dingin itu" sambil melihat ke arah Arvan yang sedang duduk bersandar di sofa.
Elena langsung menghentikan Aktifitasnya, dan mendekati Arvan, "Arvan besok aku ada acara world, temani aku yah" ajak Elena sambil memegang lengan Arvan dengan manja. Arvan diam saja masi fokus dengan hpnya.
"Wah tenyata semuanya ada di sini" seru Aditya yang baru saja datang.
Ke empatnya pun duduk di sofa yang berhadapan, mereka tertawa dan bercanda, seperti biasa Arvan lebih banyak diam.
"Oh yah, busana kalian sudah selesai di jahitkan?" tanya Andra.
"Aku belum, aku janjian dengan penjahit itu di sini" ucap Elena sambil minum jus.
"Nara akan ke sini" sahut Arvan.
ketiganya pun serentak menoleh melihat Arvan, yang dari tadi diam dan tiba-tiba bicara saat mendengar nama Nara.
"Aku ada urusan aku pergi dulu yah" Pamit Arvan kemudian berdiri dan berjalan keluar.
"Dia kenapa, sepertinya ada yang di sembunyikan?" ucap Aditya.
"Sepertinya begitu, aku harus cari tau" sambung Elena.
Andra diam saja menatap kepergian adiknya, "Aku akan mencari tau apa yang kamu sembunyikan" batin Andra.
Arvan sudah sampai di luar, di saat bersamaan Nara turun dari taksi online. Nara tersenyum melihat Arvan, tapi Arvan bersikap biasa saja.
__ADS_1
"Masuk lah, setelah selesai langsung pulang" ucap Arvan dengan pelan saat Nara sejajar dengannya. Nara mengangguk lalu berjalan masuk.
Akhirnya semua tugas Nara selesai, Elena juga bisa menerima hasil jahitan baju yang Nara buat, Nara bergegas pulang dan menunggu taksi online yang di pesannya.
"Hei Nara" sapa Andra dari dalam.
"Kak Andra" jawab Nara.
Andra berjalan kesamping Nara, "Ayo aku antar pulang" ajak Andra dengan gayanya yang santai.
Nara terlihat panik, karena Nara tidak mau kalau Andra tau, dia tinggal di apartemen Arvan.
"Tapi kak, aku ada keperluan lain" ucap Nara, di saat bersamaan taksi online yang di pesannya sudah datang, "Aku duluan kak daaah" sambil melambaikan tangan masuk mobil.
"Dia kenapa? tidak seperti biasanya" ucap Andra sambil memasang helem nya, lalu melajukan motornya pergi.
Saat ini Nara sudah sampai di apartemen Arvan, secepatnya naik dan membuka pintu apartemen.
Di sana sudah ada Arvan menunggunya, pelan-pelan Nara berjalan masuk kamarnya.
"Nara bisa kita bicara sebentar" panggil Arvan.
Nara menghentikan langkahnya dan berjalan, lalu duduk di samping Arvan.
"Nara aku ingin mengatakan, kalau hubungan kita akan aku umumkan di ulang tahun pernikahan ke dua orang tuaku" ucap Arvan menatap tajam ke pada Nara.
"Tapi kak Arvan, di sana pasti banyak media dan semua orang akan mengira kita benar-benar pacaran" protes Nara sambil memasang muka masam.
"Nara dengar yah, aku membayar mu memang untuk acara itu dan acara dalam setahun kedepannya" jelas Arvan.
"Baik kak" sambil mengangguk.
Nara kemudian berdiri untuk masuk kamarnya, tapi saat Nara melangkah di depan Arvan. Arvan memajukan kakinya ke depan, membuat Nara tidak bisa menjaga keseimbangannya dan terjatuh di pangkuan Arvan, membuat jarak wajah di antara mereka tinggal beberapa senti.
"Kak Arvan maaf" ucapnya sambil berusaha berdiri, tapi Arvan malah menahan memeluk pinggangnya agar tidak berdiri. Nara langsung membulatkan matanya menatap tajam Arvan.
"Jangan marah, kita harus terbiasa bersentuhan fisik agar tidak ada rasa canggung nantinya" ucap Arvan dengan menatap Nara tampa berkedip.
"Kak Arvan lepaskan, caranya tidak seperti ini" masi berusaha melepaskan diri.
__ADS_1
Arvan yang melihat pipih Nara sudah memerah karena malu dan di bawa sana ada yang tegak, barulah Arvan melonggarkan pelukannya.
Nara secepatnya berlari masuk kamarnya, Arvan menyandarkan kepalanya di sofa untuk menetralkan yang berada di bawa, yang sempat menegak karena buah kenyal Nara yang berukuran di atas rata-rata menempel di dadanya, "Dia lumayan juga" gumam Arvan sambil tersenyum.