Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
PERBEDAAN CINTA DAN RASA KAGUM


__ADS_3

Sementara Vania sedang di kamarnya, "Kenapa malam ini sangat gerah, padahal AC sudah aku nyalakan" guman Vania, kemudian berjalan keluar kamar dan Vania melirik kamar pengantin suaminya.


Vania memegang dadanya, "Ternyata lebih sakit dari yang ku bayangkan" kemudian melangkah turun tangga, dia ingin ke dapur mengambil air, karena air di kamarnya sudah habis.


Sebelum Vania melangkah ke dapur, Vania melihat Ariya di sofa sedang merokok dengan segelas wine di tangannya, masi dengan baju pengantin nya.


Vania mendekati Ariya dan duduk di pinggir sofa lalu merangkul pundak Ariya, "Sayang sedang apa kamu di sini?" ucap Vania.


Ariya tidak menjawab, dia cuma melirik Vania sebentar lalu mematikan rokoknya dan menghabiskan wine di gelasnya.


Kemudian menarik tangan Vania dan mengukungnya di bawanya, "Bagai mana bisa aku di sana sedangkan kamu selalu mengerti ke butuhkan ku" ucap Ariya dengan menyelipkan rambut Vania di telinganya.


Vania memakai lingerie tapi tidak terlalu seksi, karena dia memakai kimono tidur, jadi cuma mengekspos dadanya saja yang berukuran besar.


Ariya langsung saja mencium bibir Vania dan turun ke dada Vania, Vania yang mendapat perlakuan lembut tidak bisa melawan aksi Ariya.


Vania berbisik di telinga Ariya, "Kita ke kamar saja sayang".


Ariya tidak bicara, dia menggendong Vania naik ke kamarnya dan melanjutkan aksinya di atas ranjang dan pada akhirnya mereka melakukan pelepasan.


Vania terlentang lemah dalam ke adaan polos, Ariya mencium kening Vania dan bergegas ke kamar mandi.


Setelah Ariya masuk kamar mandi, Vania berusaha dudu bersandar di ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut, Vania tersenyum hambar, "Malam ini kamu ku izinkan bersamaku, tapi lain kali kamu harus bersikap adil" guman Vania. Kemudian masuk kamar mandi juga untuk membersikan diri.


Sementara di kamar Meli, Meli sudah selesai mandi, dia memakai baju tidur sedang duduk di atas ranjang, "Kak Ariya ke mana yah?" ucap Meli, "eh ngapain juga aku mencari dia, bukan kah lebih baik kalau dia di kamar kak Vania" sambungnya lagi, berbicara pada dirinya sendiri.


Di dalam kamar Vania, Ariya sudah selesai mandi dan Vania sudah membersihkan diri, Ariya memakai kimono tidur yang memperlihatkan bagian dadanya yang mirip roti sobek


Vania meraba dada Ariya, "Sayang sebaiknya kamu tidur di kamar Meli saja" ucap Vania.

__ADS_1


"Baik sayang" ucap Ariya lalu mengecup bibir Vania dan melangkah keluar kamar. Vania cuma terdiam dengan tatapan yang sedih.


Ariya membuka pintu kamar Meli, pandangan mereka bertemu, Meli segera mengalihkan pandanganya karena jantungnya berdetak lebih kencang melihat penampilan Ariya yang memperlihatkan bagian dadanya.


Meli mengambil remote AC dan menambah suhunya, Ariya yang melihat tingkah polos Meli hanya tersenyum tipis, "Terbiasa lah sekamar denganku, karena selamanya akan seperti ini" ucap Ariya dengan nada dingin tidak melihat Meli, kemudian berbaring di sisi lain tempat tidur.


Meli hanya terdiam mendengar perkataan Ariya, apa lagi sekarang Ariya sedang berbaring di sampingnya. Meli segera berbaring menarik selimutnya sampai leher dan membelakangi Ariya.


Ariya melirik Meli, batinya "Meli aku masi sanggup melakukanya padamu, tapi aku belum siap" sambil tersenyum tipis. Kemudian keduanya terlelap.


Pagi harinya Meli terbangun, dia tidak melihat Ariya di sampingnya, Meli bergegas ke kamar mandi untuk segera mandi.


Meli keluar kamar dan turun ke tangga menuju meja makan, Meli melihat Vania yang menyediakan makanan di piring Ariya, dia memperlambat jalanya.


Meli berusaha bersikap biasa saja, dia mencoba menyapa duluan, "Pagi kak Vania kak Ariya" ucap Meli sambil menarik kursi untuk duduk.


"Pagi juga, kamu sudah bangun Mel?" ucap Vania.


"Sayang kalian tidak ada rencana honeymoon" tanya Vania, meski dalam hatinya terselip rasa perih.


Meli mendengar pertanyaan Vania langsung ter batuk, Ariya segera memberikannya segelas air tampa ekspresi, Meli segera meminumnya.


"Hati-hati" ucap Ariya, dengan tidak melihat Meli.


Ariya bicara, "Mungkin lain kali sayang, pekerjaan di kantor harus segera di selesaikan" sambil mengusap mulutnya dengan sapu tangan.


Ariya berdiri dari duduknya di ikuti Vania, "Sayang aku pergi dulu yah" sambil mencium kening Vania seperti biasa, dan berlalu ke arah Meli kemudian mengacak-ngacak rambut Meli tampa bicara.


Meli hanya menunduk mendapat perlakuan yang tidak biasa dari Ariya, Vania melihat perubahan suaminya yang tidak pernah memberikan sentuhan fisik pada Meli sebelumnya, cuma diam berusaha menenangkan hatinya.

__ADS_1


"Mel aku ada acara arisan, kamu mau ikut" ajak Vania.


"Tidak kak, aku harus ke kampus nanti" tolak Meli.


**********


Beberapa hari telah berlalu, Meli sedang duduk di sofa kamarnya, sambil membaca buku. Meli melihat jam di dinding sudah pukul 05:00 sore, "ternyata uda sore, aku mandi dulu" kemudian bergegas masuk kamar mandi.


Sementara di bawa, Ariya sudah pulang di sambut para pelayang, "Vania mana?" tanya Ariya kepada kepala pelayang.


"nyonya Vania belum pulang tuan" jawab kepala pelayang itu dengan menunduk hormat.


Ariya berjalan naik tangga dan melirik kamar Meli yang tertutup, Ariya mendekati pintu kamar Meli dengan santai kemudian membukanya.


Ariya berjalan duduk di sofa di mana Meli tadi duduk, dia melihat buku yang di baca Meli, "PERBEDAAN CINTA DAN RASA KAGUM" Ariya membaca judul buku itu.


Ariya membuka halaman buku itu, tiba-tiba pintu di kamar mandi di buka Meli, betapa kagetnya Meli ketika melihat Ariya sedang ada di kamarnya dan membaca buku yang di bacanya tadi, apa lagi Meli cuma memakai handuk yang di lilit di dadanya.


Ariya dengan santai melihat ke arah Meli, terlihatlah pundak Meli yang sangat mulus dan segar habis mandi.


"kak Ariya di sini" ucap Meli sambil menuju Ariya, "itu buku aku kak" sambil ingin mengambil buku itu di tangan Ariya, tapi Ariya mengangkat tanganya ke atas dengan santai.


Reflek Meli terjatu di dada Ariya yang cuma memakai handuk, jarak wajah Meli dan Ariya sangat dekat, membuat jantung Meli berdetak lebih kencang karna dia tidak pernah berdekatan dengan pria sedekat itu.


Meli ingin berusaha berdiri, tapi Ariya menarik pinggangnya semakin rapat, "Mel wajah kamu sangat merah, terlihat sangat lucu" ucap Ariya sengaja menjaili Meli.


"kak Ariya lepasin aku" sambil memukul dada Ariya, tapi Ariya tidak bereaksi karna tenaga Meli tidak seberapa di banding tenaga Ariya, Ariya masi belum melepaskanya.


"kak Ariya aku mohon lepaskan, nanti kak Vania melihat kita" ucap Meli dengan pipi merah seperti kepiting rebus.

__ADS_1


Mendengar nama Vania, Ariya melonggarkan pelukanya, secepatnya Meli berdiri memakai baju di ruang ganti.


Setelah kepergian Meli, Ariya tersenyum miring dan memejamkan matanya sejenak, "apa yang ku lakukan tadi" gumanya.


__ADS_2