Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
ANDRA WIRAGUNA


__ADS_3

Meli sedang berbaring di ruang perawatan, perlahan-lahan membuka matanya, yang terlihat cuma perawat sedang menyuntik obat di cairan infus.


Meli meneteskan air matanya, membayangkan kata-kata terakhir perawat sebelum tidak sadarkan diri di meja operasi.


"Sus apa benar bayi saya tidak bisa di selamatkan?" tanya Meli masi lemah kepada perawat.


Perawat itu tersenyum, "Telah terjadi keajaiban nyonya, bayi anda selamat, saya permisi dulu" jawabnya dan meninggalkan ruangan.


Tangis Meli yang awalnya bersedih, berubah menjadi tangis haru, "Apa bayi aku selamat" ucapnya sambil mengusap air matanya.


Tiba-tiba pintu di buka seseorang, ternyata yang datang adalah Ariya bersama Vania.


"Meli, kamu baik-baik saja" tanya Ariya, di balas anggukan oleh Meli.


"Selamat yah, bayi kamu sehat" ucap Vania.


"iya kak Vania, ini semua berkat kak Vania, kalau terlambat sedikit saja akan lebih fatal" ucap Meli.


"Sayang makasih yah, kamu sudah melahirkan putra yang hebat, dan bisa berjuang bersamamu untuk bertahan" ucap Ariya kemudian mencium kening Meli.


Vania yang melihat itu, merasakan hatinya sangat sakit dan teriris, tampa mengatakan apa pun dia keluar dari ruangan Meli.


Meli tidak menyadari kepergian Vania, karena dia terlalu bahagian dengan perhatian Ariya, sedangkan sebaliknya Ariya menyadari kepergian Vania, dia hanya memejamkan matanya sejenak dan melanjutkan perhatiannya dengan Meli.


Vania sedang berlari keluar dan menuju taman rumah sakit, "hiks... hiks...hiks... Sakit sungguh sakit, lebih sakit dari sebelumnya" sambil memukul dadanya berharap rasa sakitnya berkurang.


Vania menunduk menangis sambil duduk di kursi taman, tiba-tiba ada yang menyodorkan sapu tangan di depan wajahnya, Vania melihat ke atas untuk memastikan siapa yang memberikannya sapu tangan.


"Revan!!!" ucap Vania, masi berlinang air mata, dan mengambil sapu tangan pemberian Revan.


Revan pun, duduk di samping Vania, "Kenapa bertahan jika menyakitkan Vania?" ucap Revan sambil melihat ke arah Vania.


Vania mengusap air matanya dengan sapu tangan pemberian Revan tadi, "Kadang kita harus bertahan, demi cinta dan ke adaan" ucap Vania berusaha tersenyum.


"Cinta yang tak bertepi, yang kau pertahankan" lanjut Revan.


"Entahlah Revan, aku juga tidak tau apa yang akan ku lakukan. oh ya, sedang apa kamu di sini?" tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Elina mengandung anak ke 3 kami, kami ke sini untuk kontrol kehamilannya" jawab Revan.

__ADS_1


"Terus Elina di mana?" sambil melihat sekeliling.


Di tengah keramaian terlihatlah Elina berjalan ke arahnya, "Elina..." panggil Vania sambil melambaikan tangannya.


Mata Elina tertuju pada suara yang memanggilnya, "Vania!!!" ucapnya sambil berjalan ke mana Vania dan Revan berada.


Akhirnya ke dua sahabat itu bertemu kembali, mereka saling berpelukan, Revan yang menyaksikan hanya tersenyum.


"Ayo Elina duduk dulu" sambil menarik tangan Elina duduk di antara dirinya dan Revan.


"Kamu apa kabar Vania" tanya Elina, masi memegang ke dua tangan Vania.


"Aku baik Elin, selamat yah atas kehamilan anak ke 3 nya? ucap Vania.


"Vania baik-baik yah, kami permisi dulu, aku harus ke kantor" pamit Revan.


"Ya sudah, sampaikan salam ku dengan pegawai di sana" ucap Vania.


"Perusahan sangat merindukan sekertaris terbaik seperti dirimu" ucap Revan sambil berdiri dari duduknya, di susul Elina ikut berdiri.


"Pak Revan bisa aja" balas Vania dan juga ikut berdiri.


*Kalian masi ingatkan dengan pasangan suami istri Revan dan Elina yang menjadi bosnya sekaligus sahabatnya, tempat Vania bekerja di prakasa group sebagai sekertaris*.


Sementara itu Ariya yang sudah menyuapi Meli makan, segera keluar menyusul Vania, tapi setelah sampai di laur Ariya tidak melihat Vania lagi.


"Aku harus segera pulang, pasti Vania sudah pulang" ucapnya, kemudian meninggalkan rumah sakit.


Meli di dalam kamar rawatnya, sedang gelisah menunggu Ariya kembali.


"Ting!" bunyi pesan hp Meli, Meli segera membukanya.


"Meli sayang aku pulang dulu, nanti malam aku kembali, karena ada keperluan mendesak" isi pesan Ariya.


Meli menjatuhkan hpnya di pangkuannya, "Ternyata benar, perasaan kak Ariya padaku cuma rasa tanggung jawab" ucapnya dengan meneteskan air mata dan melihat ke sembarang arah.


Ariya yang sudah sampai di depan rumahnya, segera masuk rumah dan berlari naik kamarnya. Setelah membuka pintu kamar, terlihat Vania sedang berdiri di depan jendela dengan melipat ke dua tangan di dadanya.


"Vania" panggil Ariya lembut.

__ADS_1


Vania menoleh, "Ternyata kamu sudah pulang" tanyanya dengan sikap dingin.


"Vania kenapa kamu pulang begitu saja, tampa memberitahu ku" tanya Ariya.


"Maaf kan aku Ariya" jawabnya menunduk merasa bersalah.


Ariya menarik nafasnya dan menatap Vania penuh iba, kemudian berjalan menghampiri Vania dan memeluknya dengan lembut.


"Seharusnya aku yang minta maaf, maafkan aku sayang" kemudian mencium pucuk rambut Vania, Tapi Vania tidak membalas pelukan Ariya.


Malam hari tiba, Ariya bergegas ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit dia melihat Meli sedang memangku putra kecilnya.


Ariya tersenyum melihat putranya, kemudian beralih melihat Meli dan duduk di depannya, "Sayang sekali terima kasi, telah memberiku putra yang lucu dan tampan" kemudian mencium kening istrinya. Meli hanya mengangguk lemah.


Keduanya pun sama-sama menatap bayinya, layaknya potret keluarga bahagia.


*******


Beberapa hari telah berlalu setelah kelahiran pewaris wiraguna group, selama itu juga Ariya tidak pernah pulang ke rumah Vania, dia benar-benar menikmati waktunya bermain dengan putranya.


Saat Ariya sedang duduk di kursi kebesarannya di kantor utama wiraguna group, Sedangkan sekertaris Yuda berdiri di sampingnya.


"Yuda siapkan konferensi pers, untuk memperkenalkan pewaris wiraguna group" perintah Ariya.


"Baik tuan" jawab Yuda dengan menunduk hormat.


"Dan satu lagi, jemput Vania untuk menghadiri konferensi pers tersebut" sambil memutar pulpennya.


"Baik tuan, saya permisi" sambil menunduk hormat pergi.


Ariya segera pulang menjemput istri dan putranya, untuk menghadiri konferensi pers bersama.


Di salah satu hotel wiraguna group, sudah berkumpul para awak media untuk meliput pertama kali wajah pewaris wiraguna group.


Dari arah pintu masuk datanglah Ariya dan Meli bersama putra kecilnya, mereka berjalan masuk di atas karpet merah, kamera tidak pernah berhenti menyorotinya dan memotretnya hingga duduk di kursi yang sudah di siapkan, di dampingi beberapa bodyguard dan juga sekertaris Yuda.


Ariya melihat sekeliling, menunggu kehadiran Vania, hingga beberapa saat Vania pun belum muncul, Ariya akhirnya memulai acara.


"Selamat sore semuanya, saya selaku pemimpin utama wiraguna group, ingin mengenalkan putra kami yang baru saja lahir, yang akan menjadi calon pewaris wiraguna group, yang bernama ANDRA WIRAGUNA" ucap Ariya dengan wibawanya. Di susul tepuk tangan gemuruh, para awak media yang berada di ruangan itu.

__ADS_1


Sampai acara berakhir Vania tidak nampak hadir dalam acara tersebut, hingga membuat berita simpang siur beredar, kalau rumah tangga Ariya wiraguna dan Vania lestari sedang retak. Jadi kesimpulan hari ini, media mendapat dua berita sekaligus.


__ADS_2