Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
VANIA PINGSAN


__ADS_3

Setelah Ariya berada dalam ruangannya, dia nampak berpikir sejenak lalu menelpon sekertaris nya, "Segera datang ke ruangan ku sekarang".


Tidak lama kemudian datanglah Yuda mengetuk pintu, "Masuklah" ucap Ariya.


Masuklah Yuda, "Permisi tuan" ucap Yuda saat berada di samping bosnya.


"Yuda kamu mengetahui sesuatu, sepertinya ada yang aneh?" tanya Ariya dengan kedua kakinya di letakkan di atas meja, tidak melihat Yuda.


Yuda menyodorkan ipet di depan Ariya yang memperlihatkan video Vania yang beredar, Yuda sengaja melingkari dengan jelas, kapan waktu video itu di buat.


Ariya langsung melotot melihat video itu dan berita yang beredar, Ariya menurunkan kakinya dari atas meja dan berpaling menatap Yuda dengan tajam, Yuda yang di tatap hanya diam dan menurunkan pandangannya.


Ariya segera berjalan keluar ruangannya, meninggalkan Yuda yang masi berdiri di tempatnya, "Semoga tuan Ariya, mengingat kejadian semalam" ucapnya setelah Ariya meninggalkan ruangannya.


Ariya berjalan keluar dengan tegak dan menatap tajam ke depan, dengan ekspresi susah di tebak. Membuat suasana yang di lalui Ariya berubah menjadi dingin.


Ariya kembali mengendarai mobilnya menuju rumah Vania, Setelah sampai Ariya di sambut kepala pelayan dan beberapa pelayan.


"Vania di mana?" tanya Ariya kepada kepala pelayang, dengan tidak menghentikan langkahnya.


"Nyonya Vania di samping kolam berenang tuan" jawab kepala pelayang menunduk hormat.


Ariya langsung ke arah kolam berenang, benar saja Vania sedang berdiri di sana, tatapan mereka bertemu, mata Ariya berkaca-kaca.


Cukup lama mereka bertatapan, hingga Ariya mendekati Vania, "Katakan Vania kalau gosip itu tidak benar" tanya Ariya dengan menekan suaranya.


Vania memalingkan pandangannya, "Semua berita yang beredar, itu benar adanya" ucap Vania menatap nanar ke depan.


"Bohong!!! kamu bohong Vania, semalam kamu bersamaku bukan?" ucapnya memegang lengan Vania.


"Tidak Ariya kamu salah" ucap Vania belum menatap Ariya.


Ariya memutar tubuh Vania dan memegang kedua lengannya, "Tatap mataku Vania, apa kamu punya rasa dengan Dani?" tanyanya masi menatap tajam pada Vania.


Vania membalas menatap Ariya, "Aku sudah capek dengan semua ini, iya semalam aku menghabiskan malam bersamanya" jawab Vania dengan mulut bergetar menahan tangisnya.


"Vania!!!" teriak Ariya menghempaskan lengan Vania, Vania hanya memejamkan matanya.


"Oke Vania jika itu yang kamu mau, akan aku urus surat perpisahan kita" ucapnya dengan nada tinggi kemudian pergi meninggalkan Vania.


Setelah kepergian Ariya, Vania menjatuhkan dirinya duduk di kursi, baru lah Vania meluapkan semua emosinya.

__ADS_1


"hiks...hiks..hiks..." tangis Vania pecah.


Ariya keluar rumah dengan kemarahannya, ketika berada di luar rumah dia berpapasan dengan Dani yang ingin menemui Vania.


Pandangan Ariya dan Dani bertemu dan saling beradu pandang, keduanya terus berjalan hingga mereka sudah sejajar dan keduanya berhenti.


"Dani semoga kamu tidak memakai kesempatan ini" batin Ariya.


"Ariya semoga kamu tetap percaya Vania kali ini" batin Dani.


Tidak ada saling menyapa, keduanya melanjutkan jalannya. Ariay naik mobilnya dan Dani segera masuk rumah.


Dani langsung menemui Vania, Vania masi duduk menangis di tempatnya, Dani mendekatinya dan memegang sebelah bahunya.


"Vania jangan bersedih, kita bisa klarifikasi semua, semuanya akan baik-baik saja" ucap Dani.


Vania mengusap air matanya, lalu berdiri, "Biarkan saja Dani, dengan semua ini, akan lebih mudah Ariya melepaskan ku" ucapnya dengan lirih.


"Maksud kamu Vania?" tanya Dani heran.


"Dani kamu mau kan bantu aku kali ini?" dengan menatap Dani.


"Tapi Vania nama kamu akan rusak untuk selamanya" balas menatap Vania.


Sementara itu Ariya sudah sampai di rumah Meli, Meli langsung menyambutnya.


"Kak Ariya sudah pulang?" tanya Meli, Ariya tidak menjawab, dia melepaskan dasinya dengan kasar.


"Kak Ariya, aku tidak menyangka kak Vania bisa berbuat seperti itu" ucap Meli dengan nada sedih, sambil ingin memeluk lengan Ariya.


"Hentikan Mel, jangan pernah berkata buruk tentang Vania di depanku, cuma aku yang paling tau tentang Vania" dengan menunjuk wajah Meli, kemudian berjalan naik menemui putra kecilnya.


Ariya sudah sampai dan duduk di samping putra kecilnya yang terlelap, "Jagoan kecilku, papah ingin mempertahankan kalian berdua, tapi papah tidak tau caranya?" kemudian menarik nafasnya dalam-dalam.


Ariya kemudian masuk dalam kamarnya dan melepas semua pakaiannya dan menyisakan bokser nya, terlihatlah oto-oto Ariya yang atletis, kemudian masuk dalam kamar mandi, dan mandi di bawa shower.


Cukup lama Ariya di bawa shower, menghukum dirinya karena tidak dapat membujuk Vania, "Vania jika kamu bahagia berpisah denganku, aku akan melepaskan mu" ucapnya dan mengusap rambutnya ke belakang.


Keesokan harinya Ariya sedang duduk di kursi kebesarannya dalam ruangannya, dan di sampingnya berdiri Yuda sedang memberi laporan perusahaan.


"Yuda, cepat urus surat perpisahan ku dengan Vania" ucapnya masi melihat berkas di depannya.

__ADS_1


Yuda sedikit kaget, "Tuan yakin dengan keputusan anda?".


Ariya menutup berkas di depannya, "Apa lagi Yuda yang harus di lalukan seorang suami, jika istrinya ketahuan masuk dalam hotel bersama pria lain di jam malam" sambil berdiri dari kursinya.


"Tapi tuan, anda percaya dengan gosip murahan seperti itu?" dengan menurunkan pandangannya.


Ariya tersenyum sinis melihat ke arah sekretarisnya, "Jangan pura-pura tidak tau, kamu tentu tau kebenarannya" ucapnya sambil menepuk bahu Yuda.


Yuda akhirnya mengangkat wajahnya, "Kalau tuan yakin dengan ingatan anda, kenapa tetap memilih berpisah" tanya Yuda heran.


"Kamu tau sendiri kan yuda, kalau Vania sangat keras kepala, kali ini aku kalah?" kemudian melanjutkan jalannya ke arah dinding kaca dan menatap gedung-gedung yang menjulang tinggi.


*******


Sebulan telah berlalu, setelah gosip perselingkuhan Vania dan Dani menjadi bola liar, apa lagi tidak ada konfirmasi kepada belah pihak.


Tapi berita perpisahan Ariya dan Vania, belum tercium media, karena Ariya sengaja menutupinya dari publik.


Sejak kejadian itu Vania dan Ariya tidak pernah bertemu dan pandangan Meli terhadap Vania semakin buruk, tapi Ariya selalu tidak mau mendengar hal buruk tentang Vania.


Saat ini Vania dan Dani sedang makan di salah satu restoran, kebetulan di restoran itu juga ada Ariya sedang meeting bersama rekan kerjanya.


Dani melihat Vania, "Vania apa kamu yakin tidak ingin klarifikasi, besok adalah sidang putusan perpisahan kalian?"


Vania baru saja mau bicara, tapi terhenti ketika melihat Ariya keluar dari ruang VIP, membuat tatapan mereka bertemu dan Dani mengikuti arah pandangan Vania.


Ariya yang melihat keduanya makan, membuang pandanganya seakan tidak mempedulikan mereka dan melanjutkan jalannya.Yuda yang melihat itu, menunduk sedikit hormat pada Vania dan berjalan mengikuti Bosnya.


Vania yang melihat sikap acuh suaminya hanya meneteskan air mata, kemudian Dani memberinya sapu tangan dan Vania mengambilnya.


Malam hari di kamar Vania, Vania sedang membereskan pakaiannya ingin meninggalkan rumah itu, karena menurutnya itu rumah Ariya.


Malam itu hujan sedang turun dan angin kencang di tambah petir dan kilat, tiba-tiba pintu kamar di buka kasar seseorang, ternyata Ariya yang datang dengan emosi. "Vania!!! kamu mau kemana?" teriaknya, sambil berjalan ke arah Vania dan melempar koper Vania ke atas kasur.


"Aku mau pergi Ariya untuk apa aku di sini" jawab Vania dengan menekan nada bicaranya.


"Kamu jangan kemana-mana Vania, rumah ini adalah rumahmu yang memang ku buat untukmu" ucapnya dengan menunjuk ke lantai. Vania hanya terdiam dengan rambutnya tertiup angin malam.


"Vania katakan sekali saja, kalau kamu ingin hidup bersamaku selamanya, besok akan aku batalkan surat perpisahan kita" ucapnya dengan nada tinggi menekan suaranya, di susul suara petir dan kilat.


Vania tidak bergeming dengan ucapan Ariya, dia tidak ingin menatap Ariya, hingga Ariya meniggalkan kamar Vania dengan amarah.

__ADS_1


Keesokan harinya sidang putusan perpisahan Vania dan Ariya di kelar tertutup, Hakim baru saja ingin membaca surat putusan, tiba-tiba Vania pingsan.


__ADS_2