Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
BATALKAN RAPAT PAGI INI


__ADS_3

Ariya berjalan keranjang Meli dan duduk di sudut tempat tidur, "Meli duduk di sini" sambil menepuk kasur di sampingnya.


Meli mendekat lalu duduk di samping Ariya dengan tenang.


"Meli dengar yah, kamu sudah menjadi istriku, bagaimana pun aku harus bersikap adil dan beri aku waktu" ucap Ariya dengan menatap Meli. Meli masi mengalihkan pandanganya.


Ariya memegang tangan Meli, "Dan tolong bantu aku, bisa kah kamu bersikap sebagai istri saya di depan Vania, itu akan memudahkan aku bersikap adil" sambung Ariya.


"Aku akan berusaha kak" ucap Meli.


Keesokan harinya Vania sudah pulang dan membuka pintu kamarnya. Vania melihat Ariya sedang berdiri di depan jendela dengan stelan jas rapi, "sayang kamu belum berangkat ke kantor" tanya Vania lalu berjalan memeluk Ariya dari belakang.


Ariya memasang wajah datar, "Vania kamu tau kan, Ariya wiraguna tidak bodoh" ucap Ariya. Ariya merasa kesal dengan Vania karena harus menginap di kediaman wiraguna. Ariya tentu tau maksud Vania meninggal kan rumah, yah itu untuk mendekatkan dirinya dengan Meli.


Vania beralih memeluk Ariya dari depan, "maaf yah" ucap Vania dengan manja.


Ariya tidak menjawab dia cuma tersenyum penuh arti, kemudian mengambil hp di saku celananya dan menelpon Yuda, "Yuda batalkan rapat pagi ini" ucap Ariya sambil tangannya mengusap rambut Vania yg memeluknya.


Vania melepaskan pelukannya dan membelakangi Ariya, Ariya bergerak cepat memeluk Vania dari belakang sambil berbisik, "Sayang kamu mau ke mana, aku akan menghukum kamu dengan kesalahanmu kali ini".


Vania memejamkan matanya, karena sudah tau arah pembicaraan suaminya. Secepatnya Ariya menggendong tubuh Vania dan membaringkan tubuh Vania di ranjang king size nya.


Ariya mulai m*ncium bibir Vania dan tangannya bermain di tempat favoritnya, pagi itu kedua insan manusia itu melakukan senam pagi di atas ranjang, hingga keringat keduanya membasahi tubuhnya, pada akhirnya aktifitasnya berakhir dengan d*sahan panjang keduanya.


Keduanya berbaring masi dalam ke adaan polos di dalam selimut, Ariya bersandar di ranjang dan Vania memeluk tubuh suaminya.


"Sayang kamu luar biasa" ucap Ariya sambil mencium pucuk kepala Vania.


"kamu juga perkasa sayang" Ucap Vania mengangkat wajahnya melihat Ariya kemudian mengecup bibir Ariya.


Ariya kemudian mengambil kotak kecil di atas meja dan menyerahkan pada Vania, "Apa ini Ariya" tanya Vania memperhatikan kotak itu.

__ADS_1


"Buka saja" jawab Ariya.


Vania membukanya perlahan, tampaklah gelang berlian yang sederhana tapi elegan, "ini sangat cantik sayang" sambil meraba gelang itu dan melihat Ariya.


Ariya mengambil gelang itu dan memakaikan di lengan Vania , kemudian mencium keningnya, "Sayang aku ke kantor dulu" ucap Ariya. Vania cuma mengangguk.


Kemudian Ariya membersihkan diri dan berangkat ke kantor.


********


Suasana pagi di rumah Ariya sedikit berbeda, seperti pagi itu Ariya, Vania dan Meli sedang menikmati sarapan bersama. Kali ini Meli tidak segan memberikan Ariya makanan, dan Ariya tidak menolak perhatian Meli. Tentu saja Vania melihat perubahan Meli, tapi menganggapnya biasa saja meski hatinya teriris.


Ketiganya selesai makan lalu Ariya berdiri di susul Vania, "Sayang aku berangkat dulu" ucap Ariya sambil mencium kening Vania. Kemudian berputar ke arah Meli, "Aku berangkat" sambil mengusap pipi Meli, Meli cuma mengangguk sambil tersenyum.


Setelah kepergian Ariya, Vania langsung ke arah dapur untuk menghindari Meli, karena manusiawi Vania tentu sakit hati melihat perubahan suaminya di depan matanya.


"Kak Vania tunggu boleh kita bicara" panggil Meli.


Keduanya sudah berada di taman itu yang cukup luas, mereka duduk di kursi taman. Cukup lama mereka terdiam.


Pada akhirnya Meli mulai bicara, "Kak Vania maaf" ucapnya dengan nada terbata.


"Tidak ada yang perlu di maafkan, karena sesungguhnya tidak ada yang salah" balas Vania.


"Kalau begitu boleh aku mengajukan permintaan kak?" ucap Meli.


"Tentu saja, coba katakan apa?" sambil menatap Meli.


"Kak Vania apa sebaiknya aku tidak tinggal di rumah ini, untuk menjaga hati kita agar tidak ada yang saling menyakiti" ungkap Meli dengan nada terbata.


Vania tidak langsung menjawab, dia menatap Meli dan mulai bicara, "Aku juga ingin seperti itu, tapi..." Vania menjeda ucapannya.

__ADS_1


"Tapi apa kak" tanya Meli penasaran.


Vania berdiri dan mulai menjelaskan penyakit Ariya yang tidak bisa berpisah dengan dirinya, "Meli sebenarnya.......".


*Kita skip saja yah penjelasan Vania, karena yang baca cerita ini dari Awal, Pasti sudah tau kisa cinta Vania dan Ariya, dan seberapa bucinnya Ariya wiraguna yang terkenal angkuh dan dingin, tapi biasa di taklukan oleh cinta Vania*.


Kemudian Meli ikut berdiri di samping Vania, "Kak Vania, aku janji untuk membantu kalian semoga kehadiran anak di antara kami bisa merubah semuanya".


Vania tidak menjawab, tatapannya lurus ke depan tidak berkedip.


"Kak Vania, mulai saat ini izinkan aku bersikap jadi istri di depan kak Vania supaya akan memudahkan semuanya, agar drama ini akan berakhir" sambil menggenggam erat tangan Vania dengan mata berkaca-kaca, lalu melangkah pergi meninggalkan Vania yang masi diam.


Vania pelan-pelan duduk kembali di kursi taman, dia meneteskan air mata, "Kenapa kenyataannya begitu sakit setelah di jalani, ya tuhan kuatkan lah diriku ini" dengan nada terisak.


Tidak jauh dari tempat Vania, Meli masi berdiri melihat Vania menangis dan juga dia ikut menangis, "Kak Vania aku akan melahirkan anak dari kak Ariya dan menyerahkannya pada kalian dan menata kembali hidupku yang cuma bisa jadi orang ketiga di rumah tangga orang lain".


*******


Di dalam ruangan kerja Ariya, terlihatlah dia sangat sibuk di depan leptopnya, tiba-tiba pintu di buka seseorang, ternyata Vania yang datang membawa secangkir kopi kemudian duduk di sofa ruangan tersebut, menuggu Ariya selesai bekerja.


Ariya melirik Vania yang menunggunya, kemudian menutup leptopnya lalu berjalan duduk di samping Vania, "Kenapa sayang, ada yang ingin kamu sampaikan" tanya Ariya.


"Iya ada begini sayang, aku berencana ingin membawa mamah berobat di luar negri" ucap Vania dengan wajah serius.


Ariya tidak menjawab, dia cum menatap Vania dengan tajam, Vania menunduk karena sudah pasti Ariya mengetahui maksud kepergiannya.


Ariya berdiri dari kursi dan membelakangi Vania, "Kamu tidak perlu pergi, karena secepatnya aku akan melakukan kewajiban ku" ucapnya dengan tegas.


Vania menelan ludahnya kasar, begitu sesak dadanya tapi dia berusaha menyembunyikan perasaannya. Vania lalu berdiri dan memeluk lengan Ariya, "Sayang izinkan aku pergi, aku janji tidak akan lama" sambil tersenyum melihat ke arah Ariya.


Ariya tidak menjawab, dia cuma menarik Vania dalam pelukannya, "Jangan berpura-pura tegar di hadap ku, aku tau yang kamu rasakan separuh jiwaku bersamamu" ucap Ariya dengan mencium pucuk kepala Vania. "Pergilah jika itu yang membuatmu tenang" sambung Ariya.

__ADS_1


__ADS_2