
Setelah selesai syuting Elena bergegas ke perusahaan wiraguna group, untuk menemui Arvan.
Setalah sampai Elena langsung keruangan Arvan tampa mengetuk pintu dan ternyata Arvan dan Andra sedang duduk bicara pekerjaan di sofa.
Arvan dan Andra serentak menoleh melihat kedatangan Elena, dan saling memandang.
"Baik Arvan aku permisi dulu, karena semuanya sudah jelas" ucap Andra sambil berdiri.
"Oke kak" jawab Arvan dan mengikuti Andra berdiri.
"Elena masuk lah, aku akan keluar" ucap Andra pada Elena yang berdiri mematung melihat kedua saudara sedang bersama.
"Santai saja kak, jika ada yang ingin di bicarakan saya bisa menunggu" sambung Elena lalu melanjutkan langkahnya.
"Tidak Elen, aku keluar dulu" lalu berjalan membuka pintu.
"Ada apa Elen tumben kamu kesini, kangen yah?" tanya Arvan dengan bersandar di sofa.
"Kalau kangen kenapa?, kamu kan suami aku" jawab Elena membalas godaan Arvan, sambil duduk di samping suaminya.
Arvan terkejut mendengar jawaban Elena, kemudian menoleh melihat istrinya.
__ADS_1
"Jadi sekarang kamu bisa menerima pernikahan kita?" tanya Arvan sambil melihat Elena tampa berkedip.
"Bukan menerima, tapi kenyataanya hubungan kita sah di dalam hukum dan agama" ucap Elena mengikuti pernyataan Arvan.
Arvan kemudian tersenyum, "Elena itu penyataan ku" ucap Arvan lalu mengambil tangan Elena dengan lembut.
"Iya sengaja aku sindir, ada yang salah" balas Elena.
Arvan kemudian menggenggam jemari Elena, "Elena sekarang kamu sudah sadar kalau kita ini sudah sah menjadi suami dan istri, jadi apa salahnya kita sama-sama membuka hati" ungkap Arvan dengan nada berat dan serius.
Elena tidak bisa menjawab, tiba-tiba dia merasa gerah, apa lagi sekarang Arvan menggenggam tangannya dengan lembut.
Arvan tersenyum melihat tingkah Elena, lalu mencium pipih Elena tampa bicara dan berdiri ke kursi kebesarannya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Membuat Elena membulatkan matanya sambil memegang pipinya, dia benar-benar terkejut dengan sikap Arvan yang tiba-tiba menciumnya begitu saja.
"Kamu di sini saja Elena, kalau tidak sibuk" sahut Arvan.
"Tidak, aku ingin pulang dan istirahat" ucap Elena sambil berdiri.
"Istirahat! kamu bisa istirahat di sini" balas Arvan dengan santi.
__ADS_1
Elena menoleh melihat Arvan, karena menurutnya mana mungkin istirahat di ruangan yang ada hanya sofa.
Arvan menatap wajah Elena yang penuh tanda tanya, lalu berdiri berjalan ke sudut rungan, kemudian memencet tombol di tembok, pintu pun seketika terbuka dan terlihat ada ruangan istirahat, layaknya kamar yang tersedia ranjang di sana.
Elena berjalan ke arah Arvan, karena dia tidak menyangka Arvan juga mempunyai ruangan rahasia.
"Masuk lah Elena" ucap Arvan sambil memberi jalan pada Elena.
Elena berjalan masuk, "Sudah berapa wanita kamu masukkan di sini Van?" tanya Elena penasaran tapi tidak ada nada cemburu.
"Kamu yang pertama, bahkan Nara tidak mengetahuinya" jawab Arvan dengan santai.
"Aku tidak percaya seorang Arvan wiraguna tidak pernah membawa wanita ke ruangan ini" ucapnya lalu menatap Arvan.
Arvan membalas tatapan Elena tampa berkedip, sambil satu tangannya memencet tombol seketika pintu tertutup.
Elena melihat ke arah pintu yang tertutup tapi tidak berani berkomentar, dia kemudian melihat sekeliling ruangan itu mencari kamar mandi.
"Kamar mandi di sana" ucap Arvan sambil menunjuk ke arah kamar mandi.
Elena segera masuk tampa bicara apa pun.
__ADS_1