Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
MINGGU DEPAN KITA MENIKAH


__ADS_3

Tangan Vania berada di pipi Ariya, kemudian mencium telapak tangan Vania sambil memejamkan matanya.


Vania kembali tersentuh dengan perlakuan manis Ariya, kemudian Vania menarik bahu Ariya memeluknya.


Tangis Ariya pecah dan sesegukan sambil berucap, "Vania berada lah terus di sisiku, jangan pernah mencoba lari dariku"


Vania menyandarkan kepala Ariya di dadanya "Kita akan selalu bersama" sambil mengusap kepala Ariya.


Sekarang Ariya sudah lebih tenang setelah meluapkan isi hatinya, Ariya sedang baring di paha Vania.


Karena jarak wajah Ariya dengan dada Vania sangat dekat, jiwa ke lelakian Ariya mulai bangkit. Perlahan-lahan Ariya membaringkan Vania di sofa sambil mencium b*birnya dan meninggalkan jejak kepemilikan di leher Vania.


Karena dua insan manusia ini sama-sama saling merindukan, aksinya pun berlanjut di ranjang dan tidak dapat di helakkan lagi malam panjang pun di lalui bersama.


Sampai azan subuh dua insan manusia itu masi bertarung, entah berapa kali mereka melakukan pelepasan cuma tanda ke pemilikan yang tersisa di tubuh Vania.


Barulah mereka tertidur saat fajar mulai menampakan sinarnya.


Waktu berputar siang pun tiba Vania mulai tersadar dan menyadari bantalnya ternyata lengan Ariya.


Vania melihat wajah Ariya yang terpejam dan meraba perutnya yang mirip roti sobek, sambil membayangkan pertarungannya semalam kemudian tersenyum.


"Sayang jangan terlalu mengagumi tubuhku, semua itu milikmu" ucap Ariya masi dengan mata terpejam.


"Sayang bangun aku lapar" ucap Vania sambil merengek.


Ariya kemudian duduk di ranjang, lalu menghubungi Yuda, "Yuda antarkan dua porsi makanan di kamarku dan 1 set pakaian wanita".


Vania baru saja keluar dari kamar mandi memaki kimono mandi terlihat segar, Ariya kemudian menarik tangan Vania duduk di pangkuannya, "Sayang terima kasi untuk semalam, permainanmu masi sama" lalu menc*um b*bir Vania dengan lembut.


Tiba-tiba pintu di ketuk, Ariya menghentikan aksinya dan memakai kimono tidurnya sengaja tidak di ikat cuma memakai boxser, kemudian membuka pintu.


Ternyata Yuda yang membawa makanan dan paper bag, "Ini tuan makanannya" sambil menyerahkan apa yang di bawanya.


Yuda penasaran siapa wanita yang bersama bosnya di dalam, "apa kah nona Vania" batinnya.


"Maaf tuan, apa perlu saya mengantar makanan juga di kamar nona Vania?" pancing Yuda.


"Jangan sok polos Yuda, kamu tentu tau kalau wanita yang di dalam adalah Vania", sambil menutup pintu.


Yuda masi di luar pintu, "Akhirnya keras kepala nona Vania, bisa di taklukan oleh tuan Ariya" dan pergi dari situ.


Sekarang Vania sudah memakai baju yang di bawa yuda tadi, dan Ariya juga sudah mandi, keduanya sedang makan siang.


Ariya mulai bicara "Vania sayang, aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat" sambil mengusap mulutnya dengan sapu tangan.


"Di mana Ariya" sambil makan dengan lahap, bahkan cara makanya tidak seperti saat menjadi sekertaris, tidak ada anggun-anggunnya jika bersama Ariya.


"Kalau aku bilang sekarang nanti tidak jadi kejutan" sambil membersikan bibir Vania yang ada sisa makanan.


"Maaf yah Ariya, aku makanya berantakan" kemudian mengambil air.


"Aku suka kamu yang seperti ini apa adanya, kalau sekertaris Vania sih kayaknya orang asing, dia terlalu jutek dan formal" ucap Ariya membandingkan dua ke pribadian Vania yang berbeda.

__ADS_1


"Ariya!" ucapnya manja sambil memonyongkan bibirnya.


Ariya mendekati Vania dan memeluknya sambil mengusap lembut pucuk kepala Vania, "Aku suka semua yang ada dalam dirimu".


Sekarang mobil Ariya menuju kawasan puncak, meninggalkan hotel yang di tempati. mobil Ariya kemudian berhenti di salah satu villa dengan pemandangan yang sangat indah. Villa itu sudah di hias segala macam rupa.


"Kita sudah sampai sayang" ucap Ariya sambil mengambil penutup mata.


"Itu untuk apa sayang?" tanya Vania.


"Sekarang kamu tutup mata yah" sambil menutup mata Vania dengan kain hitam.


Ariya kemudian menuntun Vania kesamping villa yang terdapat bukit yang sudah di hias sangat indah, di tambah pemandangan dari bukit tersebut, menambah keromantisan tempat itu.


Ariya perlahan-lahan membuka penutup mata Vania, kemudian Vania membuka matanya, "Ariya ini sangat indah" sambil memandangi tempat itu tampa berkedip.


"Di sini sangat damai Vania, jauh dari perkotaan" sambil memandang Vania yang masi mengagumi tempat itu.


"Ariya coba cubit aku, aku tidak bermimpi kan?" dengan menoleh melihat Ariya.


"Tidak sayang ini nyata" sambil merangkul Vania.


"Ariya aku tidak pernah membayangkan sebelumnya aku bisa bertemu kamu lagi" dengan air mata yang menetes.


Ariya kemudian memegang ke dua pipi Vania dan menghapus air mata Vania, "Tidak akan ada lagi yang memisahkan kita sayang".


"Ariya kamu benar, kenapa aku tidak punya pasangan setelah kamu pergi, aku selalu menunggu pemilik kalung ini" sambil memegang kalungnya.


"Vania kamu tau di saat aku melihatmu di bandara, disitu aku yakin kalau di matamu itu masi ada cinta untukku" sambil memeluk Vania dan mencium pucuk kepalanya.


Ariya kemudian mengambil kotak merah di saku celanaya dan berlutu di depan Vania sambil membuka kotak cincin berlian itu "would you merry me", dengan menatap Vania penuh harapan.


Vania benar-benar speechless matanya berkaca-kaca, "Iya Ariya aku mau" jawab Vania di tengah harunya.


Ariya langsung berdiri dan memeluk Vania dengan erat, "Makasih sayang" dengan suara yang serak karena terharu juga.


Hembusan angin di bukit itu menerpa keduanya, "Sayang aku akan mempersiapkan pernikahan kita, minggu depan kita menikah" ucap Ariya sambil melepaskan pelukannya.


"Iyya" jawab Vania sambil mengangguk.


Ariya menatap wajah Vania dan terfokus pada bibir Vania yang sudah menjadi candunya.


Ariya memegang pipi Vania dan ibu jarinya memegang pinggir bibir Vania, Vania yang mendapat perlakuan lembut reflek memejamkan matanya.


Ariya tidak menuggu lama, langsung saja ******* b*bir Vania dengan lembut dan cukup lama.


***********


Vania dan Ariya sudah pulang, Vania di apartemennya siap-siap karena hari ini akan fitting baju pengantin.


Penampilan Vania sangat modis, dia tau memilih pakaian mana yang cocok dengannya.


Vania sudah ada di dalam mobil Ariya, "Ariya sekertaris Yuda mana?" tanya Vania sambil melihat sekeliling karena biasanya Yuda akan duduk di samping sopir.

__ADS_1


"Hei nona Vania yang akan fitting baju pengantin itu aku, bukanya Yuda jadi untuk apa kamu mencari dia" ucap Ariya dengan menatap tajam Vania.


"Ternyata tuan Ariya ini lagi cemburu dengan sekertaris nya yah", sambil memegang lengan Ariya manja.


"Terus kenapa kamu mencarinya?" ucapnya ketus. "karena biasanya kan selalu bersama kamu".


"Baru saja Vania selesai bicara, Yuda sudah datang dan langsung masuk ke samping sopir, "Maafkan saya tuan, sudah membuat anda menunggu" ucap Yuda.


"Ya sudah jalan" perintah Ariya kepada sopirnya.


Sementara di perjalan ke butik Ariya bertanya ke Vania, "Sayang kamu mau tema pernikahan kita seperti apa?" sambil mengusap rambut Vania.


"Aku mau autdoor sayang" jawab Vania dengan mengalungkan tangannya ke perut Ariya.


"Yuda kamu dengar itu, dia mau tema autdoor", Ariya mengalikah pembicaraan ke yuda.


"Baik tuan" jawab yuda sambil melihat bosnya di spion.


Akhirnya mereka sudah sampai di salah satu butik ternama. Melihat kedatangan Ariya semua pegawai butik menunduk hormat karena sudah tau kalau yang datang adalah CEO wiraguna group.


"Selamat sore tuan Ariya" sapa pemilik butik tersebut.


"Sore Siska" jawab Ariya.


*Pemilik butik itu bernama Siska salah satu desainer ternama.*


"Ada yang bisa kami bantu tuan?" tanya siska.


"Carikan baju yang cocok untuk calon istriku" sambil merangkul pinggang Vania.


"Oh ini calon istri anda tuan cantik sekali, akan aku perlihatkan desain terbaik di butik kami" ucap Siska memuji Vania.


"Mari nona saya antar melihat bajunya" sambil mengarahkan Vania ke tempat baju dan Ariya duduk di sofa


Pertama Siska membawa Vania ketempat baju yang bertabur penyet dan mutiara.


"Silahkan nona, nona mau model seperti apa" tanya Siska.


"Maaf yah buk Siska, tema pernikahan kami autdoor" ucap Vania karena dia melihat baju yang di depannya terlalu berlebihan.


"Oh maaf nona, ayo ke sebelah sana" sambil menunjuk kesamping ucap Siska dengan sopan.


"Ini nona tema autdoor terbaru yang belum pernah ada orang yang memakai modelnya" sambil membatu Vania untuk mencobanya.


Sekarang Vania keluar dengan baju pengantin, warna putih yang bahu terbuka dengan perut yang ramping. Gaunnya tidak terlalu rumit tapi terlihat elegan di pakai Vania, karna tubuh Vania tidak terlalu tinggi.


Ariya yang melihatnya cuma terpukau dan berdiri dari duduknya, "Ini sangat cantik sayang" sambil memegang legan Vania, Vania cuma tersenyum.


Yuda yang melihat Vania yang sangat cantik dengan gaun pengantin, dia kagum melihat ke cantikan calon istri bosnya, "pantas saja tuan ariya tergila-gila sama anda nona, nona memang sangat cantik dan lembut" batin Yuda.


Ariya kemudian berbicara kepada Siska, "Siska aku mau baju ini" dengan masi menatap Vania tampa berkedip.


Selanjutnya Ariya yang memilih baju dan Siska memilihkan yang sesuai dengan baju Vania. Tidak terlalu susah memilihnya karena baju apa pun yg pakai Ariya pasti akan cocok karena dia mempunyai postur tubuh yang tinggi dan atletis. Lagi pula butik itu, butik langganan Ariya.

__ADS_1


Akhirnya fitting hari itu selesai. Ariya mengantar Vania pulang dan kembali di rumahnya.


__ADS_2