Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
HALO SAYANG


__ADS_3

Saat ini Andra sedang mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, dan berhenti di museum mamahnya.


Andra masuk dan melampiaskan amarahnya di sana, "Aaaaahg" teriak Andra.


Andra melihat foto mamahnya yang terpajang di ruangan itu dengan ukuran besar.


"Andai bukan mamah yang meminta aku untuk tidak ikut campur di perusahaan wiraguna group, aku sudah pasti di sana memperjuangkan wanita yang aku cintai" ungkap Andra.


"Kata mamah aku tidak boleh berada di sana, tapi kalau seperti ini apa yang harus Andra lakukan" ucap Andra bicara pada foto mamahnya.


Sementara di tempat yang berbeda Ariya dan Vania sedang menikmati minum bersama di sebuah tempat golf.


"Sayang apa kamu yakin dengan keputusan untuk menjodohkan Arvan dan Elena" tanya Vania pada Ariya.


"Apa kali ini kamu meragukan keputusanku sayang" tanya balik Ariya dan menatap Vania penuh cinta.


"Aku tidak pernah meragukan keputusanmu, tapi seperti yang kita tau kalau Arvan sudah menganggap Elena sebagai sahabat dan adiknya sendiri" ucap Vania berharap suaminya berubah pikiran.


"Tidak kah kamu melihat betapa besar cinta Andra untuk Elena" ungkap Ariya.


"Aku bisa melihat itu sayang, tapi kenapa kamu masi kekeh menjodohkan Arvan dan Vania" ucapnya dengan memasang wajah tidak mengerti.


"Oleh sebab itu, aku melakukan semua ini agar Andra bisa mengurus tanggung jawabnya di perusahaan" ucap Ariya sambil berdiri dengan kedua tangan di saku celananya.


Vania kemudian berdiri di samping Ariya dan merangkul lengan suaminya, "Sayang apa nantinya tidak akan memicu peran saudara?".


"Tenang saja sayang, aku percaya dengan putra kita, dia tidak haus dengan kekuasaan" ucap Ariya sambil mengelus tangan Vania di lengannya.


********


Saat ini Elena baru keluar gedung tempatnya pemotretan, sedang melakukan sesi wawancara, terkait pertunangannya yang akan di gelar, Elena kemudian mengatakan kalau itu semua baru di rencanakan.


Ternyata di luar gedung, sudah ada Arvan sedang berdiri di depan mobil menunggu Elena dan melipat kedua tangannya di dadanya.


Kehadiran Arvan telah di sadari para wartawan, "Lihat itu, tuan mudah Arvan" ucap salah satu wartawan.


Elena melihat ke arah di mana Arvan berada, dengan memasang ekspresi tidak senang, sementara itu Arvan masi berdiri di tempatnya sambil tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Elena.


Elena secepatnya mendekati Arvan dan menarik tangan Arvan masuk mobil, Arvan ikut saja masuk tampa berkomentar.


"Jalan pak, ke basecamp kami" perintah Elena pada sopir Arvan. Kemudian mobil melaju ke jalan raya.

__ADS_1


Setelah sampai di basecamp, Elena masi memasang muka masam.


"Arvan kenapa kamu harus ke sana tadi, itu semua akan menguatkan berita pertunangan kita benar adanya" ucap Elena sedikit kesal.


"Hei Elena, sejak kapan kamu tidak senang saat bersamaku, seharusnya kamu senang dengan semua ini" ucap Arvan dengan santai.


"Iya aku senang, andai itu beberapa waktu yang lalu, tapi sekarang lain cerita" ungkap Elena.


"Wow ternyata sahabat aku ini cepat sekali dewasanya" sambil berdiri mengacak-acak rambut Elena.


"Iya dong Van, untuk apa aku menunggu bongkahan es yang tidak tau kapan melelehnya" lanjut Elena.


"Jadi kamu tidak setuju dengan pertunangan kita" tanya Arvan.


"Bisa di bilang begitu, tapi aku tidak tau cara untuk membatalkannya" jawab Elena.


Tiba-tiba dari arah luar datanglah Aditya, "Wah ternyata calon pengantin sedang berduaan di sini, di belakang Andra" ucap Aditya.


Arvan langsung menatap tajam pada Aditya, "Kamu bilang apa, berduaan di belakang Kak Andra" tanya Arvan.


Aditya jadi panik dan tidak tua harus mengatakan apa, "Aku pulang dulu" ucap Aditya mengalihkan pembicaraan sambil berdiri dan secepatnya pergi.


Arvan berusaha mengejar Aditya agar tidak pergi, tapi Elena menahan tangan Arvan, "Biar aku yang jelaskan" ucap Elena.


"Aku dan kak Andra sudah berpacaran" jujur Elena.


Arvan langsung tersenyum dan duduk kembali di sofa, saat ini dia sangat bangga dengan kakaknya karena sudah bisa mengungkap perasaannya.


"Sekarang tinggal membatalkan pertunangan kita" ucap Arvan melihat Elena.


"Tapi saat ini kak Arvan, tidak bisa di hubungi" tutur Elena.


"Aku rasa di berusaha menghindar, karena satu yang bisa membatalkan pertunangan kita adalah dirinya" sambung Arvan.


"Maksudnya" tanya Elena tidak mengerti.


"Kamu taun kan, pertunangan kita ada kesepakatan bisnis, antara wiraguna group dan Prakasa group, dan juga untuk menghapus berita tentang status sosial Nara" terang Arvan berusaha menjelaskan pada Elena.


"Terus Van" ucap Elena menunggu penjelasan Arvan.


"Semua orang tau kan kalau pewaris wiraguna group adalah kak Andra, jadi kesimpulan jika kak Andra mau bertanggung jawab di perusahaan, perjodohan ini akan jatuh padanya" ucap Arvan panjang lebar agar Elena bisa mengerti.

__ADS_1


"Sekarang aku mengerti, yang jadi pertanyaan kenapa kak Andra sangat tidak ingin menginjak perusahaan wiraguna group" ucap Elena.


"Kamu benar, kita harus mencari tau itu" sambung Arvan. Di balas anggukan oleh Elena.


"Kalau begitu aku pulang dulu Elen" ucapnya sambil mengusap pundak Elena.


Setelah sampai di apartemennya Arvan langsung mandi, dan setelah mandi Arvan sedang menyalakan rokoknya dengan pakaian rumah.


Kemudian mengambil HPnya dan menelpon Nara, muncullah wajah Nara di layar HPnya.


"Hallo sayang" sapa Arvan sambil mengangkat satu tangannya.


"Kamu di apartemen ini" tanya Nara sambil mengamati latar di mana Arvan berada.


"Benar sekali, aku di kamar sekarang" jawab Arvan sambil berbaring di sofa dan menjadikan sat tangannya bantal.


Nara tersenyum sangat manis "Sekarang kak Arvan tidur dulu".


"Aku masi kangen sayang" ucap Arvan dengan lembut.


Nara tidak menjawab, tapi dari layar HP Arvan, terlihat Nara sedang berjalan keluar kamarnya dan menuju pintu kamar Arvan.


"Sekarang buka pintunya" ucap Nara yang sudah berada di depan pintu kamar Arvan.


Arvan kemudian berdiri membuka pintu kamarnya, "Masuk lah sayang".


"Kita di luar saja yah" ucap Nara lalu mengigit bibir bawanya.


Arvan langsung menarik tangan Nara masuk dan duduk di sofa.


"Nara sekarang kamu jangan khawatir, Elena dan Andra sudah pacaran" ungkap Arvan.


"Benarkah? kenapa hidup para orang kaya sangat ribet" pikir Nara.


"Sekarang kamu jangan memikirkan itu, percaya semuanya padaku" ucapnya sambil berbaring di paha Nara.


"Sayang mau kah kamu jujur padaku, apa kah kak Andra masi ada di dalam sini" sambil menunjuk dada Nara yang besar.


Nara tidak menjawab, dia lalu memegang rahan Arvan dan menatapnya dalam-dalam.


Arvan yang terbawa suasana memegang dada Nara langsung saja, menangkap leher Nara dan mencium bibirnya.

__ADS_1


Kali ini Nara tidak melawan, dia menikmati ciuman Arvan dan berusaha membalas ciuman Arvan.


Keduanya pun bercumbu di atas sofa, membuat pakaian Nara sudah berantakan dan Arvan menyisakan beberapa tanda merah di leher Nara. Tapi segera mereka menghentikan aksinya karena menyadari sudah berlebihan.


__ADS_2