Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
PERNIKAHAN ARVAN DAN ELENA


__ADS_3

Tibalah saatnya hari pernikahan Arvan dan Elena, kedua keluarga sudah berkumpul, acara di gelar autdoor.


Acara akad berlangsung tertutup, acara pun sudah selesai tapi tidak terlihat Andra.


Arvan menatap Elena dan mencium keningnya, "Elena mungkin aku belum bisa mencintai mu, tapi aku bisa janjikan kesetiaan padamu" bisik Arvan.


Elena yang mendengar ucapan lembut Arvan, membuat aliran daranya berhenti sejenak.


"Arvan biasa saja, jangan sok lembut seperti itu" ucap Elena.


"Kenapa Elen? Kamu takut tertarik lagi padaku" ucap Arvan tapi melihat para tamu.


"Arvan apa sih, jadi malas bicara ama kamu" gumam Elena. Diam-diam Arvan tersenyum sudah menjahili Elena.


Dari arah luar datanglah Andra dan Nara layaknya sepang kekasih, dan langsung menghampiri kedua pengantin.


"Selamat yah kalian berdua" ucap Arvan saat sudah berada di depan keduanya.


"Selamat kak Arvan dan Elena" timpal Nara.


"Terima kasih kalian sudah mau hadir di acara ini" balas Elena.


"Silahkan nikmati pestanya, aku ke sana dulu" ucap Arvan kemudian meninggalkan ketiganya.


"Nara aku ingin bicara denganmu, selama ini kita tidak pernah bicara berdua" ucap Elena.


"Baik, kalau begitu aku harus pergi" sahut Andra dan menjauh dari dua wanita yang kurang akrab tersebut.


"Elena aku akui hari ini kamu sangat cantik" puji Nara setelah Andra pergi.


"Nara mungkin hubungan kita sangat rumit, tapi aku bisa tau cara pandanganmu pada kak Andra, tidak lah biasa" tebak Elana.


Nara sedikit kaget dengan penilaian Elena, "Iya Elena aku mengagumi kak Andra sebelum mengenal kak Arvan" terang Nara.


"Sudah bisa di tebak Nara, karena ketegaran mu menghadiri pesta ini itu luar biasa, alasannya itu semua karena kak Andra berada di sampingmu" ucap Elena.


"Kalian sedang membicarakan apa?" sahut aditya dari belakang.


"Adit bikin kaget saja" ucap Elena.


"Selamat yah buat sahabatku yang manja, semoga ini pernikahan yang terakhir" ucap Aditya.

__ADS_1


Elena jadi terharu mendengar doa dari salah satu sahabatnya, dan langsung memeluk Aditya.


"Adit di antara kita berempat, kamulah yang paling bijak" ucap Elena dalam pelukan Aditya.


Nara yang melihat mereka menjadi kagum dengan persahabatan mereka berempat.


Andra yang menghampiri mereka langsung menarik lengan Elena, "Jangan dekat-dekat sekarang Elena bukan sekedar sahabat kita lagi, tapi istri seseorang" ucapnya sambil merangkul bahu Elena.


Aditya memukul tangan Andra di bahu Elena, "Sekarang tangan bapak di kondisikan" canda Aditya.


Pesta pun berlangsung meriah, dan komentar di sosial media semuanya memberi selamat, karena sudah lama mereka mengharap Elena dan Arvan bisa bersama


Setelah pesta yang melelahkan, sekarang malam telah tiba, para tamu undangan sudah pulang dan saat ini Elena dan Arvan hanya berdua.


"Elena ikut denganku" ajak Arvan sambil berjalan, Elena ikut saja di belakang Arvan.


Benar-benar tidak terlihat seperti pengantin baru, untung saja tempat itu sudah tidak ada awak media, kalau media melihatnya bisa jadi di jadikan bahan berita.


Arvan menuju mobilnya dan meminta kunci mobil pada sopirnya, "Ayo naik" panggil Arvan pada Elena.


Tampa di suruh dua kali, Elena naik ke depan, di susul Arvan masuk mobil dan mengemudi perlahan.


Elena benar-benar canggung, satu mobil dengan Arvan yang sudah berstatus suaminya sekarang. Elena diam saja, begitu pula Arvan tidak bicara membuat keheningan.


Tidak lama kemudian mobil sampai di halaman rumah mewah, yang cukup besar.


"Turun lah Elena" ajak Arvan.


Elena yang masi memakai baju pengantin, turun dari mobil Arvan dan mengikuti langkah Arvan yang duluan masuk.


Rumah itu nampak sepi dan tidak terlihat ada pelayan di rumah itu, Elena melihat sekeliling dan penasaran untuk apa Arvan membawanya ke rumah itu.


Elena mendekati Arvan, "Ini rumah siapa Van sepi amat seperti kuburan" tanya Elena.


"Ini rumah ku Elen, rumah ini aku beli dengan bisnisku sendiri, di luar perusahaan wiraguna group" ungkap Arvan.


"Terus kok rumah ini tidak ada pelayang" tanya Elena penasaran.


"Karena rumah ini tidak ada orang, baru besok pelayang akan datang" jawab Arvan.


"Kalau tidak ada yang tempati, kenapa beli rumah?" tanyanya lagi sambil melangkah ke depan.

__ADS_1


Arvan berjalan ke depan Elena, "Aku sengaja membuat rumah ini untuk istri aku nantinya" ucap Arvan.


"Tapi kan Van, pernikahan ini hanyalah keterpaksaan kenapa membawa kesini?" sambung Elena.


Arvan tidak menanggapi pertanyaan Elena, "Ayo naik, kamu mau pakai baju pengantin terus" ucapnya sambil berjalan naik.


Meski ragu Elena mengikuti langkah Arvan untuk naik ke kamar. Benar-benar pernikahan yang tidak di impikan Elena selama ini, tidak ada romantisnya sama sekali.


Setelah berada di depan pintu kamar, Arvan pelan-pelan membuka pintunya, ternyata kamar itu sudah di dekor layaknya kamar pengantin pada umumnya.


Arvan masuk dan di ikuti Elena di belakangnya, Arvan langsung melepas jasnya dan melemparnya di atas ranjang.


Sementara Elena berjalan duduk keranjang, dia tidak tau harus ngapain.


"Elena kamu tidak mandi" ucap Arvan sambil melonggarkan dasinya.


"Arvan apa ada kamar lain di rumah ini?" tanya Elena.


"Ada, kamu tidak suka kamar ini?" tanya balik Arvan.


"Aku suka kamar ini sangat bagus, jujur aku tidak nyaman dengan semua ini, yang awalnya kita sahabat dan harus sekamar bersama" jujur Elena.


"Aku suka kejujuran mu Elen, tapi kamu harus terbiasa karena selamanya akan seperti ini" ucap Arvan dengan menatap Elena.


"Tapi Van, kamu tau sendiri kan aku tidak bawa pakaian satu pun, jadi bagaimana cara aku bisa mandi" tutur Elena.


"Sekarang kamu masuk di kamar ganti, di sana sudah tersedia perlengkapan kamu" sambil menunjuk kamar ganti yang ada di kamar itu.


"Makasih Arvan" ucap Elena kegirangan.


"Dan di meja rias itu, sudah tersedia skincare yang sering kamu pakai" ucap Arvan sambil melepas kancing bajunya.


Elena langsung berdiri dan reflek memeluk Arvan, karena merasa senang keperluannya sudah di siapkan, "Sekali lagi makasih Van".


"Harusnya kamu berterima kasih dengan asisten mu, dia sudah menyiapkan semuanya" ucap Arvan sedikit tegang karena pelukan tiba-tiba Elena.


"Sama saja kan, kamu yang menyuruhnya" ucap Elena sambil melepaskan pelukannya, Arvan hanya mengangguk karena fokusnya teralihkan, oleh kecantikan Elena yang sangat cantik dari dekat.


"Tapi Van, tapi aku masi bisa berada di dunia modeling kan" pinta Elena menggenggam kedua lengan Arvan.


Arvan melepaskan tangan Elena, "Sepertinya tidak Elen, kamu karus memilih pekerjaan dan jangan memilih pekerjaan yang terlalu seksi" ucap Arvan.

__ADS_1


"Arvan kamu ini keterlaluan yah, sekarang aku baru sadar kenapa dulu aku bisa sangat mengagumimu, padahal kamu manusia paling menyebalkan yang pernah aku temui" protes Elena sambil menghentakkan kakinya duduk di ranjang.


"Mau tidak mau kamu harus mengikuti peraturan ku, sebagai suami kamu" ucap Arvan kemudian berlalu masuk kamar mandi.


__ADS_2