
Akhirnya pesta telah usai, jam menunjukkan pukul 01:00. Ariya sedang duduk di ruang kerjanya dengan menuang sebotol wine di gelasnya, dia meneguk isi gelasnya sampai habis.
Ariya sedang membayangkan kata-kata Meli yang mempertanyakan ketulusannya, dan kata-kata Vania yang apa kah dia bisa bertahan.
Ariya juga membayangkan, saat Vania tertawa saat bersama Dani, dan juga pernyataan Dani yang sangat mengagumi Vania, sambil Ariya mengisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.
"Benar aku terlalu egois, bahkan aku menyakiti 2 wanita sekaligus" ucap Ariya.
"Apa suatu saat aku harus melepaskan Vania demi kebahagiannya" sambil meneguk isi gelasnya lagi.
Berulang kali Ariya meneguk wine yang sudah di tuang sendiri di gelasnya, membuat emosinya tidak terkendali.
Tenyata penyakit Ariya mulai kambuh, ternyata dengan memikirkan Vania saja pergi darinya bisa memicu penyakitnya kambuh.
Ariya kembali tidak bisa mengontrol emosinya, dia melempar semua barang-barang yang ada di depannya, hingga terdengar keributan dari luar.
Vania yang ingin menemui Ariya di ruang kerjanya, kaget saat mendengar keributan dalam kamar.
Vania segera membuka pintu ruang kerja Ariya, betapa kagetnya Vania setelah melihat ke adaan Ariya.
"Ariya ada apa ini?" tanya Vania sambil mendekati Ariya.
Ariya yang melihat Vania datang langsung memeluknya dengan erat dengan menyembunyikan wajah di dada Vania, dengan posisi Ariya sedang duduk di sofa sedangkan Vania berdiri.
Ariya menangis sesenggukan, Vania mencoba menenangkannya, "Sayang penyakit kamu kambuh, kenapa bisa?" tanya Vania dengan khawatir.
Ariya belum menjawab, dia makin mempererat pelukannya pada Vania dan makin menyembunyikan wajahnya di dada Vania, membuatnya nyaman.
Vania mengelus rambut Ariya, hingga berapa saat Ariya mulai sedikit tenang, Ariya kemudian mendudukkan Vania di satu pahanya.
"Sayang memikirkan untuk melepaskan dirimu saja, membuat penyakit ku kambuh" ucap Ariya dengan menatap Vania.
Vania mengusap air mata Ariya, "Sayang aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan bertahan meski pun menyakitkan, karena lebih menyakitkan lagi melihat orang yang ku cintai tersiksa seperti ini" tutur Vania dengan meneteskan Air matanya.
"Berjanji lah Vania tidak akan meninggalkan ku, meski apa pun yang terjadi" ucap Ariya masi di selah isak tangisnya.
"Iya aku janji Airya, akan selalu di sisimu" ucap Vania, kemudian memeluk kembali Ariya dalam dekapannya.
Tenyata semua apa yang terjadi barusan, di saksikan oleh Meli yang berada di balik pintu.
Meli sangat shock menyaksikan sendiri penyakit Ariya yang kambuh, Meli menutup mulutnya dan berlari pergi karena takut Ariya dan Vania melihatnya.
__ADS_1
Meli masuk di kamarnya, dia menangis membayangkan kejadian yang baru saja di lihatnya.
"hiiiks... hiiiks... sungguh aku benar-benar baru menyadari kalau menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka" tuturnya Meli di selah tangisnya.
Meli mengusap air matanya, "Aku janji pada diriku sendiri, akan menghapus nama Ariya wiraguna dalam hati ini" dengan menatap lurus ke tembok.
********
Hari minggu telah tiba, hari ini Meli akan pindah ke rumah yang sudah di sediakan Ariya, beberapa hari yang lalu.
Ariya dan Vania sedang fitnes, di ruangan khusus yang sudah tersedia berbagai alat fitnes.
"Sayang hari ini Meli akan pindah" ucap Ariya di selah aktifitas fitnesnya.
"oh ya, boleh aku ikut?" tanya Vania lalu duduk meminum air.
"Boleh banget kak Vania" sahut Meli dari belakang dengan membawa 3 gelas es jeruk.
"Meli kamu di sini, mau ikut olahraga dengan kami?" tanya Ariya.
"Kak Ariya ingin membahayakan Ariya junior, olahraga tampa dampingan ahlinya" jawabnya sambil memegang perutnya.
"Aku bercanda Mel, ayo duduk dulu" ucap Ariya sambil ingin memegang pundak Meli, tapi Meli mundur sedikit, membuat Ariya menghentikan tangannya.
Ariya dan Vania saling bertatapan, menyadari kalau Meli menghindari kontak fisik dengan Ariya.
"Mel besok jadwal kamu untuk periksa kandungan" ucap Ariya sambil meminum jusnya.
"Kak Vania antar kan aku yah" ucap Meli dengan melihat ke arah Vania.
Vania melihat ke arah Ariya, di balas anggukan oleh Ariya, "Baik Meli, besok kita pergi".
Setelah semuanya meminum jusnya, Meli kembali ke kamarnya untuk mandi, dia sedang mandi sambil bernyanyi. Setelah selesai mandi, Meli keluar dari kamar mandi dengan memakai kimono mandi.
Meli sangat kaget melihat Ariya sedang duduk di ranjangnya dengan menatap ke arahnya. Meli mencoba tidak mempedulikan keberadaan Ariya, dia berjalan santai ke depan meja rias.
Ariya berjalan mendekati Meli dan berdiri di belakangnya, "Kak Ariya sedang apa di kamar Meli" tanya Meli dengan nada dingin.
"Sayang bukankah ini kamar istri aku, jadi apa salahnya" jawab Ariya sambil ingin memeluk Meli dari belakang.
Meli secepatnya berdiri menghindari aksi suaminya, "Kak Ariya cukup".
__ADS_1
"Kenapa Mel, ada yang salah?" tanya Ariya dengan tegas.
"Kak Ariya aku menyaksikan malam itu" ucap Meli dengan tidak melihat Ariya.
"Sekarang kamu tau sisi lemah pada diriku, ku harap mengertilah" ucap Ariya.
"Oleh sebab itu jauhi aku kak, aku yang akan mundur perlahan" dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan sekarang Meli, bahkan bayi kita belum lahir di dunia, mamahnya sudah memikirkan perpisahan" ucapnya dengan nada sendu.
"Jadi aku harus bagai mana kak, hubungan kita sangat rumit, kakak pikir aku mau di posisi sekarang semuanya serba salah" ucapnya dengan nada sedikit tinggi di selah isak tangisnya.
"Kalau begitu bisa kah kamu mempercayakan semuanya pada suami mu ini? sambil memegang pundak Meli untuk menenangkannya. Meli hanya terdiam.
"Bersiaplah, sebentar lagi kita berangkat" kemudian berlalu pergi dari kamar Meli.
Ariya kemudian masuk kamarnya, Vania terlihat sedang bersiap penampilannya sangat cantik dan rapi.
"Ada apa sayang" tanya Vania, sambil memegang lengan Ariya.
"Meli melihat kejadian malam itu, dia memilih mundur" ucapnya dengan nada sedih.
"Sayang bersiap lah, jangan terlalu berfikir aku takut penyakitmu akan kambuh" ucap Vania menenangkan Ariya.
"Sayang lakukan apa pun tanggung jawab mu pada Meli, Aku bahagia ko asalkan Ariya wiraguna masi di sisiku" ucap Vania dengan ceria untuk menutupi kesedihannya.
"Jangan bohong padaku, kamu lupa jiwamu bersamaku" sambil mengelus-elus rambut Vania.
Ariya dan Vania sedang menunggu Meli turun, tidak lama kemudian Meli turun. Semua keperluan Meli dan pelayang yang akan menemani Meli di rumahnya, semuanya sudah siap di urus kepala pelayan.
"Ariya, aku naik mobil sendiri saja, setelah ini aku ada keperluan lain" ucap Vania.
"Baik lah, ayo Mel masuk" sambil membuka pintu mobil untuk Meli. Meli masuk tampa bicara.
Kedua mobil itu sudah melaju ke jalan raya.
Beberapa saat kemudian mobil keduanya sudah sampai di depan gerbang rumah yang akan di tempati Meli.
Satpam yang menjaga rumah mewah itu segera membuka pintu gerbang, melihat mobil tuanya datang, mobil pun melaju masuk ke halaman rumah mewah itu.
Ketiganya pun masuk dalam rumah, yang di sambut beberapa pelayan.
__ADS_1
"Apa pelayannya tidak terlalu banyak" protes Meli.
"Meli, kamu tidak boleh capek jadi kamu butuh pelayan yang banyak" sambil mengelus perut Meli.