Cerita Cinta Vania

Cerita Cinta Vania
ISI SURAT PERJANJIAN


__ADS_3

"Ayo cepat ukur, aku ada urusan lain?" perintah Arvan sengaja mengerjai Nara, karena baru saja menolak tawarannya.


Secepatnya Nara mengukur lingkar pinggang Arvan. Nara benar-benar menahan malu menyentuh bagian tubuh Arvan yang terbuka tanpa selembar pakaian satu pun. Arvan menahan tawanya melihat pipi merah Nara, yang menahan malu.


"Sudah tuan mudah, saya permisi dulu" ucap Nara tidak melihat Arvan dan bergegas keluar dari apartemen itu secepatnya.


"Nara ku harap kamu memikirkan tawaranku, hubungi aku jika berubah pikiran" ucap Arvan, ketika Nara ingin membuka pintu apartemen untuk keluar.


Nara nampak berpikir kemudian menoleh melihat Arvan sambil mengangguk, lalu meneruskan langkahnya keluar.


********


Setelah beberapa hari pertemuan Nara dan Arvan. Saat ini Nara sedang berada di kantin kampusnya, dia sedang memikirkan uang kuliahnya yang belum di bayar.


"Di mana aku harus dapat uang secepatnya, sedangkan uang dari buk Selin belum keluar. Kalau aku tidak bayar uang semester, aku tidak akan ikut semester kali ini" gumam Nara, sambil menatap ke depan dengan mata berkaca-kaca.


Nara mengusap air matanya yang menetes, kemudian berdiri dari duduknya dan bergegas untuk pulang.


Setelah sampai di rumahnya, begitu kagetnya Nara melihat barang-barangnya di luar, "Loh ada apa ini buk, saya kan tidak pernah menunggak uang sewa rumah?" tanya Nara saat berada di samping ibu-ibu yang menyuruh orang mengeluarkan barangnya.


"Maafkan kami dek, tapi rumah ini sudah tidak di sewakan lagi, karena pemiliknya ingin membuat bangunan yang lebih besar" jawab ibu-ibu itu.


"Tapi buk aku mohon izinkan aku tinggal satu hari saja, sementara saya cari tempat lain" mohon Nara sambil menyatukan kedua jarinya.


"Baik lah dek kami beri waktu satu hari, tapi besok kamu harus meniggalkan rumah ini" ucap ibu-ibu itu, kemudian meniggalkan tempat itu.


Nara menutup pintunya dan duduk bersandar di balik pintu, tangisnya pecah, "hiks...hiks...hiks..." tangis Nara.


Nara tiba-tiba memikirkan tawaran Arvan, "Aku harus menemui dia" ucapnya sambil berdiri mengusap air matanya.


Secepatnya Nara pergi dan menemui Arvan di apartemennya, karena sudah menghubunginya terlebih dahulu.


Nara sudah sampai dan mengetuk pintu apartemen Arvan, tidak lama kemudian pintu terbuka, terlihatlah Arvan dengan stelan jas rapi.


"Masuk lah Nara" ajak Arvan. Nara mengangguk dan mengikuti langkah Arvin masuk.


Nara masi diam, belum berani bicara, sementara Arvan menunggu Nara bicara.


"Nara katakan lah kamu ingin mengatakan apa?" tanya Arvan sambil menyalakan rokoknya.


"Tuan mudah Arvan, saya menyetujui tawaran anda" ucap Nara dengan pelan sambil menunduk.

__ADS_1


"Kalau begitu tanda tangan kontrak ini" sambil menyodorkan kertas kepada Nara , Nara kemudian mengambilnya lalu membacanya.


Isi surat perjanjian:


*Surat ini di buat atas kesadaran kedua belah pihak, telah terjadi perjanjian antara pihak pertama dan pihak kedua.


Bahwa pihak pertama mengajukan tawaran pacaran kontrak selama satu tahun dengan pihak kedua, dengan imbalan selama satu tahun pihak pertama akan membiayai hidup pihak kedua.


Dengan adanya perjanjian di atas, pihak pertama dan pihak kedua tidak boleh mengatakan kepada siapa pun, atas kontrak yang berlangsung.


Apa bila pihak kedua melanggar kontrak yang sudah di tanda tangani, pihak kedua berhak membayar denda sebanyak 500juta kepada pihak pertama.


Pihak pertama: Arvan wiraguna


Pihak kedua: Nara larasati*


Setelah Nara membaca semuanya, Nara melihat Arvan, "Tuan mudah satu lagi, tidak ada sentuhan fisik seperti halnya orang pacaran sesungguhnya" protes Nara.


"Ha...ha...ha..." Arvan tertawa.


"Mana ada orang pacaran tampa bersentuhan?" tanya Arvan sambil berdiri ke samping Nara.


"Ma maksud saya tuan mudah, kita pacaran secara profesional saja" ucap Nara ragu-ragu.


Nara langsung saja tanda tangan, tampa menyadari kalau surat kontrak yang di tanda tanganinya, belum di rubah seperti yang dia mau.


Arvan tersenyum penuh kemenangan dan secepatnya mengambil surat perjanjian di tangan Nara.


"Setelah ini kamu mau kemana Nara?" tanya Arvan dengan santai.


"Aku ingin mencari tempat tinggal yang baru, ada masalah di rumah yang ku tempati sekarang" jawab Nara berterus terang.


"Kenapa harus mencari tempat tinggal yang baru, tinggal di sini saja" ucapnya sambil menatap Nara.


Nara langsung memicingkan matanya menatap Arvan, Arvan sadar dengan ucapannya membuat Nara salah paham.


"Jangan salah paham Nara, apartemenku ini cukup luas, dan ada dua kamar di sini, lagi pula aku tidak tinggal di sini" ucap Arvan sambil memegang lengan Nara.


Nara melihat tangan Arvan di lengannya, Arvan segera melepas pegangannya, "Iya untuk sementara saya di sini tuan mudah, aku janji akan pindah, kalau sudah dapat tempat tinggal yang baru" ucap Nara.


"Nara santai saja, apartemen ini tidak ada yang tempati dan satu lagi berhenti memanggilku tuan mudah, kamu mengerti?" ucap Arvan.

__ADS_1


"Iya kak Arvan" jawabnya pelan sambil tersenyum.


"Sini aku antar ke kamarmu, soal barang-barang kamu, tidak perlu kau pikirkan karena aku akan suruh orang untuk mengurusnya" sambil berdiri menarik koper Nara masuk kamar. Kemudian Nara mengikuti langkah Arvan masuk kamar.


"Istirahatlah lah Nara, aku keluar dulu" ucap Arvan kemudian meniggalkan Nara.


Setelah kepergian Arvan, Nara melihat sekeliling kamar itu, terlihat sangat mewah bagaikan menginap di hotel bintang lima.


Setelah Nara mandi dan menyimpang semua pakaiannya di lemari, tidak terasa malam pun tiba.


Nara berjalan keluar kamarnya, dia melihat-lihat isi apartemen mewah itu dan matanya tertuju pada foto Arvan, Andra, Elena dan Aditya.


Nara juga melihat foto-foto mesra Arvan dan Elena saat berseragam sekolah, "Apa mereka pernah pacaran yah" gumam Nara.


Kemudian Nara berhenti di foto Andra, "Aku tidak tau apa pendapat kak Andra, kalau tau aku pacaran dengan adiknya" gumamnya sambil mengelus foto Andra.


"Kamu menyukai kakakku?" ucap Arvan dari belakang mengagetkan Nara.


"Kak Arvan sudah pulang?" tanya balik Arvan.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku?" tanya Arvan, sambil bersandar ke tembok dan menghadap ke Nara.


"Iya kak, aku sangat mengagumi kak Andra" jawabnya berterus terang, masi melihat foto Andra.


"Terus kenapa tidak mengejarnya" tanya Arvan lagi.


"Mengagumi seseorang bukan berarti harus memilikinya" jawab Nara.


"Kamu kan cantik Nara, kenapa tidak percaya diri" ucap Arvan.


"Siapa sih aku ini, cuma wanita pekerja paru waktu yang tidak mungkin bersanding dengan anak seorang pengusaha hebat di kota ini" curhat Nara.


"Jadi kamu tidak percaya cerita dongeng?" tanya Arvan.


"Namanya saja dongeng, mana ada di dunia nyata kak" ucap Nara sambil berjalan meninggalkan Arvan yang berdiri di depannya.


"Ada, asalkan kamu mau denganku" gumam Arvan yang ikut berjalan di belakang Nara.


"Apa? kak Arvan mengatakan sesuatu" tanya Nara sambil memutar badannya menghadap Arvan.


"Tidak, aku tidak mengatakan sesuatu" elak Arvan.

__ADS_1


"Ayo kita makan dulu, baru kita bicara" ajak Arvan, mengalihkan pembicaraan, Nara hanya mengangguk. Kemudian keduanya berjalan ke meja makan.


__ADS_2