
Setelah konferensi pers berlangsung, Ariya segera mengantar Meli dan putranya pulang ke rumah, dan segera pulang ke rumah Vania.
Vania sedang berdiri di bal kom kamarnya, dia sedang berdiri menikmati angin malam, dengan melipat kedua tangannya di dadanya memeluk dirinya sendiri, rambutnya yang di gerai tertiup angin yang berhembus.
"Kenapa kamu tidak datang?" suara Ariya terdengar dari belakang, yang sudah berdiri dengan kemeja hitam polos.
"Untuk apa?" jawab Vania, tidak melihat Ariya.
"Sayang kenapa kamu berkata begitu" ucap Ariya dengan lembut, sambil menghampiri Vania ingin memeluknya dari belakan.
Vania menghindar dan membalikkan tubuhnya menghadap Ariya, "Untuk apa aku datang, bukankan kah kehadiranku di antara kalian di sana, cuma akan menjadi bahan tertawaan mereka" tutur Vania, mengigit bibir bawanya menahan tangisnya.
"Sejak kapan kamu menganggap diri orang lain sayang? bukan kah sebelumnya baik-baik saja" tanya Ariya ingin menyentuh lengan Vania, tapi Vania tetap menghindari sentuhan Ariya.
"Sejak kamu tidak mempedulikan ku lagi, di situ aku sadar diri Ariya, lebih baik aku yang mengalah" ucap Vania dengan menaikan satu oktaf suaranya.
"Hey... sayang kamu cemburu dengan putra kecilku, karena aku lebih mengutamakan nya?" ucap Ariya masi dengan nada lembut.
"Anggap saja seperti ini" balas Vania.
"Vania, aku sudah ada disini sayang, apa pun yang kamu mau akan aku turutin" ucapnya dengan selembut mungkin, pelan-pelan mendekati bibir Vania hendak menciumnya, tapi Vania memalingkan wajahnya pertanda penolakan.
Ariya terdiam menghentikan keinginan nya sambil memejamkan matanya, "Baik Vania, untuk pertama kalinya kamu menolak keinginan ku" sambil membuka matanya dan menatap tajam kepada Vania.
Vania tidak menatap Ariya, dia hanya menatap lurus ke depan.
"Aku permisi Vania" dan pergi meniggalkan Vania yang berdiri layaknya patung.
Sampai Ariya melangkah meninggalkannya, Vania tidak bergeming dari tempatnya.
Barulah Vania melepaskan tangisannya, setelah terdengar Ariya mengemudikan mobilnya dengan kencang melesat keluar jalan raya. Vania menyaksikan mobil Ariya pergi dari bal kom kamarnya, yang masi berdiri di tempatnya.
Yuda yang kebetulan berada di luar pagar hendak menemui Ariya, melihat bosnya itu mengendarai mobilnya tampa sopir. Diam-diam Yuda mengikuti bosnya, karena dia tau pasti jika bosnya mengendara sendiri pasti ada masalah.
Di salah satu klub malam, terkenal kota itu, duduklah Ariya di ruang VIP, dia terlihat sedang meneguk beberapa kali wine dengan tenang sambil mengisap rokoknya.
__ADS_1
Terlihat tidak jauh dari Ariya duduk, terlihat Yuda sedang bersama wanita penghibur, sedang memantau keadaan bosnya.
Hingga beberapa jam berlalu, Ariya terlihat sudah benar-benar mabuk berat, tapi kali ini dia sudah bisa mengontrol emosinya.
Barulah Yuda mendekati bosnya, saat melihat bosnya hampir tidak sadarkan diri.
"Yuda kamu di sini" ucap Ariya hampir tidak terdengar.
"Tenanglah tuah, aku akan mengantar tuan pulang" ucap Yuda sambil memapah tubuh bosnya agar tidak jatuh.
Yuda kemudian membawa bosnya ke hotel wiraguna group, Yuda kemudian membaringkan Ariya di kamar hotel suite.
Terlihat Yuda menelpon seseorang, "Nyonya Vania secepatnya ke hotel wiraguna, pak Ariya membutuhkan anda" kemudian memutuskan panggilan telpon.
Vania terburu-buru masuk dalam hotel, hingga menabrak Dani yang kebetulan juga ada di hotel itu.
"Dani!"
"Vania!"
Ucap keduanya. "Vania sedang apa kamu di sini sudah larut malam?" tanya Dani.
Di lihat dari jauh mereka terlihat dekat karena memang mereka sudah akrab, membuat yang melihatnya akan salah paham, apa lagi sekarang sudah larut malam dan masuk dalam sebuah hotel, terlihat kamera memotretnya beberapa kali.
Setelah tiba di kamar suite, Vania langsung masuk karena Yuda sudah memberinya kunci.
Terlihat Ariya sedang berbaring di ranjang king size yang ada di kamar suite tersebut, Vania berjalan pelang mendekati Ariya dan duduk di sampingnya .
"Ariya kenapa kamu seperti ini, maafkan aku, tapi tetap saja aku tidak bisa bertahan, apa lagi sekarang kehadiran malaikat kecilmu, kamu bisa bahagia tampa diriku" tutur Vania sambil memegang lengan Ariya, meski dia tau kalau Ariya belum tentu mendengarnya.
Ariya yang sedang mabuk berat, dapat merasakan sentuhan Vania, Ariya membuka matanya perlahan dan samar-samar dapat melihat Vania.
Ariya langsung menarik tangan Vania hingga berada di bawanya, Vania langsung membulatkan matanya karena dia tidak menyangka kalau Ariya dapat merasakan keberadaanya.
"Sayang, aku sangat merindukanmu" ucap Ariya dengan menatap sayu ke pada Vania.
__ADS_1
Ariya pelan-pelan mencium bibir Vania, membuat aliran dara Vania berhenti sejenak, aksinya semakin lama semakin dalam hingga tangannya sudah menjalar di buah kenyal Vania yang menjadi tempat favorit nya.
Vania tidak dapat menghentikan aksi Ariya dan melawan tubuh kekar Ariya yang menindihnya, yang sebenarnya dia juga merindukan belaian suaminya.
Hingga beberapa saat, pakaian keduanya sudah berjatuhan di lantai, aksi Ariya yang menggebu-gebu karena pengaruh alkohol membuat kenikmatan tersendiri yang di rasakan keduanya, apa lagi beberapa hari ini tidak pernah berhubungan.
Keringat sudah membasahi tubuh keduanya, dan d*sahan-d*sahan yang terdengar seirama oleh keduanya.
Setelah cukup lama bermain dengan aksi-aksi yang panas, pada akhirnya d*sahan panjang terdengar oleh keduanya, akhirnya keduanya melakukan pelepasan bersamaan.
Ariya mencium kening Vania, sebelum akhirnya terbaring di samping Vania dan terlelap.
Vania memperhatikan wajah suaminya yang terlelap, "Sayang maafkan aku, tapi tetap aku tidak bisa bertahan" ucapnya dengan meneteskan air matanya.
Keesokan paginya, Ariya sudah terbangun dia mengkerut kan keningnya sambil memijit kepalanya, kepalanya masi terasa sakit akibat mabuk semalam.
Ariya menyadari sesuatu, "Bukankah aku bersama Vania semalam, dimana dia?" sambil duduk bersandar di ranjang.
Ariya melihat sekeliling, dia melihat pakaiannya yang berhamburan di lantai kemudian membuka selimutnya dan ternyata polos tampa apa-apa.
"Aku yakin sekarang, semalam bukanlah mimpi" gumamnya, kemudian berdiri membersihkan diri.
Sementara di luar sana, gosip sudah tersebar di berbagai media sosial atau pun media tv, tentang video dan foto istri CEO wiraguna dengan seorang direktur media ternama, sedang bermesraan masuk di sebuah hotel di tengah malam.
Akhirnya media menggoreng berita, media mengkaitkan ketidak hadiran Vania di konferensi pers kemarin, di sebabkan hubungan Ariya dan Vania sedang retak akibat orang ketiga.
Media menyudutkan Vania sedang bermain api dengan pria lain. Gosip tersebar begitu cepat, berita perselingkuhan Vania sudah menjadi trending satu di berbagai media sosial. Vania tentu sudah mengetahui tentang berita dirinya.
Tinggal Ariya yang tidak mengetahui gosip tentang Vania, karena dia belum keluar kamar dan membuka sosial media.
Ariya sudah rapi dengan stelan jasnya, dia mengendarai mobilnya langsung ke perusahaan wiraguna group.
Karyawan dan pegawai di sana sudah membicarakan gosip perselingkuhan Vania. Ariya sudah tiba dan semuanya terdiam dan menunduk.
"Selamat pagi pak".
__ADS_1
"Selamat pagi pak"
Ucap sebagian pegawai, Ariya merasa heran dengan pandangan semua orang padanya, dia secepatnya masuk lift dan masuk ke dalam ruangannya.