
Meli melangkah dan duduk ragu-ragu di samping Ariya, "Ini buburnya kak" ucap Meli.
Ariya membuka mulutnya ingin di suap, Meli mengerti dan menyuapi Ariya. Meli memperhatikan Ariya yang makan dengan lahap, "Sepertinya kak Ariya baik-baik saja" ucap Meli.
Ariya memegang tangan Meli yang menyuapinya dan menatap mata Meli dalam-dalam, "Kamu tau aku tidak sakit, kenapa masi membawa bubur" ucap Ariya kemudian keduanya tertawa bersama.
*hem... hem...hem... sepertinya Ariya ingin memiliki keduanya nih, gimana yah*
Di selah tawa mereka, Ariya bicara, "Meli hari ini, Vania pulang".
Meli seketika berhenti tertawa, "Sebaiknya aku keluar kak" ucap Meli sambil berdiri.
"Kamu di sini dulu" ucap Ariya sambil menahan tangan Meli yang ingin berdiri, "Suap lagi" sambung Ariya.
Di bawa sana Vania sudah tiba, di sambut para pelayang, "Selamat datang nyonya muda" ucap kepala pelayang.
"Sore pak, Ariya ada?" tanya Vania sambil memberikan tas di tangannya.
"Ada nyonya, tuan ada di kamarnya" jawab kepala pelayang itu menunduk hormat, ada kekhawatiran di wajahnya karena mengetahui istri mudah tuanya sedang berada di kamar.
Vania segera berjalan naik ke kamarnya, karena dia sangat merindukan kamar dan suaminya. Vania membuka pintu kamarnya dengan antusias, dan dia langsung terdiam setelah melihat suaminya dan istri mudahnya sedang tertawa lepas sambil Meli menyuapi Ariya di atas ranjangnya.
meli dan Ariya langsung berhenti tertawa setelah melihat kedatangan Vania, mereka bertiga bertatapan tampa ada yang bicara, pada akhirnya Vania memutar balik badannya untuk keluar tampa bicara satu kata pun.
Setelah kepergian Vania, Meli segera berdiri dari tempatnya, "Kak Vania sudah datang, sebaiknya aku keluar" sambil berdiri meninggalkan Ariya yang diam saja.
Vania sedang berdiri dengan melipat kedua tangannya di dadanya, di depan jendela salah satu kamar di rumah itu, pandangan Vania lurus ke depan entah apa yang di pikirkan.
Tiba-tiba Ariya memeluk pinggangnya dari belakang, Vania reflek memejamkan matanya mendapat sentuhan lembut dari suaminya yang beberapa hari ini dia rindukan.
__ADS_1
Ariya memutar tubuh Vania menghadap ke padanya dan menunduk menyandarkan jidatnya dengan jidat Vania, dan sama-sama mereka memejamkan matanya.
Perlahan-lahan keduanya membuka matanya dan Vania langsung meneteskan air matanya, ketika melihat pandangan suaminya yang sedikit berbeda, seakan-akan pandangan yang ingin di mengerti.
Ariya yang menyadari bahwa istrinya mengerti pandangannya, langsung saja menarik tubuh Vania dalam pelukannya, seketika tangisan Vania pecah dan menangis sejadi-jadinya, "Menangis lah sayang, maafkan aku" bisik Ariya di selah tangis Vania, membuat tangis Vania bertambah pecah. "Hiks...hiks... hiks... Ternyata sangat sakit Ariya" ucapnya di selah tangisnya.
Setelah beberapa saat Vania menangis di pelukan suaminya, tampak Ariya melonggarkan pelukannya. Tangis Vania agak redah dan tinggal sesenggukan, akhirnya Vania melepaskan pelukannya.
Ariya menunduk dan mengusap kedua pipih Vania yang berlinang Air mata, "Sayang ayo kita ke kamar" ajak Ariya, Vania cuma mengangguk kemudian Ariya merangkul pundak Vania dan berjalan keluar kamar.
Setelah mengantar Vania ke kamarnya, Ariya menuju kamar Meli dan langsung membuka pintu, Meli yang berdiri di samping tempat tidur langsung kaget, tiba-tiba ada yang membuka pintu kamarnya, "Kak Ariya" ucap Meli dengan terkaget.
Ariya tidak menjawab, dia cuma menutup pintu kamar dan menguncinya, kemudian berjalan ke arah Meli, "Meli, kamu harus terbiasa dengan ke adaan ini" ucap Ariya dengan memegang kedua pundak Meli dan menatapnya dengan lembut.
Mata Meli berkaca-kaca dan memalingkan pandanganya, "Iya kak aku mengerti, dan aku cukup tau diri" jawab Meli.
Ariya mencium kening Meli, "Siap-siap kita makan malam bersama" dan meniggalkan Meli yang belum bisa menatapnya.
"Iya mel, duduk lah kembali" ucapnya dengan lembut sambil mengusap bahu Meli, dan Meli duduk kembali.
Vania berjalan di sisi lain meja makan di kursi yang sudah di tarik Ariya untuknya duduk, "Makasih sayang" sambil duduk dengan anggun.
Kemudian Ariya duduk di tempatnya di ujung meja makan, Ariya berdehem "Hem... ayo semuanya makan" sambil mengambil piring yang berisi makanan di beri Vania.
Ketiganya pun makan dan tidak ada yang bicara satu pun, pada akhirnya mereka sudah selesai makan, Meli mulai bicara, "Kak Ariya, kak Vania aku duluan naik" sambil berdiri dari tempatnya, tapi Ariya memperhatikan gerak-gerik Meli, sampai istrinya itu menuju tangga untuk naik. Itu tidak luput dari pantauan Vania apa yang di lakukan Ariya.
Ariya baru menyadari sikapnya, dia menunduk sebentar lalu melihat ke arah Vania, "Sayang bagaimana kepergian mu" tanya Ariya sengaja untuk mengalihkan ke adaan.
"Baik sayang, di sana saya keliling di temani Dani" jawab Vania.
__ADS_1
Mendengar nama Dani, Ariya langsung menatap Vania dengan tajam, "Dani wijaya, teman kamu itu" tanya Ariya.
"Iya sayang kebetulan dia ada di sana juga" sambil berdiri memeluk bahu Ariya karena menyadari suaminya sedang cemburu.
"Baik, karena dia sahabat kamu jadi dia selamat" ucap Ariya yang tidak bisa marah kalau Vania sudah merayunya. Vania diam-diam tersenyum.
Selanjutnya Ariya menggendong Vania naik tangga. Sampai di depan pintu kamar, Vania membuka handel pintu kamar.
Ariya segera membaringkan Vania di ranjang dan berbaring di sampingnya sambil menatap wajah istrinya lalu merapikan rambut Vania yang menghalangi wajahnya, "Sayang aku sangat merindukanmu" sambil ******* b*bir Vania dengan lembut.
Meski di hati Vania masi ada rasa cemburu, tapi dia membalas ciuman Ariya dengan keahliannya, tidak di sadari tangan Ariya sudah menjalar di mana-mana.
Dua insan manusia itu sudah sama-sama polos dan memulai permainannya yang beberapa hari ini tidak mereka lakukan. *tapi cuma Vania yah, lain cerita kalau Ariya*.
Setelah berbagai gaya mereka lakukan tibalah saatnya keduanya mengakhiri permainannya, terdengarlah d*sahan panjang dari mulut keduanya, keringat pun membasahi tubuh mereka meski di kamar itu suhu AC nya sangat dingin.
Setelah membersikan diri keduanya berbaring dan saling memeluk, "Sayang secepatnya kita harus mengklarifikasi gosip yang beredar" ucap Ariya.
"Iya sayang, aku memang menunggumu baru kita selesaikan semuanya" ucap Ariya.
"Menungguku" ucap Vania dengan pelan, "Bukankah berita itu baru turun hari ini" lanjut Vania.
"Iya benar, berita itu baru turun hari ini, kenapa bisa kamu pulang secepat ini" tanya balik Ariya mencoba membalikkan pertanyaan.
"Dani yang memberikan videonya" dan secepatnya aku pulang.
"Pantas lebih cepat dari perkiraan ku, kepulangan mu" ungkap Ariya.
"Jadi semua ini, permanan kamu Ariya" tanya Vania memicingkan matanya.
__ADS_1
"Kamu kan tau suamimu ini tidak bisa jauh-jauh terlalu lama" sambil menggelitik Vania dan menutup dirinya dengan selimut.
"Ampun Ariya, sudah dong aku mau pipis jadinya" teriak Vania di dalam selimut.