
Ariya sedang sibuk di kursi kebesarannya dengan berkas-berkas di atas mejanya, tidak lama kemudian pintu di ketuk seseorang, "Masuk" ucap Ariya tampa melihatnya.
Ternyata Yuda yang datang, "Selamat siang tuan". Di balas anggukan oleh Ariya.
Yuda menyerahkan pendaftaran pernikahan kepada Ariya, dan Ariya mengambilnya lalu melihatnya sejenak, "Bagus, gaji mu saya naikkan" ucap Ariya.
"Terima kasi tuan, tapi ada berita lebih penting" ucap Yuda sambil menyodorkan majalah tentang berita yang lagi trending dan berada di halaman awal majalah tersebut, "Ini sudah jadi trending topik di media sosial" lanjut Yuda.
Ariya tersenyum, "Aku sudah mengetahuinya dan bagus ini sesuai rencana, aku yakin istriku yang keras kepala itu akan segera kembali" ucap Ariya sambil menatap majalah yang di berikan Yuda.
Yuda mengkerut kan keningnya, "Ini di bawa kendali tuan Ariya" tanya Yuda.
"Tidak juga, saya cuma memancing keadaan dan akhirnya semua terjadi yang aku inginkan" jawab Ariya.
"Apa maksud tuan, bukankah akan berpengaruh di karir tuan, kalau skandal ini terus menerus berlanjut, karena asumsi publik mengatakan anda sedang berselingkuh" ucap Yuda.
"Yuda berapa lama kamu bekerja dengan saya, baru juga tadi saya naikkan gaji kamu, apa menurutmu saya sedang berselingkuh" ucap Ariya.
Yuda berfikir sejenak, "Sekarang aku mengerti tuan, dengan skandal ini nyonya muda akan segera pulang dan mengklarifikasi semuanya" tebak Yuda tentang pikiran bosnya.
"Itu baru sekertaris Ariya wiraguna pandai dan pintar menganalisis ke adaan" ucap Ariya "Satu lagi jemput Vania hari ini, karena aku yakin dia akan pulang dan katakan padanya saya sedang sakit jadi tidak bisa menjemputnya" lanjut Ariya.
"Baik tuan, saya permisi" sambil menunduk hormat pergi. Setelah kepergian Yuda, Ariya menyelesaikan pekerjaannya dan segera pulang.
Sementara Meli di kamar sedang mondar-mandir di depan cermin dan mengigit kukunya, dia memperhatikan perutnya di dalam cermin, "Semoga saja aku bisa hamil secepatnya, agar aku tidak melakukanya lagi dengan kak Ariya" sambil mengusap perutnya.
Berfikir tentang anak, Meli melihat wajahnya di cermin, dan teringat kejadian semalam membuat pipinya merah merona, dia secepatnya duduk di sofa dan mengambil hpnya.
__ADS_1
Mata Meli terbelalak ketika melihat berita yang lagi trending saat ini, "Ya ampun, apa ini" ucap Meli saat melihat Foto dirinya dan Ariya di berbagai media sosial.
Meli membuka komentar publik dan membaca asumsi publik kalau dirinya berselingkuh dengan Ariya. Tiba-tiba ada yang mengambil hpnya, meli melihatnya ternyata Ariya.
"Tidak baik membuka sosial media sore-sore, lebih baik kalau suami datang itu di sambut" ucap Ariya dan meletakkan hp Meli di atas meja.
"Kak Ariya bikin kaget aja, tumben pulang jam segini" sambil melirik jam yang ada di dinding kamarnya.
Ariya menyandarkan dirinya di sofa, "Aku kangen dengan istriku" jawab Ariya dengan santai.
Meli jadi terdiam dan tidak berani melihat suaminya, "bisa-bisanya dia berlaku biasa saja, sedangkan berita di luar sana sedang hangat-hangatnya membicarakan dirinya" batin meli.
Ariya melirik Meli yang masi terdiam, "Sebenarnya aku sedang tidak enak badan" ucap Ariya.
Meli langsung menghadap Ariya lalu memegang dahi dan pipi Ariya, "Gak panas" batin Meli.
Ariya tiba-tiba memeluknya dari belakang, "Meli kamu tidak perlu khawatir, kamu itu istriku bukan selingkuhan ku" sambil berbisik di telinga Meli.
Meli yang di peluk Ariya, merasakan kehangatan dan memejamkan matanya, "Aku tunggu di kamarku dan bawakan aku bubur" ucap Ariya masi berbisik di telinga Meli kemudian pergi keluar kamar, meniggalkan Meli yang masi terdiam di tempatnya.
Setelah Ariya tidak terlihat, barulah Meli tersadar, "Bodoh, kenapa aku harus terbawa suasana, dan satu lagi dia bilang apa? aku tidak perlu khawatir, dia sadar gak sih kalau aku cuma istri sirinya" tutur Meli dan mengacak rambutnya frustasi.
Di bandara internasional, Vania sudah tiba di negaranya, dia memakai kacamata hitam dan terlihat sangat cantik dengan rambut di gerai. Vania cuma sendiri, dia meniggalkan Renata di sana didampingi orang kepercayaannya dan pengawal.
Setelah Vania keluar, sudah di sambut para awak media, Vania melihat sekeliling tapi tidak melihat suaminya, yang datang cuma sekertaris Yuda.
Para wartawan dari berbagai madia mulai bertanya.
__ADS_1
"Nyonya Vania, bagai mana tanggapannya tentang gosip yang beredar" tanya wartawan.
Apa benar rumah tangganya sedang renggang, hingga tuan Ariya tidak menjemput" timpal yang lain dan berbagai pertanyaan lainya.
Yuda mendekati Vania, dan memberi Vania jalan untuk menuju mobil, tapi Vania mengangkat tangannya menghentikan Yuda yang menghalangi para wartawan, Vania berhenti berjalan, "Kami akan segera klarifikasi, saya harap teman-teman tidak membuat berita yang menjelekkan nama suami Saya" ucap Vania dengan tegas masi memakai kaca mata yang melekat di hidung mancungnya, lalu dia berjalan kembali di dampingi Yuda dan membukakan pintu mobil untuk Vania masuk,
Setelah Vania di dalam mobil dan mulai jalan, Vania membuka kaca matanya, "Yuda kenapa pak Ariya tidak bisa menjemput saya" tanya Vania masi menatap lurus ke depan.
"Maaf nyonya, kata tuan dia sedang tidak enak badan" jawab Yuda yang duduk di samping sopir.
Vania tersenyum miring setelah mendengar pernyataan Yuda, kemudian mengalihkan pandanganya ke samping dan melihat keluar kaca mobil.
Sementara Ariya sedang duduk bersandar di ranjang king size nya, sambil menonton tv tentang pernyataan Vania yang membela dirinya di depan media, kemudian mematikan tv lalu melempar remote kesamping, "Vania sayang akhirnya kamu kembali" ucap Ariya dan mengangkat tangannya ke atas untuk merenggangkan otot-ototnya.
"Kak Ariya, boleh aku masuk" teriak Meli dari luar.
"Masuk saja Meli, tidak di kunci" jawab Ariya dengan santai, masi bersandar di ranjangnya.
Meli pun membuka pintu dengan semangkuk bubur di tangannya dan menarik nafasnya, dia melihat di sekeliling kamar Ariya dan Vania. Meli masi mengingat jelas terakhir dia masuk ke kamar itu, bagaimana tindakan Ariya padanya.
Meli melihat foto-foto kemesraan Ariya dan Vania yang di pajang di berbagai sudut di kamar itu, dan pandanganya berhenti di foto pengantin Ariya dan Vania yang di pajang sangat besar di dinding di atas ranjang king size yang di tempati Ariya duduk sekarang.
"Meli kamu mau berdiri terus di situ" ucap Ariya dengan lembut.
Meli baru tersadar setelah Ariya memanggilnya, "Iya kak Ariya" jawabnya sedikit kaget.
"Ayo kemari" sambil menepuk kasur di sampingnya.
__ADS_1
Meli melangkah dan duduk ragu-ragu di samping Ariya, "Ini buburnya kak" ucap Meli.