Cerita Kita

Cerita Kita
Bab 20


__ADS_3

Hari itu setelah Daniel mengantarkan ku kembali kerumah ia merehatkan sejenak tubuhnya dengan berbaring disofa yang panjang, ada sedikit rasa iba melihat tubuh Daniel yang berbaring melebihi sofa tubuhnya yang hampir 185cm tentu saja harus melipat sedikit kakinya agar pas.


ingin rasanya menyuruhnya istirahat dikamarku agar lebih nyaman namun egoku menalahkan rasa ibaku.


bunda yang sedari tadi memperhatikan akhirnya menghampiri sofa tempat Daniel merebahkan diri lalu membangunkannya


setelah mata Danil terbuka dengan sempurna bunda menyuruhnya istirahat dikamarku akhirnya ia pun naik menuju lantai atas dimana kamarku berada


"kamu ni ya neng bener-bener ya gak kasian apa sama pacarmu yang tinggi itu harus tiduran sambil ngeringkuk" tegur bunda yang melihatku begitu acuh terhadap Daniel aku hanya memasang ekpresi datar menanggapi ocehan bunda.


aku tak tahu mengapa masih begitu kesal dengan Daniel hari ini berapa kali dia mencuri cium dariku belum lagi dia masih berhutang penjelasan tentang wanita yang tadi menegurnya di mall dan yang tadi malam di kafe.


"memang berapa banyak sih wanita yang dimilikinya? trus dia anggap aku apa coba,hampir setip hari kerumahku kadang main nyosor aja udah kaya soang" gerutu pada diri sendiri


akupun segera menuju kamar Niken untuk merebahkan diri kucoba memejamkan mata namun ingatanku kembali pada kejadian tadi saat Daniln menjilat bibir bawahku karena lelehan es crim.


lalu saat ia kesal dengan pertanyaan tentang hubungannya dengan wanita bernama Iren bukannya menjawab tetapi malah menggigit bibir bawahku hingga sedikit mengeluarkan cairan berwarna merah.


hampir dua jam lamanya aku terlelap hingga jam menunjukan pukul 17.40 aku terbangun dan keluar mencari keberada'an bunda karena tak menemukan bunda akhirnya aku segera menuju kamarku untuk segera membersihkan diri.


"cklek" kubuka pintu kamar dengan perlahan agar Daniel tidak terganggu namun aku sedikit terkejut ternyata kamarku sudah dalam keadaan kosong.


akupun menarik nafas lega dan segera menuju kamar mandi dan segera bersiap-siap untuk kekafe.


" ting..." sebuah wa dari Daniel


Danil : beib sory aku g nganterin kamu


me : ya g apa- apa


Danil : kayanya beberapa hari kedepan aku


sibuk deh


me : it's ok


Daniel : aku bakalan kangen sama kamu


beib


me : gombal


Danil : serius beib

__ADS_1


me : udah ah aku mau siap-siap mau


ke kafe


Danil : ok be careful and don't miss me


beib


me : gr


Danil : biarin ♥ you beib


entah mengapa aku merasa sejak bertemu dengan wanita tadi di mall Daniel sedikit berubah ada hubungan apa mereka hingga kehadiran wanita itu bisa merubah moodnya.


"kenapa juga aku jadi kepo kan antara aku sama Daniel g ada hubungan yang spesial just a friend, tapi kok y dadaku sedikit sesak ya jika ingat Iren memeluk Daniel dengan mesra dari belakang ih...ada apa sih sama aku,apa aku mulai punya rasa dengannya, apa aku cemburu ..." batinku dipenuhi dengan berbagai pertanyaan dan prasangka buruk terhadap Danil


Dikafe


-------


" hai Tha,kok tumben udah sampe jam segini" sapa Dimas begitu melihat aku tiba dan duduk manis dihadapannya


" ya mas aku lagi bosen aja dirumah" jawabku sambil tersenyum manis


" ish apa sih mas dia cuma temen sma doang" jelasku


" oh y tha temen kamu siapa namanya?"


aku sedikit mengerutkan keningku sedikit heran dengan pertanyaan mas Dimas yang tiba-tiba menanyakan nama Daniel


" Daniel Wijaya Kusuma bukan" lanjutnya aku pun hanya menganggukan kepala bertanda "iya"


" kenapa mas?" tanyaku penasaran


"beneran bukan pacar kamu" mas Dimas malah balik bertanya


" kenapa sih mas" tanyaku lagi tambah penasaran


"jangan marah ya kalau aku ngomong" lanjutnya


" iya"


" tadi aku baca diberita dia mau tunangan ya?" tanyanya

__ADS_1


aku pun kaget mendengarnya hingga jus jeruk yang sedang kuminum muncerat untung saja tidak mengenai orang mas Dimas yang melihatku terkejut langsung memberiku tissue untuk membersihkan bibirku yang penuh dengan jus.q


"kenapa kaget memangnya dia tidak memberitahu kamu" tanyanya lagi akupun hanya menggelengkan kepala.


mas Dimas memberiku hpnya disebuah situs online terlihat foto Daniel dan seorang wanita yang akan segera bertunangan


sejenak aku teringat ucapannya tadi siang kalau dalam beberapa hari kedepan ia akan sangat sibuk


"sial aku dibohongin lagi" umpatku kesal


"tapi kenapa aku harus kesal kan aku g ada hubungan apa-apa dengannya"


entah kenapa tiba-tiba aku merasa sesak hingga untuk bernafaspun terasa sulit dan kenapa juga tiba-tiba air mataku memaksa untuk keluar ku coba untuk menahan laju air mataku agar tidak meluap saat itu namun tak bisa mas Dimas yang melihat ku mulai menangis segera menghampiriku dan membawaku menjauh dari keramain ia membawaku kedalam dekapnya untuk sesaat aku merasa nyaman


" menangislah Dhit kalau menangis bisa menenangkanmu, aku tahu walaupun kamu bilang tak ada hubungan apa-apa tetapi kenyata'annya ada Dhit,aku tahu saat ini hatimu sakit tetapi ijinkan aku untuk menjadi obat dari rasa sakitmu" ucap Dimas sambil mendekapku hangat


"tunggu ...apa maksudnya mas Dimas bilang mau jadi pengobat rasa sakitku" aku pun mengangkat wajahku mencoba menatap dalam manik mata coklat milik Dimas ia pun menatap mataku untuk sesaat tatapan kami betemu dan aku juga tak tahu kenapa detak jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.


" ada apa dengan jantungku apa aku kena serangan jantung" pikirku


" sudah enakan?" tanya Dimas lembut sambil mengelus pipiku


akupun semakin jadi salah tingkah karena sikap mas Dimas yang menjadi sangat manis terhadapku


akupun mengangguk pelan dalam dekapan Dimas


"kalau kamu masih g enak mending kamu ijin g main dulu" usulnya


" aku g apa-apa mas sudah baikan kok" jawabku sambil menarik diri dari dekapan mas Dimas


"Dhita andai saja kamu bisa sedikit saja membuka hatimu untuk aku,aku pasti tidak akan pernah membuat mu menangis" batin Dimas sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu berjalan kembali ke meja bar dan kembali menatap Dhita dalam.


Dhita yang sadar kalau sedang diperhatikan melemparkan senyum manisnya pada Dimas memberi tanda kalau ia sekarang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


akhirnya Dhita pun menaiki panggung yang disana sudah menanti sebuah piano.


jemari lentiknya nampak sudah terbiasa dengan tut's piano yang senantiasa menemaninya dengan sauara yang sedikit serak Dhita mulai bernyanyi mengalunkan lagu " cinta dalam.doa" dari sauqy band dengan sahdu hingga semua yang mendengarkannya terbawa suasana sejenak suasana kafe hanya terdengar suara merdu Dhita tanpa terasa air mata mengalir tanpa permisi mengakhiri permainan piano Dhita tanpa mengangkat wajahnya Dhita menuruni panggung dan menuju meja bar.


ia coba untuk menenangkan dirinya lalu mengusap sisa bulir air mata yang masih ada di ujung matanya.


Dimas yang melihat Dhita kembali bersedih seakan ikut hanyut dalam suasana hati Dhita sebenarnya ia ingin sekali memeluk Dhita dan menenangkannya lagi namun apa daya pegunjung sedang ramai hingga ia hanya mampu manatapnya dari jauh.


" maafkan aku yang tak mampu berbuat apa-apa untuk meringankan bebanmu" batin Dimas dengan penuh penyesalan karena ia lah yang memberitahu Dhita soal pertunangan Daniel.

__ADS_1


__ADS_2