Cerita Kita

Cerita Kita
Bab 57


__ADS_3

Dhita berpikir keras bagaimana cara agar ia bisa lepas dari kurungan Rivan.


Ia nampak memperhatikan situasi sekitar namun semakin ia berpikir semakin sakit pula kepalanya.


Seminggu sudah ia terkurung dirumah megah Rivan yang entah berada dimana


ia begitu sedih kala teringat sheilla dan bayu,bagaimana keadaan mereka.


sebenarnya saat ini ia berharap dhaniel dapat menemukannya dan kembali berkumpul bersama.


ceklek


pintu kamar dhita dibuka dan tak lama kemudian muncullah rivan yang sudah tak memakai topeng lagi.


Rivan menghampiri dhita yang duduk diatas kasur dengan wajah sedih.


"ada apa dhit?" tanya rivan sambil memegang dagu dhita memaksanya untuk melihat kearahnya


dhita tak menjawab,ia kesal dengan pria didepannya pria yang dulu pernah menjadi sahabat dekatnya namun kini sangat ia benci.

__ADS_1


"kenapa tha,aku bertanya padamu "ulang rivan dengan wajah sedikit memerah karena menahan amarah


"van...aku mohon biarkan aku pergi,aku ingin bertemu dengan anak-anakku,aku mohon"ucap dhita memohon sambil menangis


"maaf tha kalau untuk hal itu aku tak bisa mengabulkannya" tolak rivan sambil memalingkan wajahnya tak mau melihat wajah dhita yang penuh dengan air mata


"kamu jahat van...jahat"tangis dhita terdengar sangat memilukan


sebenarnya rivan tak tega melihat dhita begitu menderita namun ego nya lah yang kini manang ia tak ingin lagi dhita pergi,ia ingin memiliki dhita selamanya.


"diam lah tha,dan berhenti menangis "sentak rivan yang sudah tak dapat menahan lagi amarahnya.


"aku billang diam dhita,jangan menguji kesabaranku"bisik rivan dengan menggertakan giginya menahan amarah yang hampir tak dapat dibendung lagi.


akhirnya ia mengalah,rivan keluar dari kamar dhita lalu membanting pintu kamar dengan kencang hingga menimbulkan suara yang sangat kencang


Dhita pun terkejut mendengar suara pintu yang dibanting rivan.


entah ia sudah putus asa atau memang tak dapat berpikir jernih lagi ia pun berpikiran sempit ia ingin mengakhiri hidupnya

__ADS_1


setelah menemukan yang ia cari akhirnya ia pun menulis kata -kata perpisahan lalu menyelipkannya dibawah gelas diatas meja kecil.


ia pun masuk kedalam kamar mandi lalu menguncinya dari dalam.


setelah ia mempertimbangkan lagi keputusannya akhirnya ia memecahkan kaca yang ada didalam kamar mandi lalu mengambil pecahannya lalu menggoreskannya pada pergelangan tangannya lalu ia masuk kedalam bathup yang sudah terisi air.


seketika itu juga darah mengalir dari pergelangan tangan dhita dan air yang tadinya putih menjadi merah,perlahan ia merasakan pandangan matanya samar lalu gelap dan tak lama kemudian mata dhita terpejam


perih ia rasakan dari pergelangan tangannya yang terluka.


air matanya mengalir ia ingat kedua anak-anaknya,ingat bunda ipeh dan niken,ingat betapa gigihnya dhaniel mempertahankannya


"maafkan mama sheilla,bayu mama tak bisa menjadi ibu yang baik untuk kalian,mama tak bisa melihat kalian tumbuh besar,maafkan mama tak dapat melihat kalian lagi tapi percayalah mama selalu ada untuk kalian"


Setelah menerima laporan dari seorang pelayan yang menemukan secarik kertas yang ditulis dhita rivan yang saat itu berada dikantornya langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh dan begitu tiba ia langsung mendobrak pintu kamar mandi dan seketika itu juga matanya terbelalak seakan tak percaya dengan apa yang kini ia lihat didepannya.


wajah dhita yang terlihat pucat dan tubuhnya yang dingin dengan darah yang masih mengalir dari pergelangan tangannya.


Rivan dengan buru-buru membalut luka dipergelangan tangan dhita untuk menghentijan pendarahan lalu mengangkatnya dan meletakannya diatas tempat tidur dan setelah para pelayan selesai mengganti pakaian dhita yang basah ia langsung membawanya kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan dan berharap dhita akan selamat

__ADS_1


__ADS_2