
SELAMAT MEMBACA
Wajah Dhita terlihat sangat pucat karena begitu banyak darah yang keluar dari keningnya yang terluka.
Kepala pelayan pun segera menghubungi Danial untuk memberi kabar jika saat ini istrinya sudah dirumah dan dalam keadaan terluka.
Daniel yang saat itu baru saja selesai meeting langsung segera pulang saat mendapat kabar jika Dhita terluka.
Karena khawatir dengan keselamatan Dhita ia mengemudikan mobil dengan kecepatan maksimal hingga hanya dalam waktu tiga puluh menit ia pun tiba dirumahnya.
Setelah mematikan mesin mobilnya ia pun berlari masuk kedalam rumah.
"Sayang.....Dhita" teriak Daniel sambil mencari keberadaan Dhita.
"Tuan, Nyonya Dhita sekarang ada didalam kamar sedang istirahat" ucap salah seorang pelayan.
Tanpa menjawab Daniel pun segera menuju kamarnya.
"Sayangg mana maafin aku" Daniel langsung duduk disamping Dhita yang sedang terbaring dengan dahi yang diperban.
"Aku gak apa-apa yank, cuma bocor sedikit, yang penting anak-anak kita gak kenapa-napa"Dhita terlihat begitu lemas dan pucat, hal itulah yang membuat Daniel merasa khawatir.
Dengan segera ia menghubungi dokter keluarganya.
Daniel pun meminta ketiga temannya untuk datang.
Sementara itu di kediaman Anti nampak begitu bahagia karena sudah bisa melukai Dhita.
Ia pun tertawa puas saat melihat gambar yang dikirim oleh mata-matanya di kediaman Daniel.
"Itu baru awal Dhita, anggap saja itu sebuah peringatan buat kamu" ucap Anti dengan tatapan penuh dendam.
Ketiga teman Daniel sudah tiba di rumah Daniel.
Mereka mengecek mobil yang digunakan Dhita yang sudah rusak parah, dan mereka juga mengintrogasi supir dan juga seorang bodyguard yang bersama Dhita waktu kejadian.
Tiba-tiba saja Daniel teringat dengan pelayanan yang ia curigai kemarin.
Mereka pun segera masuk kedalam dan membahas tentang rencana selanjutnya.
Daniel juga memanggil kepala pelayan dan memintanya untuk mengawasi pelayan baru yang ia curigai.
Bayu dan juga Sheila tidak mau jauh dari Dhita, mereka merasa takut dengan kejadian yang baru saja mereka alami beberapa saat lalu.
Luka di dahi Dhita ternyata cukup dalam hingga harus dijahit.
__ADS_1
Daniel pun melarang Dhita untuk beraktivitas untuk sementara dan semua kerjaan dilakukan oleh pelayan.
Anti yang begitu bahagia nampak sedang menikmati kemenangannya.
Ia berbelanja apapun yang ia inginkan.
Tanpa ia sadari orang suruhan Daniel terus memantaunya.
Saat ia melintasi jalan yang sepi beberapa orang suruhan Daniel mengikutinya dan pas ada kesempatan mereka pun menabrakan mobilnya ke bagian belakang mobil Anti.
"Sial siapa sebenarnya mereka" maki Anti sambil berusaha menghindar.
Namun mobil yang mengikutinya terus saja memepet mobilnya tanpa mau mendahului.
Sekali lagi mobil yang mengikuti Anti menaberakan mobilnya namun kali ini lebih kencang dari yang pertama dan kedua.
Anti yang tidak siap pun langsung hilang keseimbangan dan akhirnya menabrak pembatas jalan.
Mobil Antipun mengalami rusak parah dan ia sendiri terluka di bagian keningnya.
"Ahhhh sial, siapa sebenarnya mereka" maki Anti sambil memukul stir kemudinya.
Sementara itu Daniel nampak tersenyum puas melihat hasil kerja anak buahnya.
"Aku harus segera membereskannya hama yang ada didalam rumahku" batin Daniel.
"Hallo cari tau keluarganya lalu kirimkan fotonya" titah Daniel pada seseorang diseberang sana.
Daniel pun memperketat penjagaan dirumahnya dengan beberapa orang terpilih.
Ke esokan harinya orang suruhan Daniel telah berhasil menemukan keluarga dari mata-mata yang dikirim Anti kerumahnya.
Karena tidak ingin terjadi sesuatu lagi Daniel pun tidak ingin berlama-lama bermain dengan orang yang telah melukai keluarganya.
Siang itu Daniel sengaja tidak pergi ke kantor, semua pekerjaan kantor ia kerjakan dirumah.
Saat Daniel ingin mengambil air dingin tanpa sengaja ia mendengar suara orang yang sedang menelpon dengan suara berbisik-bisik seperti takut ada yang mendengar.
Ia berjalan perlahan ke arah asal suara.
Benar saja dugaannya, pelayan yang ia curigai sedang menelpon seseorang dan menginformasikan jika saat ini dirinya sedang dirumah.
Daniel pun merekam semua pembicaraan mereka.
Saat sudah selesai berbicara pelayan itu sangat terkejut saat melihat Daniel sudah berdiri dibelakangnya.
__ADS_1
"Sedang apa kamu disini dan siapa orang yang sedang kamu hubungi tadi?" tanya Daniel dengan ekspresi dingin.
"Ma....maaf tuan tadi saya sedang menghubungi orang tua saya dikampung" jawab pelayan itu yang ternyata bernama Rina.
" Oh iya...tapi setahu saya orang tua kamu jam segini sedang berada dibawah dan mereka tidak mempunyai ponsel" Daniel bersandar didinding dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celananya.
Wajah pelayan yang bernama Rina itu pun langsung pucat karena ternyata Daniel tau jika orang tuanya tidak mempunyai ponsel.
Daniel pun memanggil kepala pelayan dan memintanya untuk mengurung pelayan itu sampai ketiga temannya tiba.
'Tuan tolong jangan hukum saya, saya hanya disuruh seseorang" pelayan itu memohon agar ia tidak dihukum.
Namun Daniel sudah terlanjur geram, gara-gara wanita itu Dhita celaka dan Kedua anaknya menjadi trauma tidak mau keluar rumah.
Setelah menunggu hampir satu jam ketiga temannya pun tiba.
Daniel pun menceritakan semuanya dan meminta pendapat dari ketiga temannya apa yang harus ia lakukan.
Mereka pun langsung meminta kepala pelayan untuk membawa mata-mata itu menghadapnya.
Wajah Rina terlihat begitu pucat saat dihadapkan dengan Daniel dan Kedua temannya.
"Ampun tuan tolong jangan hukum saya, saya bersedia melakukan apapun asal saya tidak dipanjara" Rina pun langsung bersujud memeluk kaki Daniel dan memohon agar ia tidak dijebloskan ke penjara.
"Katakan siapa yang menyuruhmu untuk memata-matai keluargaku" tanya Daniel sambil menatap tajam kearah wanita itu.
Rina pun menunduk tidak berani menatap ketiga pria tampan didepannya.
"Saya hanya disuruh nyonya Anti tuan dan harus melaporkan apapun yang tuan dan Nyonya Dhita lakukan" ucap Rina menjelaskan dengan tangan bergetar.
"Kenapa kamu mau melakukan pekerjaan seperti itu, apa kamu tau gara-gara kamu hampir saja anak dan istri ku celaka" ucap Daniel dengan amarah yang meluap-luap.
Kedua temannya langsung memegang tangan Daniel dan memintanya untuk tenang.
"Maafkan saya tuan, saya terpaksa melakukan itu karena Nyonya Anti mengancam keluarga saya" ucap Rina dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
Ada rasa tidak tega saat ia memarahi gadis lugu itu namun saat ia ingat kejadian yang hampir saja mencelakai keluarganya rasa kesalnya pun muncul.
"Niel kita bisa kasih dia kesempatan untuk bekerjasama dengan kita" saran Andreas.
"Iya betul Niel, kita bisa manfaatkan dia untuk tau apa rencana Anti selanjutnya" timpal Pian dan diangguki juga oleh Pico.
Untuk beberapa saat Daniel terdiam memikirkan apa yang dikatakan oleh ketiga temannya.
"Baik lah aku akan ampuni kamu dengan syarat bekerja samalah dengan ku" ucap Daniel
__ADS_1
Rina pun setuju yang terpenting baginya adalah saat ini ia tidak dipenjara agar ia masih bisa membantu kedua orang tua nya.