
Dengan wajah panik Rivan membawa Dhita kerumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.
Setibanya dirumah sakit anak buah Rivan segera membawa bangsal dan mendorongnya dengan cepat menuju UGD dibantu beberapa perawat.
Melihat wajah pasien yang sudah memutih dengan pergelangan tangan yang dibalut perban seadanya sang dokterpun bertanya pada Rivan kenapa pasien bisa sampai koma karena kehilangan banyak darah.
Dengan rasa cemas Rivan menunggu didepan ruang UGD pikirannya tak tenang takut terjadi hal yang tak diharapkan pada Dhita.
"Bos tenang dulu,lebih baik duduklah disini"ucap Eman salah satu orang kepercayaannya
"gimana aku bisa tenang Man,dia koma didalam sana"jawab Rivan dengan nada sedikit emosi
"saya tau bos,tapi kalau bos mondar mandir juga gak ada pengaruhnya buat non Dhita kan,mending kita berdoa bos biar non Dhita bisa selamat" ucap Eman menasehati sang bos yang kini pikirannya sedang kalut.
Rivan masih menunggu dikursi yang terdapat diruang ICU,karena kondisi Dhita yang masih koma maka setelah mendapatkan pertolongan Dhita langsung dipindahkan keruang ICU.
Dengan kasar ia menyugar rambutnya kebelakang.
Ia tak menyangka Dhita bisa senekad itu ingin mengakhiri hidupnya hanya karena tak ingin bersamanya.
Kini Rivan bingung haruskan ia mengabari keluarga Dhita tentang kondisinya saat ini,ataukah ia lanjutkan rencananya semula namun menunggu Dhita pulih dulu.
__ADS_1
Ternyata mencintai dalam diam itu lebih baik walaupun menyakitkan, setidaknya ia masih dapat bersama dengan gadis yang dicintainya walaupun hanya berstatus sahabat, harusnya ia tetap menjadi Rivan yang dulu tidak egois ingin memiliki Dhita seutuhnya.
Tanpa ia sadari butiran putih bening mengalir dari sudut matanya,ia hanya mampu manatap Dhita yang terbaring lemah dengan berbagai peralatan medis yang menempel ditubuhnya dari balik kaca kecil yang terdapat didepan pintu ruangan Dhita.
"maafin aku Dhit,aku tak bermaksud membuatmu menderita seperti ini,bertahanlah dhit meskipun bukan demi aku,tetapi demi orang-orang yang kamu cintai" ucap Rivan lirih dari balik kaca kecil yang menempel dipintu ruangan.
Ada rasa sakit yang menusuk-nusuk dadanya tak berdarah namun terasa begitu menyayat dan pedih.
Sementara itu Dhaniel nampak putus asa ia telah mencari keseluruh sudut kota untuk mencari keberadaan Dhita namun hasilnya nihil tak ada satu pun anak buahnya yang membawa kabar menyenangkan.
Saat itu Dhaniel sedang bersama dengan kedua anaknya saat Andreas datang memberi kabar tentang keberadaan Dhita.
"Niel ada berita bagus Dhita udah ketemu"ucap Andreas dengan wajah berbinar
"iya Niel,tadi Rivan nelpon gw dia ngasih kabar kalau saat ini Dhita dalam perawatan dirumah sakit "xx" dikota "C" jelas Andreas dengan ragu saat menyebutkan rumah sakit
Dan betul saja sesuai perkiraan Andres, Dhaniel nampak mengerutkan keningnya
"kenapa kok di rumah sakit?"
"Andreaspun menjelaskan dengan detail seperti yang didengarnya dari Rivan kalau Dhita berusaha mengakhiri hidupnya
__ADS_1
Dengan wajah yang memerah menahan amarah Dhaniel segera menuju rumah sakit yang dimaksud
Satu jam lebih perjalanan dari tempatnya menuju rumah sakit yang dituju,akhirnya Dhanielpun tiba,dengan langkah yang tergesa-gesa Dhaniel menuju ruang perawatan Dhita.
Dengan tangan yang mengepal kuat Dhaniel berusaha menahan amarahnya agar tak membuat keributan ketika ia melihat Rivan yang sedang duduk didepan ruang ICU
"dasar berengsek apa yang kau lakukan pada Dhita?" tanya Dhaniel dengan suara yang ditekan sambil memegang kerah baju Rivan dan memdorongnya ketembok
Rivan tak mampu berkata-kata wajahnya memerah manahan rasa bersalah atas apa yang terjadi dengan gadis yang kini sedang mereka ributkan.
"Niel please jangan ribut disini,aku akui aku salah,loe boleh hukum gw apa aja gw terima tapi tolong tunggu Dhita sadar dulu"pinta Rivan pada Dhaniel.
Setelah emosinya sedikit mereda akhir Dhaniel pun melepaskan cengkramannya pada kerah baju Rivan dan berjalan menuju pintu perawatan Dhita.
Hatinya hancur melihat kondisi Dhita yang terpasang selang dimana-mana.
Bagaimana harus menjelaskan pada Bunda Ipeh nanti .
Tanpa ia sadari air matanya mengalir begitu saja.
"bertahanlah beib demi aku,demi anak-anak kita,demi bunda dan Niken" ucap Dhaniel lirih.
__ADS_1
Andreas hanya diam ia pun tak mampu berkata-kata lagi.
Ia pun merasakan hal yang sama karena memang ia juga memendam rasa pada Dhita namun ia sadar diri dan mengalah pada sahabatnya yang memang sudah cinta mati pada gadis itu.