
Akhirnya pernikahan yang sudah diambang mata pun terpaksa diundur sampai waktu yang belum ditentukan.
Wajah Dhaniel nampak kusut,ia duduk disamping Dhita digenggamnya tangan gadis pujaannya seakan enggan untuk dilepaskan.
Ia menunduk menahan sesuatu yang hendak keluar dari sudut matanya, menahan beratnya beban pikirannya ia pernah membayangkan meriahnya pernikahan yang akan berlangsung tak berapa lama lagi namun semua itu kini hanya tinggal angan-angan saja.
"beib bangun,ini sudah kedua kalinya kamu membuat aku khawatir seperti ini beib,apa kamu betah disana hingga enggan membuka matamu,apa kamu tidak rindu dengan aku dan anak-anak" Dhaniel mengelus lembut pipi putih mulus Dhita ia berharap gadis itu mau membuka matanya.
"sabar sayang,anggap saja semua ini ujian dari perjalanan cinta kalian" tiba-tiba Bunda Ipeh sudah berada dibelakang Dhaniel,ia mengelus lembut punggung pria yang sangat mencintai putrinya itu.
"kenapa ya Bun selalu saja begini,dulu juga menjelang hari H Dhita diculik dan berakhir di rumah sakit,begitu juga saat ini Bun hanya tinggal menunggu beberapa hari lagi Bun kami resmi" isak Dhaniel didalam pelukan Bunda Ipeh
Sang Bunda juga ikut terisak ia tahu beban Dhaniel begitu berat,andai saja waktu itu Dhita tak menolong anak kecil itu pasti ia tak akan kecelakaan dan berakhir seperti ini.
"Sabar nak yakinlah Allah punya rencana yang indah buat kalian"ucap Bunda Ipeh menenangkan Dhaniel
Ditatapnya wajah putih yang memucat yang terbaring dengan berbagai alat bantu untuk mempertahankan kehidupannya.
Dielusnya dengan lembut "beib ayo buka matamu,apa kamu tak ingin melihat wajah tampanku"bisik Dhaniel ditelingan Dhita yang masih terpejam.
__ADS_1
Andreas datang dengan membawa baju ganti dan sarapan untuk bos sekaligus teman dekatnya.
"Dre apa kamu sudah menemukan pelaku tabrak larinya?"tanya Dhaniel sambil menikmati sarapan pagi yang dibawakan oleh Andreas
"sudah ada titik jelasnya Niel,anak buahku sedang mencari alamat yang sebenarnya"jelas Andreas
"memang ada apa dengan alamatnya?"tanya Dhaniel sambil mengerutkan dahinya
"alamat yang tertera di stnk nya palsu bos"
Dhaniel hanya menganggukan kepalanya
"kamu tenang saja biar aku yang urus soal itu,fokuslah pada kesembuhan Dhita"ucap Andreas berusaha menengkan Dhaniel sambil menepuk pundaknya
Tanpa terasa sebulan sudah Dhita menjalani perawatan dirumah sakit namun belum juga ada tanda-tanda membaik.
"Sayang kamu tidak lelah apa?ayo buka matamu dan tatap aku,apakah disana lebih menyenangkan dari pada disini?aku dan anak-anak tak sabar ingin melihatmu kembali tersenyum dan memarahi kami beib" ucapan yang keluar dari mulut Dhaniel terdengar begitu lirih tanpa terasa air mata Dhaniel kembali bergulir dari sudut matanya.
Bunda Ipeh yang hendak masuk sesaat menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Dhaniel,hatinya begitu pilu mendengar ucapan calon menantunya itu.
__ADS_1
Setelah menarik nafas dalam Bunda Ipeh pun menghampiri Dhaniel dan menyuruhnya istirahat.
Bukan tanpa alasan Bunda Ipeh memaksanya untuk istirahat, nampak wajah lelah Dhaniel dengan kantung mata yang menghitam akibat kurang tidur dan badannyapun nampak kurus tak terawat.
"ya Allah berikanlah yang terbaik untuk putriku,jika memang umurnya masih panjang angkatlah penyakitnya dan berilah kesembuhan untuknya,jika memang umurnya hanya sampai disini maka permudahlah segala sesuatunya,hamba iklas " doa bunda setelah selesai melaksanakan sholat didalam ruang perawatan Dhita.
Nampak Dhaniel tertidur pulas disofa.Setelah melipat peralatan sholatnya Bunda Ipeh mendekati tempat tidur Dhita dan menatap sedih putrinya yang terbaring dengan wajah putih pucat.
Ait mata yang selalu ditahan agar tidak mengalir akhirnya mengalir juga,hatinya begitu pilu melihat keadaan putrinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai para reader sebelumnya Author mohon maaf baru bisa up hari ini.
Author juga mohon maaf jika masih banyak typo.
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca sebagai dukungan buat author dengan cara
-Like
__ADS_1
-rate dan juga kritsarnya