Cerita Kita

Cerita Kita
BAB 94


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Dhita yang sangat khawatir dengan anak-anak nya hanya menangis dan berharap Bayu dan juga Sheila dapat segera diselamatkan.


Sementara itu di ruang kerja Daniel, ketiga sahabatnya sedang melacak keberadaan Anti dan anak buahnya melalui pesan singkat yang ia kirim ke ponsel Dhita.


Air mata Dhita tidak bisa berhenti saat ia membayangkan bagaimana mereka tidur, apakah mereka sudah makan atau belum.


Bunda Ipeh terus berusaha menghibur Dhita dan memintanya untuk beristirahat.


Akhirnya Dhita pun tertidur walaupun tidak bisa nyenyak.


Saat tengah malam Dhita merasa haus, tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan antara Daniel dan teman-temannya.


Ia tau dimana tempat yang Danil maksud, dengan segera ia pun kembali ke kamarnya dan menyusun rencana untuk menyelamatkan anak-anaknya.


"Aku bukan wanita lemah, akan aku buktikan pada mu Anti" ujar Dhita.


Ia pun segera memejamkan matanya dan berharap ia akan terbangun lebih awal esok harinya.


Pagi pun tiba setelah sholat subuh ia pun segera bersiap-siap untuk menjalankan rencananya yang sudah ia pikirkan tadi malam.


Dengan ngendap-endap Dhita keluar dari rumahnya dan kebetulan saat ia keluar ada sebuah taksi yang melintas.


Ia pun segera memberhentikannya dan meminta pada supir taksi untuk mengantarnya ke tempat yang ia sudah tulis di kertas selembar.


Hari masih sedikit gelap saat Dhita tiba di sebuah rumah dan terlihat beberapa orang sedang duduk di teras depannya seperti sedang berjaga.


Dhita pun sedikit berpikir bagaimana caranya agar ia dapat masuk kedalam rumah itu.


Entah karena ia beruntung atau apa saat itu ada sebuah mobil yang masuk dan merekapun membiarkan pintu pagarnya terbuka lebar, dengan segera Dhita masuk kedalam dan bersembunyi diantara berbagai pot besar yang ada di sana.


Beruntung juga ia mempunyai tubuh yang kecil hingga tidak membutuhkan tempat yang luas untuk bersembunyi.


Saat pintu masuk terbuka, setelah memastikan kondisi sepi dengan segera ia pun masuk kedalam rumah dan bersembunyi di balik bufet besar.


Jantung nya berdegup kencang saat beberapa orang melintas didekatnya.


Setelah orang-orang berbadan besar itu keluar dan menutup pintu ia pun segera mencari keberadaan kedua anaknya.


Satu per satu ruangan yang ad disana ia periksa, tidak jarang juga ia hampir ketahuan.

__ADS_1


Anti yang baru saja tiba dengan membawa beberapa buat bungkus makanan langsung masuk kedalam salah satu kamar.


Ingin rasanya Dhita ikut masuk, ia yakin jika kedua anaknya berada dikamar itu.


Sementara itu di kediaman Daniel beberapa orang sibuk mencari keberadaan Dhita.


Saat Daniel mengecek CCTV ia baru sadar jika Dhita diam-diam telah pergi mencari keberadaan kedua anaknya.


"Sayang kenapa kamu gak sabaran sih" ucap Daniel sambil mengecek alat pelacak yang telah ia pasang di cincin kawin yang dipakai oleh Dhita.


Karena khawatir dengan keselamatan Dhita ia pun segera meminta Andreas dan anak buahnya untuk segera menjalankan rencana yang sudah disusun tadi malam.


Sementara itu dikediaman Anti, ia tersenyum puas saat ia melihat rekaman CCTV yang ia pasang.


Ia melihat Dhita menyelinap masuk dan bersembunyi didalam lemari.


"Ini saat yang tepat untuk segera menyingkirkan mu Dhita" Anti pun segera menuju lemari tempat dimana Dhita bersembunyi ia juga membawa dua orang anak buahnya.


Dhita yang saat itu belum tau jika ia ketahuan nampak mengintip dari celah kecil yang ada di lemari itu.


Ia sangat terkejut saat tiba-tiba saja lemari itu dibuka paksa.


"Keluarkan dia" titah Anti kepada kedua anak buahnya dan tidak menunggu lama kedua anak buahnya langsung menarik Dhita keluar.


"Brengsek lepaskan anak-anakku,dasar wanita tidak punya hati" maki Dhita saat kedua orang berbadan kekar itu menarik nya kasar.


Antipun hanya tersenyum melihat Dhita yang terus memakinya.


"Sudah puas loe maki-maki gw?" tanya Anti sambil tersenyum sinis.


"Sekarang loe puas-puasin liat anak-anak loe, karena setelah ini loe gak akan bisa melihat Daniel dan anak-anak loe lagi" Anti tertawa puas karena rencananya berhasil dan membuat Dhita masuk kedalam perangkapnya.


Dhitapun dibawa untuk menemui kedua anak-anaknya.


Saat salah satu pintu kamar dibuka Dhitapun langsung menangis saat melihat kedua anaknya yang di ikat di kursi dan mulut yang disumpal dengan kain-kainan.


Ia pun hendak berlari memeluk anaknya, namun pengawal Anti mencegahnya.


"Loe cuma boleh ngeliat mereka tapi gak boleh nyentuh, ngerti loe" ucap Anti sambil memegang dagu Dhita kasar.


"Masih untung gw baik ngasih koe kesempatan buat liat mereka sebelum loe ...." ucap Anti tidak meneruskan kata-katanya.

__ADS_1


"Dasar cewe gila loe, mereka itu masih kecil gak ngerti apa-apa, lepasin mereka" ucap Dihita sambil meronta agar bisa lepas dari genggaman para pengawal Anti yang bertubuh kekar.


Melihat Dhita yang terus meronta Anti pun kesal, ia meminta pengawal nya untuk membawa Dhita keluar.


Antipun mengeluarkan sapu tangan yang sudah diberi obat bius lalu dengan dibantu kedua orang suruhannya ia pun membungkam mulut Dhita dan beberapa saat kemudian Dhitapun tidak sadarkan diri.


Saat itulah Anti mengambil kesempatan untuk menggantikan posisi Dhita.


Ia melucuti semua yang dipakai Dhita dan menukarnya dengan yang ia pakai.


Setelah semuanya selesai ia pun menyuruh orang suruhannya untuk membawa Dhita kesuatu tempat yang sudah ia persiapkan.


Dengan memakai pakaian Dhita, Antipun memulai aksinya.


Ia masuk kedalam kamar tempat Bayu dan Sheila disekap.


Ia berpura-pura menjadi penolong keduanya.


"Mama... Sheila takut"


"Bayu juga .." ucap ke-dua nya saat ikatan tangan mereka telah dilepaskan oleh Anti.


"Ia sayang sakarang kamu tenang saja ada Mama disini" ucap Anti yang menyamar menjadi Dhita


Sementara itu Dhita dibawa kesebuah tempat di kepulauan seribu, disana Anti sudah menyiapkan sebuah rumah kecil dan juga beberapa penjaga agar Dhita tidak dapat melarikan diri.


Daniel dan anak buahnya pun tiba, ia sangat lega saat melihat kedua anaknya dan juga Dhita selamat.


"Alhamdulillah kalian tidak apa-apa sayang" ucap Daniel sambil memeluk ketiganya.


Anti pun tersenyum bahagia karena rencananya berhasil.


Kini Daniel melihat dirinya sebagai Dhita.


"Tidak sia-sia aku mempelajari sikap, cara berpakaian si Dhita" batin Anti.


Ia merasa begitu bahagia karena Daniel mengiranya sebagai Dhita, dan ia telah berhasil membuang Dhita asli jauh dari ini kota.


Sementara itu setelah menempuh jalur darat dan laut Dhitapun tiba di sebuah pulau kecil dengan penjagaan ketat.


Dhita yang mulai sadar nampak bingung karena ia berada ditempat yang begitu asing.

__ADS_1


__ADS_2