Cerita Kita

Cerita Kita
Bab 45


__ADS_3

Alangkah terkejutnya Dhita begitu melihat pria yang selama ini dihindarinya kini berada tepat didepan matanya.


Seketika itu juga ia tersadar dan segera memeluk sheilla ia pun berdiri dan mulai mundur selangkah demi selangkah menjauh dari Dhaniel.


Dhaniel yang melihat kelakuan kekasihnya itu hanya tersenyum ia tahu jika Dhita akan berusaha kabur lagi namun kali ini ia tidak takut karena ia sudah tahu semua tentang kekasihnya itu.


Dhita berhasil menjauh dari Dhaniel dengan masih menggendong Sheilla ia masuk kedalam rumah dan mengunci pintu dan menutup rapat hordeng.


Sheilla hanya menatap bingung dengan apa yang dilakukan bundanya.


"bunda ini kan belum malam kok udah ditutup"tanya bocah usia 3 tahun setengah itu


"gak apa-apa sayang biar nyamuk gak masuk" jawab Dhita asal


"bunda apa om tadi itu ayah aku"tanyanya polos


"bu---bukan sayang dia bukan ayah mu" ucap dhita sedikit gugup


"trus ayah shella mana bun?sheilla juga mau punya ayah kaya yang lain"ucap gadis kecil itu dengan wajah yang mulai berkaca-kaca.


entah kenapa hati Dhita terasa pilu mendengar ucapan sheila.


jujur ia pun tak tahu dimana ayah anak ini yang ia tahu waktu kak asni hamil pria itu meninggalkannya demi wanita lain.


"sabar sayang nanti juga ayah mu akan datang menemuimu" ucap Dhita lembut sambil sedikit menunduk menyamakan tinggi dengan gadis kecil itu.


sementara itu Dhaniel tersenyum bahagia mengingat pertemuannya dengan Dhita ingin rasanya ia langsung memeluk dan membawanya pulang namun untuk saat ini ia harus sedikit bersabar masih banyak yang harus ia selesaikan.


Keesokan harinya seperti biasa saat ia kerja Dhita harus menitipkan gadis kecilnya pada pengasuhnya.


ia sedikit heran kenapa suasana kafenya hari ini sedikit berbeda.


"lin...kok kaya ada yang aneh ya ama ni kafe?"tanya Dhita penasaran


"iya lah Dhit kata bos nanti kafe kita bakalan kedatangan orang penting"ucap cellin sambil membersihkan meja dan merapihkan bangku-bangkunya


"siapa?artis?"tanya Dhita masih dengan rasa penasarannya.


"hem....bukan katanya sih pengusaha muda " ucap cellin seperti sedang berpikir


"oh......" ucap Dhita lalu kembali membersihkan gelas dan piring


hari semakin siang suasana kafe sudah mulai sedikit ramai oleh pengunjung.


"Dhita tolong anterin pesanan ini ke meja no 1 yah.." pinta bang Ruly yang merupakan juru masak utama di kafe kami


"siap bosss" jawabku sambil mengambil nampan makanan dan minuman dan membawanya kemeja yang diminta.


"selamat siang tuan ini pesanannya selamat menikmati" ucapku sambil tersenyum dan meletakan pesanannya diatas meja.

__ADS_1


kertika aku hendak pergi meninggalkan meja itu tiba-tiba tanganku ditarik oleh tamu yang duduk dimeja itu.


aku pun ingin marah namun saat melihat wajah orang yang menarikku aku pun terkejut


"dari mana ia tahu kalau aku bekerja disini"tanyaku dalam hati


"mau kemana duduk sini temani aku dulu" ucapnya masih dengan memegang tanganku


"niel tolong lepasin aku lagi kerja" pintaku dengan nada pelan


"beib tenang aja gak akan ada yang berani negur kamu jadi duduklah disini"perintahnya dengan nada setengah berbisik


"tapi...." belum sempat aku meneruskan kata-kataku Dhaniel sudah menatapku horor


"iya aku duduk tapi lepasin dulu ini sakit tau"ucapku pelan sambil berusaha melepaskan jari Dhaniel satu per satu dari tanganku.


aku pun duduk berhadapan dengannya sambil memeluk nampan yang tadi aku bawa.


"sekarang jelaskan padaku kenapa kama lari dariku" tekan Dhaniel dengan tatapan seakan mengintimidasiku


aku pun tak mampu menjawab dan tak berani menatap kearahnya.


aku melirik kekiri dan kanan membaca situasi siapa tau aku bisa segera pergi dari hadapan Dhaniel.


"jangan coba-coba berpikir untuk kabur lagi beib,aku sedang menunggu pertanggung jawabanmu" ucapnya sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya.


"kenapa aku harus tanggung jawab"protesku dan memberanikan diri untuk menatapnya.


nampak teman-teman kerjaku memperhatikanku mungkin dalan benak mereka ada berbagai pertanyaan.


"aku harus kerja niel,kalau mau bicara hal yang pribadi nanti saja" ucapku sambil berdiri


"duduk?"perintahnya mulai sedikit tegas


"tapi...." aku pun tak berani melanjutkan ucapanku karena Dhaniel menatapku tajam


"aku bisa saja membeli kafe ini dan memecat semua yang bejerja disini jika kamu gak mau nurut" ancamnya aku pun membulatkan mataku tak terima dengan ancamannya


"bisanya ngancem doang,kalo berani jangan ngorbanin orang lain dong" protesku dengan sedikit rasa kesal


Andreas yang berada dimeja belakang Dhaniel hanya tersenyum mendengar perdebatan kami.


"apa loe nyengir-nyengir"ucapku pada Andreas yang malah melebarkan senyumannya mendengarkan perkataanku


"udah lama gw gak denger suara omelan loe yang merdu tha kangen juga" jawabnya santai sambil meminum jus jeruk yang ada didepannya.


melihat wajah Dhaniel yang kini dalam mode sedikit gahar Andreaspun langsung terdiam


"sorry bos" kata itu sempat meluncur sebelum ia mengatupkan mulutnya.

__ADS_1


"dre suruh kafe ini tutup sementara sampai urusanku selesai dan berikan ganti ruginy"perintah Dhaniel yang langsung diangguki oleh Andreas.


"sekarang duduklah dan kita selesaikan urusan kita"perintahnya


"aku gak ada urusan sama kamu niel"tolakku


"oh..yah jadi menurut kamu meninggalkan aku selama ini kamu bilang gak ada urusan?" ucapnya sambil berdiri dan mengurungku disudut ruangan yah karena memang tempat duduk yang ia pilih berada disalah satu sudut ruangan.


"aku mau kita segera kembali dan aku akan langsung menikahimu"ucapnya tegas sambil mendekatkan wajahnya kearahku aku pun memundurkan kepalaku menjauh


"aku tidak akan memberikan kesepatan buat melarikan diri lagi beib ingat itu" dhaniel menyentuh wajahku dan mengelus pipiku dengan jemarinya


"niel jangan begini diliatin orang malu"tolakku sambil menjauhkan jarinya dari wajahku


"kenapa harus malu,kamu calon istriku yang nakal dan aku akan menghukummu sayang" bisiknya ditelingaku yang langsung membuatku geli


aku pun berusaha mendorong dadanya agar menjauh.ia hanya tersenyum mungkin buat orang lain terlihat begitu manis tapi buat aku senyumnya begitu mengerikan


"aku pergi dulu beib masih ada urusan,nanti sore aku jemput,jangan berusaha lari lagi dariku karena putrimu ada padaku" ancamnya lagi namun kali ini ancamannya membuatku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa kecuali menurutinya.


cup


tiba-tiba Dhaniel mengecup bibirku lalu mengusap rambutku dan pergi meninggalkan aku yang masih sedikit shok karena ciuman tadi


setelah mobil Dhaniel menjauh semua teman-temanku segera mengerubungiku meminta penjelasan.


"ayo cepat bilang ada hubungan apa kamu sama bos tajir itu"desak cellin dan yang lain


"ishh apaan sih aku dak ada hubungan apa-apa kok kami cuma teman" sangkalku


"Dhita...kalo cuma teman gak mungkin dia nyium kamu tadi" ucap cellin mengingatkan


"he..he...pada liat ya"tanyaku pura-pura lupa


sambil tersenyum malu


"ayo cepat bilang yang jujur"ucap mereka serempak seperti sedang demo


"iya...iya aku jujur" aku pun menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan


" ih...cepat napa bilang"protes cellin


"ihh....sabar dong"balasku


"Dhaniel itu tunangan aku dan aku kabur saat mau nikah dulu"jawabku sambil menunduk tak berani menatap wajah teman-temanku.


mungkin mereka menganggap aku bodoh kerena memilih melarikan diri dari seorang Dhaniel seorang pengusaha muda yang banyak diincar kaum hawa.


biarlah mereka tak usah tahu kejadian yang sebenarnya.biarlah juga mereka berpikir aku yang bodoh karena tak mau diajak hidup mewah.

__ADS_1


__ADS_2