Cerita Kita

Cerita Kita
Bab 62


__ADS_3

Sebulan telah berlalu setelah kejadian itu,namun Dhita masih belum dapat memaafkan Rivan,ia masih takut jika melihat pria itu.


Disisi lain Rivan hanya bisa pasrah dengan perlakuan Dhita kepadanya,hampir setiap hari ia selalu melihat Dhita namun hanya dari jauh.


Ada rasa sakit yang begitu menyesakkan dada saat Dhita ketakutan melihatnya padahal dahulu kalau ia datang gadis itu akan menyambutnya dengan hangat.


"Neng emangnya kamu belum bisa maafin Rivan,kasian dia nak setiap hari ingin melihatmu namun kamu selalu menghindarinya,Tuhan saja mau memaafkan umatnya yang berbuat salah nak"tutur Bunda Ipeh lembut


"untuk saat ini Dhita belum bisa Bun,Dhita masih takut kalau melihat dia"jawab Dhita sambil menunduk dan memilin ujung bajunya.


"apa kamu lupa Neng,dulu kalau dia datang kamu begitu bahagia belum juga dia istirahat kamu udah ngajak dia beli bakso" kini Bunda mencoba mengingatkan Dhita akan semua kenangan manisnya bersama Rivan


"Dhita gak lupa Bun,Dhita inget semuanya,namun entah kenapa saat melihat dia sekarang yang ada cuma rasa was-was Bun takut dia culik Dhita lagi"kini air mata yang sedari tadi Dhita coba bendung sudah tak tertahankan lagi mengalir dengan deras dipipinya sambil sesekali ia mengusap air matanya dengan punggung tangannya.

__ADS_1


Bunda yang tak tahan melihat air mata yang keluar dari mata putrinya mencoba menenangkan Dhita dengan memeluknya erat sambil mengelus punggungnya lembut.


"Dhita akan berusaha Bun buat maafin dia tapi tidak saat ini"ucap Dhita dengan suara yang yang tersengal-sengal karena tangisnya.


"mama....mama kenapa?kok nangis,tangan mama sakit lagi ya"tanya Bayu yang tiba-tiba muncul sambil berlari mendekat kearah Dhita lalu naik dan duduk dipangkuannya.


Tangan mungilnya bergerak mengahapus air mata yang masih tersisa dipipi mama tercintanya.


Dengan lembut ia memegang tangan Dhita yang terdapat bekas luka sayatan dan memperhatikannya "apa ini yang masih sakit ma?"tanya nya lembut sambil mengelus bekas luka yang sudah mengering itu


"ini udah gak sakit sayang,mama gak apa-apa cuma tadi kelilipan aja,iya kan nek?" ucap Dhita sambil melirik bunda Ipeh meminta untuk mengiyakan.


Tak lama kemudia Dhaniel pun ikut bergabung bersama mereka begitu hangat terasa suasana saat ini

__ADS_1


"beib tadi aku liat Rivan didepan,aku udah nyuruh dia masuk tapi dia gak mau sebelum kamu maafin dia" jelas Dhaniel sambil menggenggam tangan Dhita dan mengelusnya


"aku mohon Niel jangan bahas itu dulu saat ini"pinta Dhita lalu menatap wajah Dhaniel dengan tatapan sayu


"baik lah beib,aku cuma gak mau kamu nanti nyesel aja soalnya aku denger sih katanya dia mau tinggal di Singapur" Dhaniel mencoba menjelaskan keadaan Rivan pada Dhita namun karena sifat keras kepalanya sampai saat ini pun Dhita belum mau membuka pintu maaf untuk Rivan


"kamu tau dari mana?"Dhita malah balik bertanya pada Dhaniel


"dia itu masih rekan bisnis aku beib,kebetulan anak buah aku tadi bilang begitu"


sejenak Dhita terdiam ia nampak berpikir,nampak raut wajahnya berubah.


"apa betul Niel apa yang kamu bilang?"tanyanya meragukan ucapan Dhaniel barusan

__ADS_1


"yaaa itu sih terserah kamu beib,aku juga sebetulnya masih kesal dengan dia,tapi kalau ingat dia begitu care ama kamu aku coba buat maafin dia walau pun masih berat" jelas Dhaniel sambil menarik nafas berat lalu menghembuskannya.


Ia pun menarik Dhita agar masuk dalam dekapannya "aku tau ini berat buat kamu beib, aku harap kamu bisa memaafkannya ya"ucap Dhaniel lembut lalu mengecup ujung kepala Dhita.


__ADS_2