Cerita Kita

Cerita Kita
Draft


__ADS_3

Bab 98 SELAMAT MEMBACA


Anti yang terus berusaha mencari cara untuk melarikan diri namun selalu saja berhasil digagalkan oleh anak buahnya Daniel nampak begitu frustasi.


"Nielll kenapa kamu gak punya perasaan sih, lepasin aku, aku janji gak akan ganggu kamu dan keluargamu lagi Niel" terak Anti


Sebenarnya Daniel tidak tega melihat Anti yang hampir seperti orang tidak waras namun jika ia membebaskan Anti ia takut jika Anti akan kembali menyakiti Dhita dan anak-anaknya.


Siang itu mereka kembali berkumpul di rumah Daniel.


Ia sengaja mengumpulkan teman-teman untuk meminta pendapat soal Anti.


"Jadi loe gak mau masukin dia kepenjara Niel" tanya Pian serius.


"apa loe udah berpikir lagi, gimana kalau dia akan nyakitin Dhita lagi" tanya Pian lagi.


Dhita nampak begitu kesal dengan keputusan Daniel, entah apa yang yang membuat suaminya itu berubah pikiran


Melihat Dhita yang mendadak diam Daniel pun menjelaskan maksudnya.


"Aku memang tidak aka memenjarakan dia, tapi aku akan membuat perjanjian dengannya hitam diatas putih dan mengirimnya keluar negeri dan membuatnya tidak bisa kembali lagi "

__ADS_1


"Apa kamu yakin rencanamu berhasil, dia pasti punya beribu cara untuk kembali kesini, sekarang aja dia memakai wajah aku" ucap Dhita kesal.


"Sayang dengar dulu rencana aku pertama akan merubah kembali wajahnya seperti semula, lalu mengirimnya ke suatu tempat di Italia dan membuatnya tidak bisa kembali kesini" ucap Daniel menjelaskan.


"Tapi aku gak yakin rencana kamu itu akan berhasil Niel, kamu tau saat di pulau itu aku begitu takut karena hanya ada aku dan kedua orang pria itu saja, dan beruntungnya mereka bukan orang jahat Niel" ucap Dhita sambil menangis saat mengingat kejadian penculikan yang ia alami beberapa waktu lalu.


Daniel dan teman-temannya hanya diam.


"Sayang bukan maksud aku...."


"Sudah cukup Niel, apa kamu sebenarnya ada perasaan sama dia sampai kamu tidak tega untuk menjebloskannya ke penjara" tanya Dhita dengan tatapan sinis


"Sayang kok kamu malah berpikir begitu"


Dhita hanya diam, ia merasa begitu kecewa dengan keputusan Daniel.


Dhita pun memilih untuk meninggalkan ruangan itu dan masuk kedalam kamarnya.


Bunda Ipeh yang melihat Dhita menangis langsung ikut menyusul kedala kamar Dhita.


Ia tahu jika disaat seperti ini Dhita membutuhkan dirinya.

__ADS_1


"Sayang....boleh bunda masuk?" tanya Bunda Ipeh dari balik pintu kamar.


"Masuk aja Bun" jawab Dhita sambil menghapus air matanya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Bunda Ipeh berpura-pura tidak tahu


Dhita yang tadinya tiduran sambil menyembunyikan wajahnya dibantal kini merubah posisinya menjadi duduk menghadap Bundanya.


Ia pun menceritakan semuanya dengan nada kesal.


"Sayang mungkin maksudnya baik, kan tadi juga Niel bilang akan merubah kembali wajah Anti ke wajahnya yang semula" ucap Bunda Ipeh pelan.


"Iya sih Bun, tapi kan Dhita takut aja" ucap Dhita


"Kamu itu harus yakin dengan apa yang suami kamu lakukan, Bunda yakin dia tidak mungkin akan mencelakai kamu dan anaknya"


"Tapi Bun...."


"Coba kamu pikirkan baik-baik lagi sayang, setelah hati kamu tenang baru kamu bisa ambil keputusan" ucap Bunda Ipeh.


"Bunda keluar dulu ya, sekarang kamu istirahat saja dulu biar anak-anak Bunda yang jaga" ucap Bunda Ipeh lalu keluar dari kamar Dhita.

__ADS_1


Setelah Bunda Ipeh keluar Dhita pun mencoba memikirkan kembali maksud dan niat Daniel.


Benar juga yang dikatakan oleh Bundanya Daniel tidak mungkin akan mencelakai dirinya.


__ADS_2