Cerita Kita

Cerita Kita
Bab 60


__ADS_3

Haiii para Reader sebelumnya author mohon maaf atas kesalahan penulisan pada Bab sebelumnya (bab 59) dan mohon maaf juga baru bisa up lagi


Happy Reading Alll


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah Dhita tersadar dari komanya dan dipindahkan keruang perawatan barulah Bunda Ipeh puas berbicara dengan putri tercintanya.


Dhita masih trauma jika melihat Rivan,dengan berat hati Rivan hanya berani melihat Dhita dari balik pintu


"sayang kamu harus bisa memaafkan dia,mungkin karena rasa cintanya yang terlalu dalam buat kamu hingga dia nekad nak"nasehat Bunda Ipeh


Dhita tak menjawab ucapan Bunda,entahlah sekarang ia begitu kesal jika melihat wajah Rivan,padahal dahulu ia begitu senang jika sedang jalan dengan pria itu


"kenapa sekarang semua jadi berbalik begini,kenapa sekarang kamu yang jahat Van" ucap Dhita pelan


Bunda Ipeh yang mendengar keluhan putrinya hanya tersenyum lalu mengusap lembut tangan Dhita.


"Sayang jangan pernah mendendam,Bunda tau dia salah tapi apa kamu lupa kebaikan yang dulu-dulu ia pernah buat untuk kamu"Bunda Ipeh terus membujuk Dhita agar mau memaafkan Rivan namun untuk saat ini rasa benci Dhita begitu besar hingga ia belum bisa memaafkan sahabatnya itu.


Siang itu kedua anak Dhita datang menjenguknya,ada rasa bahagia begitu melihat wajah-wajah mungil nan menggemaskan itu muncul dari balik pintu

__ADS_1


"mama..."teriak si cantik Sheilla yang langsung berusaha naik keatas tempat tidur Dhita begitupun dengan Bayu yang tak mau kalah dengan adik angkatnya itu.


Kini kedua bocah itu telah berada diatas tempat tidur memeluk sang Mama yang sudah sebulan tak mereka jumpai


merekapun bercerita bagaimana saat sang mama tak ada,wajah Dhita mendadak menjadi sedih lalu ia memluk kedua mahluk lucu itu sambil sambil terisak.


"mama kenapa kok nangis kaya sheilaa aja"ucap sang anak sambil mengusap air mata yang masih berada dipipi mulus sang mama


"gak apa-apa sayang mama cuma kangen aja sama kalian"jawab Dhita lalu memeluk Shiella dan Bayu lalu mengecup ujung kepalanya berkali-kali


Dhaniel yang melihat interaksi mereka dari jauh merasa begitu bahagia ternyata mereka begitu saling mencintai walaupun tak ada darah yang mengalir dari ketiganya.


Namun ia teringat pesan Bunda Ipeh agar mau memaafkan Rivan.


Sementara itu disebuah gedung perkantoran nampak seorang pria muda yang sedang termenung menatap kota "J" dari atas ketinggian


Ia nampak begitu menyesal dengan apa yang telah ia lakukan,akibat kesalahannya kini ia harus menerima konsekkuensinya ia dibenci oleh orang yang sangat ia cintai.


"aahhhh..."teriaknya sambil memukul kaca didepannya


"maafin aku Tha,aku benar-benar khilaf,aku gak mau kamu mengacuhkan aku seperti ini" ucap Rivan lirih sambil menyugar rambutnya dengan jari.

__ADS_1


"Tuan...apa anda akan kerumah sakit hari ini"tanya Ujang sang asissten Rivan


"entahlah Jang,aku belum sanggup jika ia masih mengacuhkan aku"jawab Rivan tanpa merubah posisinya


Ujang sang asissten sekaligus tangan kanan Rivan begitu tak tega melihat bosnya yang kini menjadi pendiam dan dingin.


Akhirnya Rivan memutuskan tetap kerumah sakit untuk melihat Dhita walaupun hanya bisa melihat dari balik pintu melalui kaca kecil yang terdapat disana.


Sakit sebenarnya hatinya saat hanya dapat melihat tanpa bisa menyentuhnya,ingin rasanya ia memeluk erat gadis itu,ia rela jika Dhita mau menghukumnya apa saja asal jangan diacuhkan seperti ini.


Sakit namun tak berdarah itulah yang Rivan rasakan saat ini,ibarat kata pepatah "akibat nila setitik rusak susu sebelanga" akibat kesalahannya kemarin hancur sudah persahabatannya sejak SMA dengan Dhita.


Andai ada hal yang dapat ia lakukan agar bisa kembali seperti dahulu pasti dengan suka rela ia lakukan namun sepertinya itu mustahil.


Dengan lemas Rivan duduk dikursi tunggu yang terdapat didepan ruangan Dhita.


Pipinya yang dulu sedikit tembem kini mulai menyusut bahkan tirus,wajahnya yang dulu ceria berbinar-binar kini terlihat kusam dan tak terurus bahkan bulu-bulu halus kini mulai memanjang disekitar wajahnya.


Bunda Ipeh yang memperhatikannya nampak begitu miris melihatnya.Ia berusaha membujuk Dhita agar mau memaafkan Rivan namun sampai saat ini masih sia-sia.


Dalam hati Bunda Ipeh ia berharap agar hati Dhita bisa segera memaafkan pemuda itu yang sudah dianggap anaknya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2