
HAPPY READING
Akhirnya Dhitapun membuka mata setelah beberapa hari ia koma.
Saat ia membuka mata orang pertama yang ia lihat adalah Daniel.
"Nielll..." panggil Dhita pelan
Daniel yang baru saja hampir tertidur, langsung melihat kearah Dhita.
"Alhamdulillah sayang akhirnya kamu bangun juga" karena bahagia Daniel pun langsung memeluk Dhita erat.
Air matanya nampak sedikit mengalir dari sudut matanya.
Daniel pun segera memanggil dokter untuk memberi tahu jika Dhita sudah sadar.
Seorang pria berjaket putih pun segera masuk dan mengecek kondisi Dhita.
"Alhamdulillah Nyonya Dhita kondisi sudah jauh lebih baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, mungkin hanya perlu dua atau tiga hari untuk pemulihan" ucap sang dokter menjelaskan.
Daniel pun langsung bersujud sukur kerana apa yang ia takutkan tidak terjadi.
"Sayang ayo makan yang banyak ya biar cepat sehat dan kita pulang" Daniel menyuapi Dhita dengan hati-hati, ia nampak begitu bahagia akhirnya bisa melihat Dhita kembali tersenyum.
"Kasian anak kita belum diberi nama dari lahir, pasti dia juga rindu sama mamanya" lanjut Daniel sambil membersihkan noda yang ada di sudut bibir Dhita.
Sementara itu dari balik pintu nampak seorang wanita yang sedang menahan amarahnya melihat adegan mesra Daniel dan Dhita.
"Awas aja kamu ya Dhita, tunggu aja sampai aku punya kesempatan buat nyingkirin kamu selama nya" batin Anti yang merasa kesal melihat kebahagiaan mereka.
Dua hari berlalu akhirnya Dhita pun sudah diperbolehkan pulang.
Begitu tiba dirumah mereka disambut bahagia oleh Sheila, Bayu, Bunda Ipeh dan juga Niken.
Begitu turun dari mobil, Bunda Ipeh langsung mengambil bayi dalam gendongan Dhita dan membawanya masuk kedalam rumah.
Sementara itu Dhanil menuntun Dhita yang baru bisa jalan dengan perlahan.
"Selamat datang penghuni baru, jangan cengeng ya nanti kasihan mama masih sakit" ucap Sheila begitu bahagia.
"Hallo calon saingan aku, tapi tetap saja aku yang paling berkuasa nanti karena aku anak pertama" ucap Bayu
Bunda Ipeh dan Niken hanya tertawa mendengar celotehan para anak-anak kecil yang terlihat begitu bahagia menyambut adik mereka.
Sementara itu Anti yang tidak tau jika Dhita sudah pulang nampak semakin kesal karena harapannya yang ingin bertemu dengan Daniel kini sia-sia.
__ADS_1
"Awas aja ya kamu Dit, kenapa sih gak sekalian aja kemarin kamu mati, dengan begitu aku bisa mendekati Daniel" ucap Anti sambil berjalan keluar dari rumah sakit.
Sepanjang jalan ia terus saja mengumpat hingga hampir setiap orang yang ia lewati nampak memperhatikannya.
Begitu ia masuk kedalam mobil, ia tidak langsung menjalankan mobilnya.
Saat ia berpikir bagaimana caranya agar hari ini ia bisa menemui Daniel.
Akhirnya ia bermaksud untuk kerumah Daniel.
Pico dan Pian yang terus saja memantau GPS Yanga ia pasang di mobil Anti langsung bergegas menuju rumah Daniel.
"Assalamualaikum" ucap keduanya saat memasuki rumah Daniel.
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh" balas Daniel yang memang sudah tau jika kedua sahabatnya akan datang.
Mereka pun berbincang-bincang diteras depan sambil membahas rencana selanjutnya untuk menjebak Anti.
Saat mereka sedang asik berbincang-bincang Antipun tiba.
Kebetulan saat ini mereka berada tidak jauh dari kediaman Daniel hingga hanya 10 menit mereka pun tiba.
Untuk sementara Daniel harus menahan rasa tidak sukanya pada Anti demi kelancaran rencana mereka.
Dhita yang saat ini masih harus duduk di kursi roda nampak memperhatikan Daniel dan teman-temannya.
Dengan memutar roda dari kursi roda nya ia pun menghampiri Daniel.
"Sayang ada tamu kok gak ada kuenya sih" ucap Dhita sambil tersenyum.
"Gak usah repot-repot Dhita, liat kamu udah sehat juga kita udah seneng kok" ucap Pian sambil tersenyum kearah Dhita.
"Dih ngapain loe tebar pesona ama bini gw" ucap Danial yang langsung menghalangi agar teman-teman tidak dapat melihat Dhita
Dhita yang memang tau rencana Daniel dan teman-temannya hanya diam saja berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.
"Sayang mending kamu istirahat aja ya, kamu masih belum pulih banget kan" Daniel pun mendorong kursi roda Dhita menuju kamarnya.
"Ish aku bosen yank di kamar, emang gak boleh ya ikut nimbrung sama temen kamu" Dhita mengerucutkan mulutnya.
"Ish bukan begitu sayang, cuma kamu nanti di gangguin sama mereka" ujar Daniel selembut mungkin.
"Bilang aja karena ada cewe itu makanya aku gak boleh ikut disana" Dhit berpura-pura cemburu.
Walaupun sebenarnya ia tau jika mereka sedang merencanakan sesuatu tetap saja ia merasa sedikit kesal.
__ADS_1
"Bukan begitu sayang ..." Daniel nampak bingung alasan apa yang harus ia utarakan kepada Dhita.
"Trus apa...."
Dhitapun terlanjur kesal akhirnya ia pun memutar kursi rodanya dengan mengunakan tangan lalu masuk kedalam kamarnya.
Daniel pun segera menyusul Dhita masuk kedalam kamar, namun sayang pintu kamar telah dikunci oleh Dhita dari dalam.
Tok...tok...tok
"Sayang buka pintunya..." teriak Daniel dari luar sambil mengetuk pintu beberapa kali.
Dhita menutup telinganya dengan bantal, entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa kesal.
"Sayang nanti aku jelasin, sekarang buka dulu pintunya Tha" bujuk Daniel lagi
"Berisik banget sih, aku mau tidur, mau istirahat jangan berisik" ucap Dhita membalikkan perkataan Daniel beberapa saat tadi.
"Ya udah kamu istirahat tapi buka pintunya dong sayang"
Dhita hanya diam, ia pun menyetel musik dari ponselnya dan memakai headset ditelinganya.
Berkali-kali Daniel berteriak namun tidak ada jawaban dari dalam kamar, ia pun takut terjadi apa-apa dengan Dhita.
Ia ingat jika semua kunci dirumah ini sudah diduplikat, ia pun segera mencari kunci cadangan.
Setelah menemukan kunci cadangan ia pun segera membuka pintu kamar.
Ia sedikit lega saat melihat Dhita yang sudah tertidur pulas dengan bantal yang menutupi wajahnya.
Dengan perlahan Daniel pun menyingkirkan bantal yang menutupi wajah Dhita.
Sekilas Daniel mengecup kening Dhita sebelum ia keluar dari kamar dan kembali bergabung dengan teman-teman diteras depan.
Anti yang melihat betapa lembutnya perlakuan Daniel terhadap Dhita merasa begitu iri.
"Seharusnya gw yang diperlakukan seperti itu oleh Daniel" batinnya
"Woii kenapa loe An bengong, awas Kesambet" tegur Fico yang berhasil membuyarkan khayalan Anti.
"He...he, gak tadi gw lagi mikir-mikir kayanya gw ada janji sama temen, gw pamit dulu ya" ucap Anti berbohong.
"Oh..gitu, ya udah hati-hati ya loe dijalan" ucap Fico sambil mengambil satu potong kue yang Anti bawa.
"Wah enak banget kuenya, thanks ya An" ucap Fico sambil mengambil satu potong kue lagi dan memakan nya dengan lahap
__ADS_1