
Tekad Rivan sudah bulat dia hendak nekad menculik dhita.
Setiap hari ia selalu memantau kegiatan gadis itu,menunggu sang penjaganya lengah barulah ia akan melaksanakan niat jahatnya.
Siang itu seperti biasa Dhita menjemput bayu disekolahnya diantar supir yang merangkap pengawalnya.
"mama"teriak seorang anak lelaki sambil berlari menghampiri dhita dan sheilla.
"mah ella mau sekolah juga kaya mas bayu"ucap gadis kecil yang sedang digendong oleh dhita
"nanti ya sayang kalau umur ella sudah cukup"jelas dhita
"mama ayo kita jalan-jalan lagi"ajak sang anak pada mamanya
"nanti ya mama minta ijin dulu sama papa,kalo papa ijinin kita jalan-jalan,tapi kalo gak diijinin jangan pada marah ya sama mama" jelas dhita memberi pengertian pada kedua anak kecil itu.
setelah mengirim pesan pada dhaniel meminta ijin untuk bermain mereka pun segera masuk kedalam mobil
sementara itu tak jauh dari mobil yang mereka kendarai nampak wajah seorang pria dengan teliti memperhatikan setiap gerak gerik dari penghuni mobil didepannya.
ya...Rivan mencari saat yang pas untuk membawa pergi dhita.
__ADS_1
karena cinta yang bertepuk sebelah tangan membuatnya hilang kesabaran dan akal sehatnya pun kini tak berfungsi lagi yang ada dalam benaknya saat ini adalah bagaimana membawa dhita pergi jauh dari dhaniel.
sore itu dhita ingin sekali makan bakso kesukaannya dia pun pamit pada bunda untuk membelinya
dengan berjalan kaki dhita melangkah menuju warung bakso langganannya tanpa ia sadari sebuah mobil mengikutinya dan saat dirasa suasana sepi dengan cepat mobil itu menghalangi jalan dhita dan dengan cepat pula seseorang keluar dan membekap hidung dhita dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius tanpa perlawanan tubuh dhita yang lemah dan tak sadarkan diri dibawa masuk kedalam mobil.
salag seorang penjaga yang berada didepan rumah dhita melihat kejadian itu ia segera berlari namun ia kalah cepat mobil itu langsung melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan orang-orang yang mengejarnya.
dengan perasaan was-was seorang pengawal mengirimi pesan kepada bos mereka memberitahukan perihal penculikan tersebut
sementara itu ditempat kerja dhaniel yang sedang rapat sengaja mematikan ponselnya agar tak mengganggu.
saat selesai rapat ia langsung mengambil ponselnya dan mengaktifkannya kembali
tangannya mengepal menahan amarah,andreas yang saat itu baru saja tiba langsung menghampiri dhaniel.
melihat wajah dhaniel yang memerah seperti menahan amarah ia pun memberanikan diri untuk bertanya
"loe kenapa niel"tanya andreas dengan hati-hati
tanpa menjawab dhaniel memberikan ponselnya pada andreas
__ADS_1
dengan tergesa-gesa dhanil segera menuju kerumah dhita
sesampainya disana ia langsung mengintrogasi pengawalnya ia pun menugaskan andreas untuk melacak keberadaan dhita melalui gps namun sialnya ternyata dhita tak membawa ponselnya
saat ia tahu dhita diculik andreas langsung menugaskan anak buahnya untuk mencari
sementara iti disebuah tempat jauh dipelosok didalam sebuah ruangan dhita mulai tersadar ia mencoba membuka matanya perlahan walaupun masih terasa berat.
walau tubuhnya masih terasa lemas ia memaksakan untuk duduk dengan bersandar pada headbed mencoba mengenali tempat yang terasa sangat asing untuknya
"dimana ini"tanyaya pelan
ia terus memperhatikan setiap inci ruangan itu, dengan langkah berat ia mencoba menuju pintu dan memutarnya berharap pintu itu tak dikunci
namun harapannya sia-sia berungkali ia memcoba membuka pintu namun pintu itu tetep terkunci
akhirnya ia pun kembali ketempat tidur dan duduk disisi tempat tidur mencoba mengingat wajah pria yang menculiknya tadi
Dhita kini hanya bisa menangis,ia merasa takut kehilangan anak-anaknya,ia takut tak bisa bertemu lagi dengan orang-orang yang ia sayangi.
"bunda dhita takut"ucap dhita dalam sela tangisnya sambil memeluk erat sebuah bantal
__ADS_1
mungkin karena lelah menangis akhirnya dhitapun terlelap.