
SELAMAT MEMBACA
Dhita yang baru saja sadar dari pengaruh obat bius merasa asing dengan kamar yang ia tempati saat ini.
Kepala nya masih sedikit berdenyut hingga membuatnya masih belum bisa berpikir yang ia tau jika saat ini ia berada ditempat yang sangat asing.
Ia pun berjalan menuju jendela lalu menyibak sedikit hordengnya.
Ia sedikit heran karena yang ia lihat hanya lautan luas .
"Astaghfirullah aku ada dimana ini, gimana keadaan kedua anakku" batin Dhita mulai khawatir.
Dhita pun keluar dari kamar tidak ada siapa-siapa disana.
Namun saat ia keluar rumah ia melihat dua orang pria sedang duduk dibawah pohon kelapa.
"Sudah bangun rupanya" ucap salah satu pria saat melihat Dhita keluar dari dalam rumah.
"Biarkan saja dia, lagian juga dia tidak akan bisa pergi kemana-mana" ucap pria yang satunya lagi.
"Kalian siapa, kenapa bisa aku berada disini?" tanya Dhita
"Hai... Nyonya nikmati saja sisa hidupmu, karena kau akan selamanya berada di pulau ini, ha...ha...." kedua orang itupun tertawa.
Dhita yang masih bingung hanya bisa diam sambil berpikir bagaimana caranya agar ia bisa bebas dari tempat ini.
Kedua orang itu hanya diam sambil memperhatikan kemana Dhita pergi.
Dhita pun duduk di pinggiran pantai, ia bingung bagaimana cara melarikan diri dari pulau yang tidak ada penghuninya.
Ia pun mengedarkan pandangannya ternyata tidak ada satupun rumah disekitarnya.
Malampun tiba cahaya di rumah itu ternyata berasal dari sebuah genset.
"Biarlah malam ini aku istirahat saja, biar besok aku akan mencoba mencari jalan keluar dari sini" batin Dhita sambil berusaha untuk istirahat.
Sementara itu dirumah Daniel Dhita pasti sedang menjalankan aksinya.
Ternyata Anti cukup mahir bersandiwara hingga Daniel pun tidak menyadari jika yang ada bersamanya saat ini bukanlah Dhita istrinya tapi melainkan Anti yang sudah merubah wajah dan juga sikapnya menjadi mirip seperti Dhita.
Malam itu Anti begitu bahagia bisa tidur bersama Daniel dan memeluk Daniel sepuas yang ia inginkan.
Saat pagi tiba Anti lupa jika saat ini ia adalah Dhita yang mempunyai tiga orang anak yang harus ia urus semuanya.
__ADS_1
Daniel yang sedikit heran karena tidak seperti biasanya jam segini Dhita masih asik dengan selimutnya.
"Sayang bangun, kok tumben belum mau bangun, nanti anak-anak siapa yang nyiapin perbekalannya" ucap Daniel membangunkan Dhita palsu.
"Aduh yank maaf badan aku sakit semua, bisa minta tolong sama bibi dulu ya buat nyiapin semuanya" ucap Dhita palsu beralasan.
Setelah Daniek keluar Dhita palsu pun langsung bangun dan menuju kamar mandi.
"Sial gw masih mau tidur udah harus bangun buat ngurusin tuh anak-anak" ucap Dhita palsu sambil menatap dirinya dicermin
Dengan rasa malas Antipun turun dan menuju ruang makan.
Semua sudah ada disana termasuk bunda Ipeh dan juga Niken.
"Sayang kamu lagi gak enak badan ya, kok tumben siang sekali bangunnya" tanya bunda Ipeh sambil melihat Dhita palsu.
"Iya Bun, badan aku sakit semua" jawab Anti.
Beruntung Anti pernah beberapa kali mendengar Dhita memanggil ibunya dengan sebutan Bunda Ipeh.
Saat Dhita paslu menggendong Dika, bayi itu pun menangis dan tidak mau di gendong oleh Dhita palsu/Anti.
Beberapa hari berlalu, Anti pun mulai merasa kesal menjalin perannya sebagai Dhita.
Sementara itu di sebuah pulau terpencil Dhita masih berusaha mencari jalan untuk dia bisa bebas dari pulau itu dan kembali kerumahnya.
Hari berganti hari tanpa terasa satu bulan lebih Dhita berada di pulau itu.
Ia mulai mengerti apa yang harus ia lakukan.
Setiap satu Minggu sekali ada kapal kecil yang akan mengantar bahan makanan serta bahan bakar untuk genset.
Hampir setiap hari ia memasak untuk mereka bertiga.
Yah lama kelamaan Dhita semakin dekat dengan kedua pria yang menjaganya mereka kadang berbincang-bincang terkadang main catur dan banyak hal lainnya untuk sekedar membuang rasa jenuh.
Sementara itu di kediaman Daniel ia mulai curiga saat Dhita palsu tidak tau kebiasaannya dan kebiasaan anak-anaknya.
Ia pun mulai menyelidiki siapa wanita yang kini bersamanya.
Siang itu Dhita duduk dibawah pohon kelapa bersama kedua penjaganya.
Mereka asik bercerita tentang kehidupan masing-masing.
__ADS_1
Wajah Dhita langsung terlihat sedih saat ia ingat dengan ketiga anaknya.
Kedua pria itu ikut merasakan sedih, ternyata mereka juga telah mempunyai istri dan anak.
Dhita pun mengajak mereka untuk bekerja sama melarikan diri dari pulau itu.
Awal nya mereka tidak mau karena takut dengan ancaman Anti, namun Dhita berhasil meyakinkan mereka dan berjanji akan memberikan mereka pekerjaan yang layak agar dapat menghidupi keluarga nya tanpa harus pergi jauh seperti saat ini.
Mereka pun akhirnya setuju untuk keluar dari pulau itu bersamaan.
Sementara itu Daniel mendapatkan titik cerah hanya perlu beberapa bukti dan meyakinkan dirinya jika wanita yang bersamaan saat ini bukanlah Dhita istrinya.
Bunda Ipeh pun berpendapat sama dengan Daniel, ia tahu dan hapal betul dengan sifat Dhita anaknya.
Siang itu perahu yang membawa logistik datang mereka pun bertiga menyelinap masuk kedalam perahu dan segera pergi dari pulau itu.
Sementara orang-orang yang tadinya sibuk menurunkan barang-barang yang ada di kapal tidak dapat mengejar karena kapal motor itu telah jauh meninggalkan mereka.
"Alhamdulillah kita bisa bebas " ucap Dhita bahagia.
"Nyonya semoga anda tidak lupa dengan janji anda" ucap salah satu pria itu.
"Insyaallah aku gak aka lupa, kalian sudah terlalu baik sama saya" ucap Dhita sambil tersenyum.
"Kalian bisa menjadi bodyguard saya dan anak-anak nanti" ucap Dhita lagi.
"Betul kah itu Nyonya, terimakasih " ucap mereka berdua.
Beruntung salah satu dari mereka bisa mengemudikan kapal motor itu hingga mereka pun bisa tiba dengan selamat di daratan.
Dhitapun segera mengirimkan sinyal kepada Daniel melalui alat pelacak yang ia pakai.
Ia ingat pesan Daniel beberapa waktu lalu saat memakaikan cincin kawin yang sudah ia modif.
"Jika kamu merasa dalam bahaya, putar cincin ini beberapa kali ke arah kanan" kata-kata itu selalu Dhita ingat namun baru kali ini ia praktekan.
Andreas yang mendapatkan sinyal dari cincin yang Dhita pakai langsung memberi tahu Daniel.
Dengan segera Daniel dan Andreas pun menuju titik yang ada dilayar ponselnya.
Hampir satu jam lamanya Dhita menunggu dan hampir saja ia putus asa tiba-tiba saja dia buah mobil hitam menghampiri nya.
Awalnya Dhita ragu, namun saat mobil berhenti dan Daniel keluar dari dalam mobil itu baru Dhita yakin itu suaminya, ia pun langsung berlari memeluk Daniel.
__ADS_1
Beberapa anak buah Daniel sudah mengepung kedua orang yang telah secara tidak langsung menyelamatkan Dhita