Cerita Kita

Cerita Kita
Bab 78


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Setelah lama menunggu namun Dhita tidak juga terlihat, Daniel pun mulai merasa khawatir apa lagi saat tahu jika Bunda Ipeh dan Niken juga tidak mengetahui keberadaan Dhita


Daniel langsung mengangkat teleponnya saat lampu ponselnya berkedip kedip.


Setelah menerima telpon ia pun terlihat panik dan langsung mengambil kunci mobil.


Bunda Ipeh yang melihat Daniel tergesa-gesa langsung bertanya


"Ada apa Niel, kok kayaknya kamu panik banget?" tanya Bunda Ipeh


"Dhita dirawat di rumah sakit Bun, ayo cepetan kita kesana" ajak Daniel


Tanpa berganti pakaian lagi bunda Ipeh pun langsung ikut Daniel menuju rumah sakit dimana Dhita dirawat.


Dengan nafas yang tersengal-sengal Daniel pun langsung masuk kedalam ruang perawatan Dhita setelah sebelumnya ia berta ke bagian resepsionis.


"Sayang kamu kenapa?"


"Kok telpon aku gak kamu angkat sih" tanya Daniel sambil menggenggam tangan Dhita.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Dhita ia hanya menatap Daniel dengan tatapan dingin dan setelah itu ia pun memalingkan wajahnya seakan enggan melihat suaminya itu.


"Sayang kok kamu begitu sih, kalau aku punya salah kamu bilang jangan diam begini" ucap Daniel frustasi.


Dhita masih diam dan seakan enggan untuk berbicara dengan Daniel.


Bunda Ipeh yang tau jika Putrinya sedang marah pada suaminya langsung memegang bahu Daniel seakan memberi tahu untuk bersabar sebentar.


" Mending kamu duduk disana dulu Niel, biar bunda yang bicara dengan Dhita" Daniel pun langsung menuju sofa yang terdapat diruangan itu.


"Sayang kamu kenapa kok bisa sampai dirawat begini" terlihat rasa khawatir diwajah Bunda Ipeh.


"Gak apa-apa Bun, cuma sedikit sakit aja perutnya" Dhita menjawab dengan suara pelan karena memang kondisinya yang lemah.


Dari tempatnya duduk Daniel menatap Dhita dengan tatapan yang sulit diartikan.


Setelah Dhita tertidur Bunda Ipeh pun menghampiri Daniel dan berbicara soal kemarin yang ia pulang hampir Pagi.


Daniel pun menceritakan alasannya kenapa ia pulang pagi dan ia begitu merasa bersalah karena ia lupa jika hari ini adalah jadwalnya untuk mengantar Dhita periksa kandungan.


Setelah bunda Ipeh menjelaskan jika biasanya perempuan yang sedang mengandung itu lebih sensitif dan memintanya agar memaklumi keadaan Dhita saat ini.

__ADS_1


Rencananya Daniel hari ini tidak berangkat ke kantor namun karena ad beberapa dokumen dan rapat penting ia pun terpaksa harus meninggalkan Dhita.


"Sayang aku ada meeting penting hari ini, aku berangkat dulu ya,nanti setelah selesai aku langsung kesini lagi" Pamit Daniel yang tidak mendapatkan reaksi apapun dari Dhita.


Karena terburu-buru Daniel pun langsung mengecup kening Dhita dan setelah itu ia langsung pergi meninggalkan Dhita dengan Bunda Ipeh.


Bunda Ipeh tau jika saat ini suasana hati Dhita sedang tidak ingin diganggu ia pun hanya diam dan berbicara jika di tanya saja.


"Bun ...." Panggil Dhita dengan suara pelan


"Bunda...." panggilnya lagi


"Iya Nak, kenapa?"


"Sekarang Dhita jelek ya Bun, gendut lagi"


"Kamu ngomong apa sih Nak, ya wajar lah orang hamil terlihat gemuk kan berdua" jawab Bunda Ipeh


"Buktinya Daniel udah males liat Dhita, kemarin dia pulang malem sengaja kan biar gak liat Dhita"


"Trus hari ini dia gak mau nganterin aku ke dokter pasti dia malu kan jalan sama Dhita" ucap Dhita sambil menangis.


Bunda Ipeh yang mendengar penuturan Dhita sedikit terperanjat.


" Kenapa kamu ngomong begitu nak, Bunda yakin Daniel bukan laki-laki seperti itu" Bunda Ipeh berbicara dengan lembut sambil mengelus lembut kepala putrinya.


"Dhita ngerasa aja kalo dia lagi ngehindarin Dhita, makanya tadi Dhita pergi sendiri aja sekalian ngetes dia inget gak sama jadwal periksa Dhita"


Bunda Ipeh menasehati putrinya dengan bahasa sehalus mungkin agar tidak menyinggung perasaannya yang sedang sensitif.


Sementara itu karena pekerjaan yang begitu banyak Daniel pun lupa jika ia harus pulang cepat dan kerumah sakit untuk menemani istrinya.


Sorepun tiba, telat seperti pemikiran Dhita jika lagi-lagi Daniel membohonginya.


Ia yang berjanji untuk pulang lebih cepat namun hingga hari petang pun ia masih belum nampak.


Ada rasa kesal di hari Dhita,ia benar-benar merasa kecewa dengan Daniel.


"Astaghfirullah aku lupa kalo harus pulang cepat, bisa semakin kacau ini" batin Daniel yang baru teringat jika ia berjanji akan segera pulang jika urusannya telah selesai.


Ia pun dengan tergesa-gesa keluar dari ruangannya dan segera menuju rumah sakit.


Ia sedikit ragu saat akan membuka pintu kamar perawatan Dhita, ia harus mempersiapkan mentalnya jika harus di diamkan lagi oleh istrinya.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim" Daniel pun membuka pintu perlahan.


Ia sedikit beruntung karena Dhita sudah tertidur karena pengaruh obat yang diberikan olah dokter.


Hampir seharian tadi Dhita lebih banyak diam dan menangis.


Ia sibuk dengan pikiran jelek nya sendiri tentang Daniel hingga Bunda Ipeh pun sedikit kesulitan untuk menenangkan Dhita.


"Bunda...." sapa Daniel pelan


Bunda Ipeh pun yang tadinya sudah hampir tertidur langsung terbangun dan melihat Daniel sudah berdiri disebelahnya.


"Alhamdulillah kamu kesini juga Niel" ucap Bunda Ipeh


"Maaf bunda tadi kerjaan numpuk dan gak bisa ditinggal" ucap Daniel penuh rasa bersalah.


"Ada yang mau bunda omongin sama kamu Niel, tapi nanti kamu istirahat saja dulu"


"Mau ngomong apa Bun, sekarang saja" ucap Daniel


"Kamu sudah makan belum, kalo belum lebih baik kamu makan dulu" Bunda Ipeh pun langsung mengambil makanan yang tadi di bawakan oleh Niken.


Daniel pun langsung makan begitu lahap karena sejak siang tadi ia lupa makan.


Setelah selesai makan mereka Bunda Ipeh pun menceritakan kejadian tadi siang.


"Astaghfirullah kok Dhita bisa punya pikiran kaya gitu ya Bun, Niel itu beneran lupa soal jadwal periksa kandungan"


"Mana mungkin Niel malu jalan sama Dhita, justru di mata Niel itu Dhita terlihat sangat cantik dan gak ada yang bisa gantiin dia di hati Niel" Daniel mengusap kasar wajahnya.


Daniel menghampiri tempat tidur Dhita, di tatapnya wajah polos istrinya yang kini sedang tertidur pulas dengan tangan yang terpasang selang infus.


"Aku gak mungkin sejahat yang kamu pikir sayang,maafin aku" Daniel mengecup lembut kening Dhita, kemudian ia mengelus perut Dhita yang sudah terlihat buncit "Maafin papah sayang" lalu mengecupnya perlahan.


Bunda Ipeh yang melihat betapa tulusnya Daniel tersenyum lega ternyata Daniel betul-betul mencintai putrinya.


Untuk menghilangkan rasa kantuknya Daniel pun meminta ijin kepada Bunda Ipeh untuk keluar sebentar membeli kopi.


Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang mulai sepi menuju kantin yang terletak di lantai bawah.


"Dhita kenapa kamu bisa berpikir begitu tentang aku" batin Daniel.


Entahlah saat ini terus saja memikirkan apa yang dikatakan Bunda Ipeh barusan.

__ADS_1


__ADS_2