
Dhita dan opik sedang asik menikmati pemandangan dari saung yang ada ditengah sawah menikmati sejuknya hembusan angin yang menerpa wajah manis milik Dhita dan rambutnya yang panjang nampak melambai-lambai terkena hembusan angin
opik pria paling tampan didesanya nampak memperhatikan gadis didepannya
" si neng Dhita teh meni manis pantesan pacarnya meni posesif " batin opik sambil senyum-senyum sendiri.
sementara itu di villa untuk kedua kalinya dalam sehari dihebôhkan dengan menghilangnya kekasih sang tuan muda Dhaniel.
mereka pun berpencar mencari keberadaan Dhita, setelah mendapat informasi dari seseorang yang melihat Dhita berboncegan dengan opik Dhaniel pun kembali ke villa dan mengambil mobilnya ia mengikuti petunjuk orang yang memberinya informasi tadi setelah berputar-putar cukup lama akhirnya ia menemukan Dhita dan opik sedang asik menikmati cilok sambil duduk di pinggir sungai kecil .
Dengan wajah menahan amarah Dhaniel menghampiri Dhita dan opik ia mencoba menahan emosinya agar tak memuncak
" Dhita....sedang apa kamu disini" sapaya dengan nada yang dibuat lembut
Dhita dan opik yang mendengar suara Dhaniel sangat terkejut namun beberapa saat kemudian ia bisa kembali menenangkan diri
" loh kok kamu disini juga Niel.dari mana " tanya Dhita tanpa merasa bersalah
" aku mencari mu beib " jawabnya lalu menarik tangan Dhita lembut agar ia berdiri Dhita pun berdiri dan mengikuti Dhaniel
" kang opik maaf saya duluan ya,terima kasih buat baksonya " ucap Dhita sambil tersenyum manis kepada opik dan pria itu pun membalas senyuman Dhita sebelum mobil Dhanil melaju meninggalkan nya.
" apa kamu senang beib "tanya Dhanil memecah kesunyian
" maksudnya apa Niel " tanya Dhita sambil menatap Dhanil meminta penjelasan
" apa kamu senang bisa kencan dengan pria tadi " tanya Dhaniel dengan wajah datar tanpa ekpresi
" biasa aja "
" tadi itu aku bosan di villa semua mengacuhkan aku makanya aku keluar mau cari tukang bakso pas aku keluar kang opik lewat terus nanya aku mau kemana ya aku jawab mau nyari tukang bakso trus dia mau nganterin " jelas Dhita dengan detail
Dhaniel tak menanggapi ucapan Dhita dia hanya diam entah apa yang sedang ada dalam pikirannya saat ini.
Tak lama kemudian mereka sampai kembali di villa nampak semua sudah berkumpul diteras depan menunggu kedatangan Dhaniel dan Dhita.
setelah turun dari mobil tanpa berkata-kata Dhaniel menarik tangan Dhita memaksanya untuk mengikuti Dhaniel.
" Niel pelan-pelan dong jalannya " pinta Dhita namun Dhaniel mengacuhkannya pria itu terus menarik tangan Dhita menaiki tangga menuju lantai dua .
begitu menginjak di tangga ketiga kaki Dhita sedikit selip hingga membuatnya hampir terjatuh
" awww niel pelan-pelan kaki ku sakit" ucap Dhita sambil meringis menahan rasa sakit di bagian mata kakinya
namun dhaniel seolah tuli tak menggubris ringisan yang terlontar dari mulut pujaan hatinya.
Dengan sedikit terpincang-pincang Dhita mengikuti langkah Dhaniel
begitu tiba didalam kamar Dhaniel menghempaskannya diatas kasur hingga Dhita jatuh dengan posisi terlentang
" kamu kenapa sih Niel" tanya Dhita dengan nada marah karena Dhaniel memperlakukannya dengan kasar
__ADS_1
" apa kamu tidak mengubris ucapanku tadi pagi ..ha " tanya Dhaniel sambil menindih tubuh Dhita
" Niel ..jangan begini,awas aku mau bangun " ucap Dhita sambil mendorong tubuh Dhaniel agar menjauh namun bukannya menjauh Daniel malah merapatkan tubuhnya dengan tubuh Dhita hingga ia tak bisa beegerak sedangkan tangannya dicengkram dengan kuat oleh Dhanil
Dhita meronta berusaha agar terlepas dari kungkungan pria yang sedang dibakar cemburu dan emosi itu namun usahanya sia-sia Dhaniel berhasil menciumnya lagi ia ******* habis bibir gadis itu sementara itu Dhita membungkam rapat bibirnya
" buka mulutmu " perintahnya namun tak digubris oleh Dhita
Dhaniel pun tak kehabisan akal tangannya meremas salah satu gundukan milìk Dhita dengan kasar hingga membuat gadis itu meringis dan membuka mulutnya tanpa menyia-nyiakannya lidah Dhaniel langsung menerobos masuk kedalam mulut Dhita ia pun menekan tengkuk Dhita agar memperdalam lumatannya, cukup lama ciuman itu berlangsung hingga Dhita menepuk bahu Dhaniel dengan kencang memberi kode kalau ia kehabisan nafas akhirnya Dhanil menyudahi pangutannya lalu ia mengelap bibirnya yang basah sisa ciumannya barusan
Dhita nampak kesal ia mengelap bibirnya dengan kasar lalu menimpuk Dhaniel dengan bantal
" mulai saat ini aku gak ngijinin kamu keluar dari kamar ini " ucap Dhaniel sambil berjalan kearah pintu lalu menutup dan menguncinya dari luar.
" haiiiii Dahaniel berengsek emangnya aku tawanan apa dikonciin segala" teriak Dhita kesal sambil melempar bantal kearah pintu
Dhitapun menangis karena kesal kenapa Dhaniel seposesif ini padanya sedangkan pada Hesti yang sudah jelas tunangannya malah biasa saja
setelah puas menangis rasa kesalnya pada Dhaniel pun sedikit berkurang ia merasakan kerongkongannya kering ia pun berdiri namun beĺum sepat ia berdiri dengan sempurna ia merasakan nyeri di pergelangan kakinya ia pun duduk kembali disisi kasur, ia mengangkat kaki kanannya yang terasa sakit dan melihat pergelagan kakinya membesar
Dhita meringis sambil mengurut pelan-pelan kakinya yang sakit
ia pun mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Dhaniel namun tak diangkat
"mungkin ia masih marah " pikir Dhita ia pun mengirim pesan lewat chat
" Niel...tolong aku,kaki aku sakit aku haus" chat terkirim dengan tanda dua centang hitam
sekarang ia merasa badannya sedikit demam mungkin akibat kakinya yang semakin membesar akhirnya ia merebahkan tubuhnya dan menarik selimut sampai batas lehernya ia merasakan badannya yang tadi demam kini menjadi dingin walaupun sudah memakai selimut tebal
ia kembali mencoba menghubungi Dhaniel namun tetap tak dijawab begitupun beberapa chat yang ia kirim tak satu pun yang dibaca oleh Dhaniel
akhirnya Dhita menghubungí opik meminta tolong padanya untuk membawa tukang urut untuk mengurut kakinya yang terkilir dan membelikannya air mineral
sambil menunggu opik datang ia pun memejamkan mata nya untuk mengurangi rasa nyeri yang ia rasakan sekarang setelah hampir 20 menit ia menunggu terdengar suara gaduh dari luar entah apa yang terjadi diluar sana ingin rasanya ia melihat namun apa daya kakinya tak bisa untuk dibawa berjalan sampai akhirnya ia mendengar suara orang membuka pintu kamarnya ia pun melihat Dhaniel masuk dengan wajah yang susah ditebak
" kenapa dengan kakimu" tanyanya dengan nada masih menahan kesal
" g ada apa-apa" jawabku sambil memalingkan wajahku tak ingin melihatnya.
" lalu kenapa kamu meminta tolong dengan pria itu untuk membawa tukang urut dan air minum" tanya nya semakin kesal
" coba kamu liat ponsel mu" jawabku sambil kembali merebahkan tubuhku lalu kembali menarik selimut sampai menutup kepalaku
Dhaniel membuka selimut bagian bawahku lalu ia menarik kakiku yang membesar
" auwwwww" teriakku
" sakit tau "
" ini kenapa beib" tanya nya kali ini dengan suara yang lembut
__ADS_1
" apa kamu amnesia " tanyaku ketus
" tadikan kamu narik aku kenceng banget niel dan waktu naik tangga kaki aku terkilir tapi kamu gak perduli" ucapku dengan emosi yang mulai meluap
" maafin aku beib aku terlalu cemburu liat kamu deket banget sama dia"
" udah sana bawa sini tukang urutnya" perintahku sambil.mendorong tubuh Dhaniel dan ia pun menurut
tak lama kemudian Dhaniel muncul di ikuti dengan opik dan wanita paruh baya dibelakangnya.
Dhaniel mempersilahkan opik untuk duduk disofa dan membawa wanita tukang urut menghampiriku ditempat tidur
ia pun menyibak selimut bagian bawahku dan memperlihatkan kakiku yang membengkak
" aduh neng kenapa bukan dari tadi manggil ibu buat diurutnya sebelum bengkak segede gini"
" ini mah pasti sakit banget" ucap si ibu sambil mengoles minyak urut dengan lembut pada kakiku
aku mencoba menahan rasa sakit dengan menggenggam erat seprei
" tahan ya neng" pinta si ibu urut dan aku pun menganggukinya
tanpa sengaja aku melihat ke arah opik pria itu memalingkan wajahnya mungkin tak tega melihatku menahan sakit
Dhaniel memelukku erat mungkin dia merasa bersalah.
aku menggigit bantal sekuat mungkin saat ibu yang mengurut kakiku mulai mengurut dengan sedikit kuat membetulkan urat yang sedikit melenceng dari tempat yang seharusnya.
antara keringat dan air mata menjadi satu membasahi wajahku.
Dhaniel mengelap wajahku dengan tissue
setelah hampir satu jam akhirnya selesai juga kakiku yang bengkak dilumuri oleh jahe yang diparut lalu dibungkus dengan perban untuk sementar aku tak boleh berjalan.
opik pun mendekatiku setelah mendapat ijin dari Dhaniel ia memberikan air mineral yang dibelinya tadi sebelum datang ke villa.
" ini neng pesenannya "
" cepet sembuh ya" ucapnya tulus sambil membuka penutup botol dan memberikannya padaku.
" terima kasih ya kang " ucapku sambil tersenyum dan mengambil botol yang ia sodorkan lalu meneguknya hingga hampir habis.
opik pun tersenyum dan akhirnya pamit pulang.
setelah Dhaniel mengantar opik.dan ibu yang mengurutku pulang aku pun segera merebahkan diri dan menarik kembali selimutku.
tak lama kemudian Dhaniel masuk dan duduk disisi tempat tidurku lalu mengelus rambutku
" maafin aku beib, gara-gara aku kamu jadi begini " ucapnya pelan lalu mengecup kening ku
ia pun ikut merebahkan diri disampingku
__ADS_1