Cerita Kita

Cerita Kita
Bab 63


__ADS_3

Haiii para Reader sebelumnya autor minta maaf karena beberapa hari kemarin gak bisa up dikarenakan suatu hal


Autor juga mohon dukungannya dengan cara


- Like


- Rate n Vote


- Dan kritsarnya


Happy Reading Alll


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sebulan lebih kini Dhita setelah keluar dari rumah sakit lukanyapun sudah mulai kering dan acara pernikahan mereka pun diundur sampai waktu yang belum ditentukan lagi mengingat kondisi Dhita yang masih labil apa lagi jika melihat Rivan.


Berbagai cara telah dilakukan oleh Dhanil dan Bunda Ipeh agar Dhita mau memaafkan Rivan namun selalu saja tak berhasil.


Malam itu hujan turun sangat deras namun Dhita tak dapat memejamkan matanya


ia pun berjalan menuju jendela yang tertutup rapat dan menyibak hordeng yang berwarna ungu itu.


Ia terdiam merenung apa kah ia bisa memaafkan Rivan,ia berusaha melawan rasa takut nya Dhita tak mau terus seperti ini,ia ingin seperti dulu dan melangsungkan pernikahannya dengan Dhanil seperti rencana semula.

__ADS_1


Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya,Dhita bertekad memaafkan Rivan ia akan berusaha melawan traumanya terhadap pria yang pernah menajadi teman dekatnya itu.


Saat Dhita ingin menutup kembali hordeng kamarnya ditengah derasnya hujan ia melihat samar sebuah motor yang ia hapal betul siapa pemiliknya.


"apakah ia gila berdiri disana ditengah hujan deras seperti ini malam-malam lagi" umpat Dhita kesal sambil keluar dari kamarnya lalu menuruni tangga dan langsung menyambar sebuah payung besar yang berada di dekat pintu utama lalu keluar menghampiri orang yang saat ini ia sangat benci.


Satpam yang bertugas menjaga pintu depan berusaha menghalaunya namun tak ia hiraukan.


Dhita terus berjalan ditengah derasnya hujan menghampiri Rivan


"apa kamu sudah gila ya Van,ini tuh hujan"teriak Dhita,tangannya bergetar entah karena dingin atau karena takut ia pun tak tahu.


"aku akan tetap seperti ini Ta sampai kamu mau maafin aku"ucapnya sambil mengusap air hujan yang membasahi wajahnya


Rivan membatu ia tak bergeming sedikitpun,Dhita yang merasa berat saat menarik tangan Rivan langsung menoleh kebelakang dan menatap Rivan heran


"apa kamu mau sakit?"tanyanya dengan nada marah


"apa kamu udah maafin aku Tha"


"aku akan tetap berdiri disini sampai kamu mau maafin aku" lanjutnya


Nampak dengan jelas tubuhnya gemetar menahan dingin,bibir Rivan pun nampak mulai memutih

__ADS_1


"aku udah maafin kamu kamu Van"jawabnya lalu kembali menarik dengan sekuat tenaga tangan Rivan agar mau masuk kedalam


"Van...please aku gak mau kamu sakit,ayo kita masuk"palsa Dhita


Rivan menggelengkan kepalanya bertanda penolakan "aku gak mau masuk Dhit kalau kamu belum bisa maafin aku,seandainya aku harus sakit aku rela demi sebuah kata maaf yang iklas dan tulus dari kamu Dhit"


"Van...aku udah maafin kamu,aku gak mau kamu sakit,harusnya kamu sadar Van dengan aku berhujan-hujan seperti ini menghampiri kamu itu bertanda aku udah maafin kamu"jelas Dhita dengan mata yang memerah karena menangis.


"kamu serius Dhit udah maafin aku"ulang Rivan seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Dhita.


Dhita tak menjawab ia hanya menganggukan kepalanya.


Rivan pun tersenyum bahagia,ingin rasanya saat ini ia mendekap Dhita saat ini namun hal itu urung ia lakukan karena ia sadar saat ini Dhita baru belajar memaafkannya saja


Sementara itu dari kaca sebelah kamar Dhita nampak Dhaniel memandang kearah bawah dimana keduanya kini berada,ada rasa cemburu saat Dhita menarik tangan Rivan namun sedetik kemudian ia berhasil mengendalikan rasa cemburunya.


Dengan bergegas ia turun menghampiri Dhita dan Rivan,seoarang pelayan menghampiri mereka dan memberikan handuk untuk keduanya.


Sebuah kamar tamu telah disiapkan oleh Dhanil,ia pun meminjamkan pakaiannya untuk Rivan.


"masuklah


kekamar itu lalu ganti pakaianmu" Dhaniel menyodorkan sebuah kaos dan celana pendek untuk Rivan

__ADS_1


"kamu juga beib ganti baju sana"perintah Dhanil sambil menarik tangan Dhita menuju kamar miliknya.


__ADS_2