
SELAMAT MEMBACA
Hari demi hari kondisi Dhita semakin membaik.
Setelah Dhita benar-benar pulih mereka pun membuat acara syukuran sekalian aqiqah putra mereka yang diberi nama Dika.
Para sahabat Daniel pun sudah tiba sejak tadi, begitu pun dengan Anti yang sejak pagi sudah berada di rumah Daniel dengan alasan ingin membantu.
Padahal secara logika semua pekerjaan sudah dilakukan oleh pelayan.
Tanpa Anti ketahui semau ruangan di rumah itu telah dipasang CCTV olah Daniel.
Betul saja perkiraan Daniel, saat semuanya sedang sibuk Anti menyelinap masuk kedalam kamar Daniel.
Entah apa yang ia cari, Daniel yang memantau dari ponselnya nampak begitu geram.
Andreas, Fico dan Pian yang ikut memantau berusaha menenangkan Daniel yang tadinya hendak menangkap Anti.
"Sabar Niel, kita belum tau apa yang sebenarnya ia cari disana" ujar Andreas.
"Tapi ini kan udah bisa dijadiin bukti" Daniel kekeh ingin segera menangkap Anti.
Sementara itu Dhita yang merasa lelah akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak di dalam kamar.
Dengan menggendong Dika ia pun membuka pintu kamar dan masuk.
Ia tidak tau jika Anti menyelinap kedalaman kamarnya, dengan perlahan ia menaruh Dika dikasur.
Setelah mengganti pakaiannya ia pun merebahkan diri disamping Dika.
Anti yang bersembunyi didalam lemari perlahan keluar saat ia yakin Dhita sudah tidur pulas.
__ADS_1
Ia pun mendekati gelas air minum yang ada diatas meja kecil dan mengeluarkan sebuah botol kecil entah berisi apa lalu memasukkan isinya kedalam gelas minum.
Daniel yang melihat semua itu bergegas menuju kamarnya untuk membuang air yang telah dicampur dengan sesuatu oleh Anti.
Setelah mencampur air minum Dhita dengan racun Anti pun segera keluar dari kamar Daniel dan bersikap biasa-biasa saja.
Sesaat setelah Anti keluar, Daniel pun tiba di kamarnya dan langsung membuang air minum yang ada di atas meja.
Ia menatap wajah Dhita yang tertidur lalu menyentuhnya lembut" maafkan aku sayang, karena aku kamu jadi sering kena imbasnya, aku janji akan selalu menjaga kalian semampu aku" ucap Daniel lalu mengecup kening Dhita lembut sebelum akhirnya ia pun keluar.
Anti yang tidak tau jika air yang sudah ia campur racun itu telah dibuang oleh Daniel nampak begitu bahagia.
Ia tersenyum membayangkan saat Dhita meminum air itu.
"Semoga setelah ini loe gak selamat Dhita" batin Anti sambil menatap sekeliling kediaman Daniel.
Haripun berganti malam, hampir semua orang sudah pulang hanya kerabat dan teman dekat yang masih ada disana.
"Nti lie gak pulang, ini udah malem tau" ujar Andreas
"Sebentar lagi gw pulang, gak tau kenapa gw masih betah disini And"
"Dih loe kan dari pagi disini, mending pulang gih daripada bikin ribet" timpal Pian.
"Dih dasar ya loe, gw kan cewe bahaya tau pulang malem, gw boleh nginep ya Niel"ucap Anti semakin tidak tau malu.
"Dih loe ya bener-benar udah gak ada urat malunya ya, loe mau tidur dimana,orang tua Daniel kan nginep disini blom lagi saudaranya" ucap Pico yang jadi kesal mendengar Anti ingin menginap.
"Dih kenapa jadi loe yang pada marah sih, Niel boleh ya gw nginep" ucap Anti dengan nada manja.
"Sorry ya Nti kamarnya penuh semua" tolak Daniel.
__ADS_1
"Ya udah kalo gitu anterin ya Niel" rengek Anti
"Dih gak tau malu banget sih, disini yang jomblo banyak lah kok minta anterin sama suami orang" celetuk Pian
"Ya gak apa-apa, ya Niel anterin gw " punya Anti lagi.
Dhita yang mendengar Anti minta diantar pulang oleh suaminya hanya diam saja, ia ingin tau apa yang akan dikatakan suaminya.
"Sorry ya Anti gw masih banyak yang harus dikerjain, lagi juga kasian bini gw kalo gw harus jalan sama cewe lain" ucap Daniel tegas.
"Dih kok loe tega sih Niel" ucap Anti kesal.
Pico dan yang lain hanya tersenyum melihat wajah kesal Anti saat mendapat penolakan dari Daniel.
"Maaf ya istri aku minta ditemenin dulu,gw permisi dulu ya" Daniel pun meninggalkan teman-temannya dan menghampiri Dhita yang sejak tadi memperhatikannya.
"Sayang maaf lama, ayo kita istirahat kamu pasti cape kan" Daniel pun mengajak Dhita masuk kedalam kamarnya.
Pupus sudah harapan Anti, ternyata air yang sudah ia beri racun tidak bereaksi apapun, buktinya Dhita masih sehat.
Kesal, itulah yang dirasakan Anti saat ini, rencananya gagal dan entah kapan lagi ia akan mendapatkan kesempatan untuk mencelakai Dhita.
Begitu tiba dirumahnya Antipun melampiaskan rasa kesalnya pada barang-barang yang ada didekatnya.
"Sial...kenapa dia masih hidup" teriak Anti sambil melempar vas bunga hingga tidak berbentuk lagi.
"Aku gak boleh menyerah,aku yakin aku bisa nyingkirin dia, yahhh harus bisa" desis Anti sambil meremas tissue dan melemparnya sembarangan.
Kamar yang tadinya rapi dalam sekejap berubah menjadi berantakan.
Untuk melampiaskan rasa kesalnya Antipun pergi ke club malam ditemani seorang pria yang biasa ia mintai pertolongan.
__ADS_1