Cerita Kita

Cerita Kita
Bab 23


__ADS_3

Seperti biasa jam 04.15 aku sudah dirumah merehatkan sejenak tubuhku sebelum melakukan aktifitas selanjutya aku merebahkan diri diatas kasurku tanpa berganti pakaian terlebih dahulu.


"ceklek " suara pintu kamarku dibuka akupun menoleh untuk melihat siapa yang masuk ternyata Niken yang menghampiriku dengan wajah cemberutnya


" ada apa Dek kok muka kamu begitu"


" aku sebel sama kk" aku sedikit terkejut dengan ucapan Niken


"sebel" ulangku


Niken lalu menganggukan kepalanya bertanda aku tidak salah dengar


" kenapa Dek" tanyaku penasaran sambil mencoba menelisik wajah Niken yang sedang tertunduk


" aku kesel sama k'dhita udah selingkuhin k'Daniel " ucap Niken dengan wajah sedikit memerah menahan sedih


" maksudnya apa sih Dek, kok kamu ngomong gitu ke kaka" tanyaku lalu mendudukan tubuhku disisi ranjang


" k'Dhita sekarang pacarankan sama k'Rivan" tuduhnya sambil menatap tajam kearahku


" ya amoun Dek,kk tuh g ada hubungan apa-apa sama Rivan begitu juga dengan Daniel kami cuma temen aja" ucapku mencoba menjelaskan pada Niken


" aku gak percaya "


"pokoknya kk harus jaga jarak dengan yang namanya Rivan" lanjutnya


" kita musuhan pokoknya nanti kalau kak Rivan datang Niken usir" ancamnya


aku seakan tak percaya dengan apa yang diucapkan Niken barusan kenapa dia begitu terusik dengan kehadiran Rivan lagian juga aku dan Daniel memang tak ada komitmen


akupun hanya bisa menepuk jidatku yang terasa begitu penat lalu menjatukan diri lagi diatas tempat tidurku lalu memejamkan mataku kembali namun belum genap 5 menit aku memejamkan mata terdengar kembali suara Niken yang berteriak dari lantai satu memanggil bunda yang saat ini entah sedang berada dimana


" Bunnnnndaaaaaaa"


akupun menutup kedua telingaku dengan bantal


" ada apa sih Niken berisik nak " ucap bunda dari dalam kamar


" itu k'Dhita bun, masa selingkuh Niken g rela kalau k'Daniel disakitin"


aku masih bisa mendengar dengan jelas obrolan antara Niken dan Bunda


" ish...tuh anak dikasih apa sih sama Daniel sampe segitunya,padahal kalau dia tahu yang sebenarnya apa masih bisa dia bilang begitu ke aku yang jelas -jelas kk nya dan aku juga yang jadi korbannya" batinku


Daripada mikirin ulah Niken lebih baik aku mandi saja.


akhirnya akupun mengambil perlengkapan mandiku.


Hampir satu jam lamanya aku didalam kamar mandi membasahi tubuhku dengan air yang terasa begitu sejuk.


" ah segernya.."


akupun keluar dari kamar mandi sambil mengosok-gosok rambutku yang masih basah.


"Dhit...Dhita"


terdengar suara bunda memanggilku dari balik pintu


" ada apa bun?" tanyaku sambil membuka pintu


" ada tamu tuh"


"siapa bun"


" udah cepat sana temuin" perintah bunda lalu meninggalkan ku


akupun segera memakai pakaianku lalu turun untuk menemui siapa tamu yang bunda maksud


belum sampai aku ditangga terakhir aku sudah dapat melihat kalau tamu yang dimaksud Bunda adalah Daniel


Wajah Niken nampak sumringah bertemu kembali dengan Daniel ia bersandar dengan manja dilengan Daniel

__ADS_1


"hei...apa kabar" sapa Daniel yang melihat aku berdiri ditangga lalu ia menepuk bangku disebelahnya yang kosong meminta ku untuk duduk disebelahnya


aku pun mengabaikanya aku memilih duduk di bangku singel yang ada disebelah kanannya


" beib are you not miss me" tanyanya sambil tersenyum manis


deg..entah kenapa dadaku bergemuruh melihat senyumnya yang begitu manis


" hei..kok bengong" godanya sambil menimpukku dengan kertas yang digumpal kecil


" ish...apa'an sih" gerutuku sambil memajukan sedikit bibirku karena tidak suka dengan Daniel yang mulai jail dan bertambah kesal ketika teringat soal pertunangannya yang akan diadakan beberapa hari lagi.


"Dhit aku mau ngomong sesuatu,kita keluar yuk"


" g ah ,bentar lagi aku mau kekafe " tolakku


"aku udah minta'in ijin ke manager kafe kalo hari ini kamu g bisa tampil" tuturnya yang berhasil membuatku terkejut


" ayolah g akan lama kok beib" pintanya


Niken masih bergelayut manja dilengan Daniel seakan enggan untuk dilepaskan.


" udah kak sana ganti baju selesai'in masalah kaka sama k'Daniel" ucap Niken layaknya orang dewasa


" apa sih kamu Dek"


" Ken yang kaka kamu itu aku bukan dia" ucapku kesal sambil mamajukan sedikit bibirku karena kesal dēgan ulah Niken


ting


suara notipikasi hpku bertanda ada chat yang masuk


ku ambil ponselku dari saku celanaku dan kulihat chat dari Daniel


" jangan pasang muka begitu aku jadi gemes beib pengen cium kamu jadinya"


aku langsung membuka mataku selebar-lebarnya menatap Daniel yang duduk tak jauh dariku


pria tampan itu hanya tersenyum melihat ekpresi wajahku yang bertambah kesal


" males ah bun" tolakku


" sudah sana ganti baju" perintah bunda sambil menarik tanganku agar berdiri


" bunda maksa banget sih sama aja nih sama Niken" protesku sambil berjalan menuju tangga


nampak wajah Daniel sumringah dan terseyum seolah-olah menunjukan padaku kalau saat ini keluargaku mendukungnya


tak lama kemudian akunpun sudah siap dengan memakai kaos oblong berleher V dan celana jeans panjang tak lupa sepatu kets


Daniel pun meminta ijin pada bunda dan menarik tanganku menuju mobilnya yang terparkir didepan rumahku.


setelah berada didalam mobil dan memasang sabuk pengaman Danielpun melajukan mobilnya entah akan kemana dia membawaku aku pun enggan untuk bertanya, sepanjang perjalanan aku hanya menatap jalan didepanku dan terkadang meliriknya sekilas


"sebenarnya dia mau membawa aku kemana" tanya ku pada diri sendiri


aku pun tanpa sadar menatap wajah Daniel memperhatikan setiap inci bentuk wajahnya dari hidungnya yang bangir,bulu matanya yang panjang serta bibirnya yang sedikit menghitam karena terlalu banyak merokok tetapi tak sedikitpun mengurangi kadar ketampanannya


" jangan terlalu dihayati mandangnya tar kebawa mimpi loh" ucapnya sambil menyentuh pipiku dan mengelusnya dengan jari telunjuknya


aku pun tersadar dan betapa malunya aku karena ketahuan sedang menatap wajah tampannya tetapi sayang beberapa saat lagi aku tak dapat menikmati menatap wajah tampan Daniel karena ia akan menjadi milik orang lain seketika itu juga dadaku berasa sesak


" kamu jalan sama aku apa g ada yang marah Niel" tanyaku mencoba memancing apakah ia akan berkata jujur atau tidak


" y g lah beib" jawabnya santai


tanpa kusadari mobil Daniel memasuki sebuah rumah yang tidak begitu megah seperti rumahnya tetapi nampak asri karena begitu banyak tanaman bunga disisi kiri dan sisi kanannya


" ini rumah siapa lagi niel" tanyaku penasaran


" udah g usah banyak nanya ayo masuk" ajaknya sambil menarik tanganku agar mengikutinya masuk kedalam

__ADS_1


suasana dalam rumah ini begitu sunyi hanya ada beberapa pelayan yang mengantarkan minuman serta makanan lalu mereka pergi lagi entah kemana


" duduklah" titahnya sambil melepaskan genggaman tangannya


aku pun duduk disofa singel dan Daniel duduk pas menghadapku


" ada hubungan apa antara kamu dan Rivan" tanyanya sambil menatap tajam kearahku


" g ada hubungan apa-apa kok cuma temen " jawabku berusaha sesantai mungkin


" oh yah, tapi kayanya g begitu, kamu pacaranya sama dia dibelakangku" tanyanya lagi masih dengan tatapan mengintimidasi.


" kamu kenapa sih Niel,aku kan udah bilang g ada apa-apa antara aku dan Rivan" jelasku


" ada juga kamu yang jahat Niel,kamu mau tunangan kan sebentar lagi,trus kenapa kamu masih aja dekatin keluarga aku" tanyaku dengan menahan rasa kecewa


aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk menahan agar air mataku tidak meluncur bebas namun semakin aku tahan semakin memaksa untuk keluar akhirnya air mata ku lolos juga mengalir dengan bebas dipipiku.


" maafin aku tha,aku g ada maksud buat kamu sedih tapi aku bener-benar suka tha sama kamu dan aku g bisa ninggalin kamu" ûcapnya sambi menatapku


" maksudnya?"


" aku mau biarpun aku sudah tunangan tapi kita tetap berhubungan tha, bisakan" Daniel meraih tanganku dan menggenggamnya erat


"apa maksudnya" Dhita bertanya dalam hati tak mengerti dengan ucapan Daniel barusan


"tha..."


" kamu mau kan "


Dhita hanya menggelengkan kepala tak mengerti dengan jalan pikiran pria tampan didepannya ini.


" aku g bisa tha kehilangan kamu.ok katakan lah aku egois dan serakah karena menginginkan kalian berdua. aku tahu Tha cinta itu tak terlihat tapi segala sesuatu tentang cinta itu nyata, aku tahu kalau kamu tak terlalu menganggap kehadiran ku tp buat aku itu tak masalah tha yang penting buat aku kamu bisa selalu berada disisiku dengan atau tanpa cinta itu sudah cukup"


ucap Daniel mencurahkan segenap isi hatinya


" aku g mau Niel apa lagi nanti dapat julukan pelakor " ucapku dengan sedikit penekanan diakhir kalimatnya


" tha please. jangan sampai aku harus berbuat sedikit kejam padamu" ucapnya dengan nada sedikit lirih


"maksudmu apa mengancamku" tanyaku dengan sedikit emosi yang mulai naik.


"aku tidak mengancammu sayang hanya sekedar memperingatkanmu kalau aku bisa melakukan apapun agar kamu tetap.disampingku" ucapnya dengan tatapan tajam seakan mengancamku


" udah lah Niel aku males bahas nya" ucapku mengalihkan pembicaraan berharap suasana kembali tenang


" baiklah, aku harap mulai besok kamu jaga jarak dengan Rivan dan aku akan mengirim mata-mata untuk selalu mengawasi kamu " ucapnya santai sambil merebahkan tubuhnya pada sofa


sesaat aku tertegun mendengar ucapannya


"mata-mata??? memangnya aku penjahat apa sampai harus dimata-matain segala" ucapku kesal sambil memajukan sedikit bibirku


Daniel berdiri lalu menghampiriku yang masih kesal dengannya, ia mengunciku dengan menempatkan kedua tangannya pada kedua sisi pegangan sofa sementara tubuhnya tepat didepanku, kedua kakinya mengapit erat kedua kakiku hingga sulit unruk digerakkan, ia membungkukkan tubuhnya,


sinyal berbahaya tertangkap olehku aku pun menahan dadanya agar tidak mendekat dengan kedua tanganku namun apa daya tenagaku tidak begitu kuat


" ka- kamu mau apa Niel" tanyaku dengan terbata-bata


nampak serigai licik dibibirnya


" menurutmu apa beib" tanyanya balik sambil berbisik ditelingaku


jari telunjuknya bermain-main diwajahku ia mengelus bibirku dengan jari jempolnya semakin takut ku dibuatnya.


tangan kanannya menahan tengkukku dan saat itu juga aku merasakan bibirnya menempel dibibirku lalu terasa lidahnya menyapu lembut bibirku. aku tak terima dengan perlakuannya aku mencoba mendorong tubuhnya agar menjauh tapi sia-sia


"buka mulutmu beib" pintanya dengan suara berat tapi aku tak menghiraukannya aku berusaha mengunci mulutku serapat mungkin namun gagal karena Daniel menyentuh sesuatu didadaku dan meremasnya sontak membuat aku terkejut dan sedikit berteriak saat itulah ia memasukan lidahnya kedalam mulutku. ciuman itu berlangsung agak lama hingga aku hampir kehabisan oksegen karenanya


nafasku terengah-engah begitu Daniel melepaskan bibirnya dari bibirku lalu ia duduk disofa sebelahku sambil mengelap bibirnya yang basah dengan jarinya dan tersenyum puas kearahku yang masih memasang waja kesal.


"kenapa kok ngeliatinnya begitu,mau lagi" ucapnya dengan nada menģgoda

__ADS_1


aku pun menggelengkan kepala dan membuang muka malas jika harus melihat wajah Daniel yang sekarang sedang mesum.


" kamu itu milikku beib,dan akan selamanya begitu" ucapnya tanpa perduli dengan aku yang menatapnya kesal.


__ADS_2