
SELAMAT MEMBACA
Pagi itu masih seperti kemarin-kemarin Daniel mempersiapkan segalanya sendiri.
Namun yang berbeda kali ini Nayla sarapan pagi bersamanya walaupun hanya diam dan tidak menyapanya.
"Aku sudah mencari baby sister baru untuk membantu mu mengurus Dika yank" ucap Daniel
"Aku tidak butuh baby sitter, aku bisa mengurus anakku sendiri" jawab Dhita dingin.
"Aku cuma ingin kamu tidak terlalu capek sayang" ucap Daniel lagi.
Dhita tidak menjawab, ia hanya berdiri dan meninggalkan sarapan paginya yang belum habis.
Daniel mengusap kasar wajahnya, ia begitu frustasi beberapa hari belakangan ini dey sikap Dhita.
Siang itu ketiga sahabatnya berkumpul di ruangan Daniel.
Ia pun berkeluh-kesah kepada sahabatnya.
Mereka pun menyarankan agar Daniel segera berbicara dengan Dhita tentang keadaan yang sebenarnya.
Mereka tidak ingin melihat rumah tangga Daniel berantakan hanya gara-gara Anti .
Mereka pun meminta maaf Maret secara tidak sengaja merekapun ikut andil dalam perang dingin antara Daniel dan Dhita.
Seperti biasa dengan tanpa malu Anti datang ke kantor Daniel dan dengan sangat percaya diri ia langsung masuk dan menuju ruangan Daniel.
Beruntung saat itu ketiga teman Daniel masih disana setidaknya ia tidak harus sendirian menghadapi ular betina seperti Anti.
"Niel ayo kita makan di luar" Anti yang kini sedang berdiri langsung menghampiri Daniel.
"Stop disana An, gw risih loe deketin terus" ucap Daniel yang langsung membuat Anti tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Niel gw pikir beberapa hari belakangan ini kita udah semakin dekat, terus kok loe merasa risih" ucap Anti dengan nada sedikit kesal.
"Sebenarnya gw gak suka loe deketin gw An, apalagi sekarang Dhita menjauh dari gw gara-gara loe" ucap Daniel dengan tatapan penuh amarah.
"Kok loe ngomongnya begitu sih Niel, soal kejadian kemarin gw minta maaf gw gak tau kalau ada Dhita disana" ucap Anti membela diri.
"Sekarang gw tanya sama loe, apa motif loe terus ngikutin gw?" tanya Daniel
"Gw kira loe juga suka sama gw Niel, selama ini loe diem dan mau aja gw ajak makan bareng" Anti masih terus tidak mau terima jika ia harus disuruh menjauh dari Daniel.
"Kita bicara ditempat lain" Daniel pun keluar dari ruangannya di ikutin dengan Anti dan kedua sahabatnya, sementara Andreas harus tinggal di kantor untuk menggantikan Daniel selama Daniel tidak ada di tempat.
Sementara itu Dhita yang hendak mengantarkan makan siang ke kantor Daniel secara tidak sengaja berpapasan dengan Daniel di lobby.
__ADS_1
Awalnya Dhita ingin meminta maaf karena sikapnya beberapa hari belakangan ini telah mengacuhkan Daniel, namun setelah melihat Daniel bersama Anti ia pun langsung balik badan hendak berlari keluar.
Danil yang tidak tau jika Dhita akan datang langsung mengejarnya.
"Dhita... tunggu" Daniel pun berhasil meraih Dhita dan memegang tangan nya dengan sedikit kencang agar istrinya itu tidak pergi dulu.
"Sayang dengerin aku dulu" pinta Daniel.
Karena tidak ingin mempermalukan suaminya Dhitapun mencoba untuk tidak marah-marah apalagi ini masih di area kantor Daniel.
"Nanti kita bicara, sekarang aku ingin selesaikan masalah dengan wanita gila itu" ujar Daniel.
Dhita hanya diam tidak menjawab, ia memalingkan wajahnya untuk menghilangkan rasa kesalnya.
Sementara itu Anti nampak begitu kesal saat melihat Dhita yang tiba-tiba saja ada disana.
"Kenapa wanita itu ada disini sih, bikin kacau suasana saja" desis Anti sambil menatap ke arah Dhita.
Setelah dapat menyakinkan Dhita, Daniel pun membuka pintu depan samping kemudi dan meminta Dhita untuk masuk.
Sementara itu Anti diminta untuk naik mobil milik Pico bersama Pian.
Ada rasa tidak terima di hati Anti saat melihat Daniel duduk bersebelahan dengan Dhita.
"Sepertinya aku harus cepat-cepat menyingkirkan wanita itu" batin Anti
"Ini mau kemana Neil?" tanya Dhita saat tau jika jalan yang mereka lalui bukan lah jalan menuju kerumah.
"Kamu gak perlu takut sayang, yang pasti aku tidak akan nyakitin kamu" ucap Daniel dengan santainya.
"Kamu tadi bawa apa sayang?"
"Yang mana?" tabya Dhita pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan Daniel.
"Itu loh di paper bag yang tadi kamu bawa" jawab Daniel.
"Oh itu bukan apa-apa kok"
"Makanan kan? boleh minta gak, aku laper nih yang" ucap Daniel lagi.
"Emangnya kamu belum makan?" tanya Dhita
"Belum sayang, Sekai suapin ya, aku lagi nyetir ini" ucap Daniel sedikit berbohong.
Sejujurnya ia sangat rindu suasana berdua dengan Dhita.
Memanfaatkan kesempatan yang ada ia pun minta disuapi oleh Dhita.
__ADS_1
Dengan perlahan Dhita membuka tempat makan yang ia bawa, lalu perlahan ia pun menyuapi Daniel hingga makanan yang ia bawa habis.
"Sayang kamu jangan marah-marah lagi ya, aku rindu suasana seperti ini" ucap Daniel mengungkapkan isi hatinya.
"Aku pun sama Niel, kangen saat berdua sama kamu" ucap Dhita namun sayang semua yang ia ucapkan hanya dalam hati .
Daniel yang melihat Dhita hanya diam saja , langsung mengambil tangan Dhita dan mengecupnya.
"Sayang kamu tuh harus percaya sama aku, di dalam hati aku cuma ada kamu dan itu tidak bisa di gantikan dengan siapapun" lega rasa nya hati Daniel saat ia bisa mengungkapkan Semua.
Kini hanya satu yang masih mengganjal di hatinya.
Mereka pun tiba di sebuah rumah di pinggiran ibu kota.
Sekilas Dhita ingat jika ia dulu pernah datang kerumah ini.
"Kenapa kita kesini Niel?" tanya Dhita saat turun dari mobil.
Angin kencang yang bertiup menerbangkan rambut Dhita hingga terlihat berantakan.
Daniel hanya tersenyum saat melihat Dhita kesulitan mengatur rambutnya.
Ia pun mengambil satu buah karet gelang yang ad di dashboard mobilnya.
"Sini sayang" Daniel pun berdiri dibelah Dhita lalu ia pun menyusun rambut Dhita lalu mengikatnya dengan karet yang ia ambil tadi.
"Kalo kaya gini kan gak berantakan lagi sayang" senyum Daniel mengembang saat melihat wajah Dhita yang bersemu merah karena perlakuan manis Daniel.
Kedua sahabatnya hanya tersenyum melihat Daniel yang sudah terlihat ceria lagi saat bersama Dhita.
Namun tidak demikian dengan Anti.
Ada rasa kesal saat melihat adegan mesra mereka.
Ia pun memaki Dhita dalam hati.
"Niel ini udah sore aku mau pulang " pinta Dhita
"Sebentar lagi sayang, aku masih mau berduaam saja sama kamu"
"Kamu tau aku rindu saat kita seperti ini" bisik Daniel lalu mengecup pipi Dhita.
Anti yang melihat perlakuan manis Daniel merasa begitu iri kepada Dhita.
Ingin rasanya bia segera menyingkirkan Dhita untuk selamanya.
Tak apa jika ia harus jadi ibu sambung dari ketiga anak Daniel yang terpenting bisa selalu bersama dengan pria yang ia suka sejak SMA dulu.
__ADS_1