
Dhita sudah terlelap dalam mimpinya,mungkin karena letih atau memang sudah mengantuk makanya tak lama setelah ia menutup dirinya dengan selimut ia pun terlelap tanpa memikirkan apakah seseorang disana mencarinya atau tidak.
Sementara itu dihotel yang ditempati Dhaniel nampak ada sedikit kekacauan akibat ulah gadis yang bernama Anandhita,kali ini ia berhasil kabur lagi walaupun sedang dalam pengawasan dirinya.
"apakah itu memang hoby mu beib selalu berusaha melarikan diri dariku begitu ada kesempatan"ucap Dhaniel sambil mengusap kasar wajahnya.
Sementara itu Andreas hanya duduk terdiam tak jauh dari posisi Dhaniel duduk.
Nampak senyum segaris dibibirnya kala mengingat kalakuan kekasih sahabatnya itu.
sebegitu tak inginkah dia berada disamping sahabatnya itu yang menurut sebagian orang sempurna lahir dengan wajah tampan dan serba berkecukupan tetapi kenapa gadis itu begitu tak ingin berada atau menjadi pendamping hidup dari sahabatnya itu.
"aku jadi begitu penasaran dengan kamu dhita"gumam andreas pelan bahkan hampir tak terdengar.
"Dre udah loe cek lewat gps dimana dia sekarang"tanya Dhaniel masih dengan perasaan cemas
"hp nya gak aktif niel,tapi gw yakin dia ada dirumahnya sekarang"jawab andreas santai
"liat aja besok gw bakal bikin perhitungan ama dia"ancam Dhaniel sambil mengepalkan tangannya menahan amarah
"makanya niel besok-besok loe bawa borgol aja pas pergi ama dia biar gak bisa kabur lagi" saran andreas namun tanpa dia sadari dhanielpun menelan bulat-bulat saran dari temannya itu.
"bener juga saran loe bro kayanya emang gw harus bawa borgol kalo pergi ama dia biar gak ilang"ucap Dhaniel sambil tersenyum
Esoknya Dhita bekerja seperti biasa karena hari ini pengunjung kafe cukup ramai ia pun bertugas membantu koki menyiapkan masakan hingga ia tak tahu kehadiran Dhaniel dikafe tempatnya bekerja saat itu.
Cellin masuk membawa kertas pesanan yang harus disiapkan oleh bagian dapur.
"tha emang semalem loe kamana kok si bos nayain loe" tanya cellin sambil menunggu pesanan yang telah siap untuk diantarkan
"gw kabur lin pas tau dibawa gw ke hotel tempatnya ginep"jawab Dhita sambil meletakan minuman yang telah selesai dibuatnya pada nampan.
"lah kok loe kabur sih kan dia tunangan loe gak usah takut kali"jawab cellin seolah-olah membela Dhaniel.
"ih..kok loe bilang begitu sih lien" protesku tak setuju dengan pemikiran cellin
"he...he hari gini tidur bedua pacar mah udah biasa kali tha"
__ADS_1
kami pun sedikit berdebat karena berbeda pendapat
"tha tuan Dhaniel minta kamu nemuin dia tuh" ucap arya teman kerjaku
"emangnya dia ada disini ya" tanyaku mulai panik aku bisa membayangkan pasti dia marah soal tadi malam
"gw lagi sibuk ya" jawabku beralasan
"mending loe temuin aja dulu dari pada dia murka" saran cellin
dengan langkah malas aku pun menghampiri meja dimana Dhaniel dan andreas duduk
"haii...ada apa cari aku"sapaku pura-pura tak bersalah
"sini duduk dulu"perintah Dhaniel sambil menarik bangku disebelahnya
aku pun menuruti dan duduk disebelah dhaniel.
"apa ada yang mau kamu jelasin tentang semalam beib" tanyanya dengan tatapan mengintimidasiku
"gak ada,emangnya kenapa"
"lagian kamunya marah-marah dari pada aku jadi pelampiasan amarah kamu kan mending menghindar"jawabku sambil menunduk tak berani menatap wajah Dhaniel
"ih...kamu tuh ya..."dhaniel tak melanjutkan kata-katanya hanya tangannya mengepal kuat tanda ia menahan kekesalannya
"kamu tunggu aja ya beib dan liat apa yang bakal aku lakuin kekamu"ancamnya.
"ih...kok bisanya ngancem sih"protesku
"pokoknya hari minggu kita kembali ke kota "B" dan senennya kita langsung menikah,aku gak mau kamu kabur lagi" tegasnya
"heiii hello emangnya kamu pikir nikah itu maenan apa?dulu juga kamu begitu sama hesti nikah trus abis itu kamu mau nikah lagi ama aku,emangnya kamu tuh gak mikirin perasaaan aku apa"protesku kali ini kalimat yang aku keluarkan meluncur begitu saja
"Niel kenapa sih kamu tuh jahat banget ama aku?aku tuh salah apa ama kamu?"
"kenapa kamu selalu maksain kemauan kamu tanpa mikirin perasaan aku?" tutur ku sambil terisak. aku berusaha menahan emosi yang selama ini aku pendam ibarat bom waktu mungkin inilah waktunya untuk meledak.
__ADS_1
semua yang aku rasakan yang selama ini aku pendam akhirnya kini semuanya menguap keluar tanpa bisa kutahan lagi.
"aku memang sangat menyukai kamu dulu niel tapi saat aku tahu soal taruhan itu entah kenapa aku jadi benci bahkan sangat benci denganmu"
"kamu mengurung aku dan melarang ini lah gak boleh begitulah aku juga ingin kebebasan niel" lanjutku melupkan semua kekesalanku selama ini.
Dhaniel hanya terdiam entah ia mendengarkan semua ucapanku atau hanya dianggapnya angin lalu.
wajah datarnya yang tanpa ekpresi membuatku sulit untuk menilai apa dia mendengarkanku atau tidak.
tiba-tiba Dhaniel berdiri dan memelukku erat bahkan sangat erat hingga membuat aku sulit bernafas.
"niellll ...lepas "aku meronta mendorong tubuhnya dengan kedua tanganku tapi apa daya tenagaku tak ada apa-apanya dibanding dengan tenaganya akhirnya aku hanya bisa pasrah dan malu karena semua yang ada disana menatap kearah kami entah apa yang ada dalam pikiran mereka.
"apa kamu tahu kenapa aku kembali kesini?"
"apa kamu pernah bertanya kenapa aku begitu posessive terhadapmu sedangkan pada istriku tidak?"
"apa perhatian yang aku berikan padamu masih belum cukup untuk memperlihatkan betapa aku mencintaimu beib"
pertanyaan demi pertanyaan kini gantian meluncur dari mulut Dhaniel sambil menarik dagu Dhita memaksanya untuk menatap kerahnya.
"kamu harusnya tahu beib aku tuh betul-betul cinta mati sama kamu,tapi kenapa kamu selalu berusaha untuk lari dari aku,lima tahun kamu ninggalin aku membawa sebagian hidup ku apa kamu tahu aku sempat terpuruk,apa kamu tahu aku begitu kehilangan kamu tapi aku gak putus asa beib mencari kamu" tuturnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
ada rasa bersalah yang tiba-tiba menghampiriku saat aku tahu ternyata dia juga tersiksa karena kepergianku karena ego ku saat ini begitu besar aku segera menepis perasaan itu
aku coba menenangkan diriku "apa bisa kita bicaranya tidak disini niel,aku malu diliatin orang"pintaku sambil berusaha bersembunyi didada bidang Dhaniel.
"kenapa kamu bersembunyi didalam dekapanku,apa kamu kangen pengen aku peluk hemm"tanya Dhaniel berusaha mencairkan suasana yang tadi sempat memanas
"abis dada kamu lebar bisa buat aku sembunyi"jawabku tanpa merubah posisiku
Andreas yang melihat kelakuanku tersenyum
"aku juga jadi gemes niel ngeliatnya,boleh gak aku cubit pipinya" tanya andreas yang langsung mendapat tatapan membunuh dari sahabatnya itu
"boleh aja kalo mau jadi gelandangan"ancam Dhaniel
__ADS_1
"ishhh ampun deh bro pissss" jawab andreas sambil bercanda
suasana kafe yang tadi sempat ditutup oleh Dhaniel kini mulai dibuka kembali namun Dhaniel masih berada disana menunggu Dhita selesai bekerja