Cerita Kita

Cerita Kita
Bab 77


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Akhirnya demi batagor mereka pun jadi liburan di kota Bandung.


Dhita terlihat begitu bahagia saat ia memakan batagor yang ia beli sepanjang jalan menuju villa milik Daniel.


"udah puas belum sayang makan batagornya"


Dhita pun tersenyum bertanda ia sangat senang.


Begitu tiba di Villa mereka pun langsung istirahat.


Pagi pun tiba, udara kota Bandung yang begitu sejuk membuat Dhita enggan berpisah dengan selimut tebal yang ia pakai.


"Sayang ayo kita jalan-jalan, sekalian cari sarapan" Daniel berusaha membangunkan Dhita .


Setelah berkali-kali menepuk lembut pipi nya akhirnya Dhita pun terbangun.


"Mau kemana sih yank, masih ngantuk nih"


"Kita cari sarapan sayang sekalian jalan-jalan" ucap Daniel.


Mendengar kata sarapan Dhitapun langsung bangun dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Beberapa menit kemudian Dhitapun sudah terlihat cantik walaupun tanpa polesan bedak dan yang lainnya.


"Ayo sayang katanya mau beli sarapan" ajak Dhita tidak sabar.


"Emang kamu mau makan apa sayang" tanya Daniel yang langsung menggandeng istrinya.


"Belum tau yank, lihat-lihat aja dulu siapa tau ada yang menggugah selera.


Daniel pun mengikuti semua kemauan Dhita.


"Alhamdulillah kenyang banget sayang" ucap Dhita setelah memakan satu piring kupat tahu dengan air teh hangat.


"Yank kayanya aku pengen ke Tangkuban perahu deh"


"Ya sudah abis ini kita kesana, tapi kamu jangan sampai dekat kawahnya ya nanti bau belerang sayang" ucap Daniel.


"Iya...aku kesana cuma mau minum bandrek dicampur susu sepertinya enak yank" ucap Dhita lagi


"Ke Tangkuban perahu cuma mau minum bandrek doang yank?" tanya Daniel seakan tidak percaya dengan yang baru saja ia dengar.


"Iya, kenapa? gak mau nganterin ya?" tiba-tiba saja raut wajah Dhita menjadi muram, terlihat kecewa.


"Bukan begitu sayang, aku mau kok anterin kamu kesana sekalian jalan-jalan sayang" akhirnya Daniel pun mengikuti kemauan Dhita.


Bunda Ipeh hanya tersenyum mendengar percakapan mereka.


"Kalau menghadapi orang hamil harus sabar Niel, dia mudah badmood kalo kita salah ngomong" ucap Bunda Ipeh mengingatkan Daniel.


"Iya Bun" ucap Daniel sambil menyusul Dhita yang sedang merajuk.


Akhirnya mereka pun menuju kawasan wisata Tangkuban perahu.


Kabut turun lumayan tebal membuat hawa di sekitar sana lumayan dingin.


Dhita pun langsung menuju salah satu warung disana lalu memesan bandrek yang sangat ia inginkan.


"Ahhhh enaknya...." ucap Dhita setelah menghabiskan satu gelas bandrek.

__ADS_1


Setelah puas bermain disana mereka pun segera kembali ke Villa.


Sepanjang perjalanan bebera kali Dhita minta berhenti untuk sekedar beli jajanan yang menurutnya enak.


Daniel hanya pasrah toh percuma juga jika dilarang Dhita pasti akan merajuk.


Saat sedang bersantai di teras depan Villa sambil menikmati goreng pisang kepok yang masih hangat dan secangkir teh tiba-tiba saja ponsel Daniel berdering.


Ia pun segera menjauh untuk menerima panggilan telp yang ternyata dari asistennya.


Dengan ragu-ragu Daniel memberitahu kepada Dhita jika mereka harus segera kembali karena besok pagi ia harus menghadiri meeting penting dengan salah satu klien.


Menjelang malam mereka pun kembali ke Jakarta dan tiba larut malam dirumah mereka.


Pagi-pagi sekali Daniel sudah rapi dan siap berangkat kerja.


"Bunda kayanya Dhita mau jalan-jalan ke mall deh, temenin ya" pinta Dhita


"Besok aja sayang, takut kamu kecapean kan kita baru sampe" ucap Bunda Ipeh


Dhita pun mengalah, untuk hari ini ia akan istirahat dirumah saja.


Hari sudah mulai larut namun Daniel masih juga belum pulang.


Dhita yang dari tadi menunggu kepulangan Daniel hanya bisa bulak balik di teras depan dengan harapan suaminya segera pulang.


Beberapa kali Dhita mencoba menghubungi Daniel namun tidak diangkat begitu juga pesan yang sudah ia kirim berkali-kali tidak satupun yang di balas oleh Daniel.


Ada berbagai pertanyaan yang hadir dalam benak Dhita tentang Daniel yang tidak seperti biasanya.


"Kamu kemana sih sayang, kok jam segini belum pulang" keluh Dhita sambil memandangi layar ponselnya dengan harapan Daniel menjawab teleponnya atau sekedar membalas salah satu pesannya.


Bunda Ipeh yang tadinya menemani Dhita akhirnya tertidur di bangku ruang tamu.


Sementara itu di sebuah rumah Daniel masih asik ngobrol bersama teman-temannya.


Ternyata hari ini Selesai kerja Daniel ada acara reunian bersama teman-temannya dan tidak boleh membawa pasangan.


Karena lelah menunggu akhirnya Dhitapun tertidur di sofa ruang tengah dengan posisi kepala diatas bangku sedangkan tubuhnya di bawah.


Menjelang dinihari Daniel baru tiba dirumah.


Berapa terkejutnya Ia saat melihat Dhita yang tertidur dilantai.


Dengan perlahan ia pun mengangkat Dhita dan membawanya kedalam kamar.


"Maafin aku sayang, tadi lupa kasih kabar kamu kalo aku pulang telat" ucap Daniel saat melihat ponselnya yang begitu banyak panggilan masuk dan chat dari Dhita.


Setelah membersihkan diri Daniel pun merebahkan diri disamping Dhita dan tak lama kemudian ia pun ikut terlelap.


Saat azan subuh berkumandang Dhitapun terbangun, ia merasakan ada beban yang melingkar di pinggang nya yang kini tidak lagi ramping.


Saat ingat kejadian tadi malam tiba-tiba saja ia merasa sedih.


Yang ada dalam pikirannya kini Daniel sudah tidak mau lagi dekat dengannya.


Setelah sholat subuh Dhita nampak termenung di gazebo kamarnya.


Ia duduk sambil melihat bunga-bunga yang berwarna warni.


Ia pun memperhatikan beberapa bunga ada baru saja mekar dan ada juga yang sudah layu dan hampir saja terjatuh.

__ADS_1


"Apa karena kemarin ia banyak meminta makanya Daniel enggan melihatnya lagi" kira-kira begitu lah yang ada dalam pikirannya saat ini.


Entah karena apa tiba-tiba saja Dhita ingin menangis,air matanya jatuh begitu saja tanpa permisi.


Daniel yang baru saja terbangun langsung mencari keberadaan Dhita yang ternyata sudah tidak ada disampingnya.


Senyumnya pun mengembang saat melihat istrinya sedang duduk membelakanginya.


Awalnya Daniel hendak memberi kejutan kepada Dhita, namun saat ia semakin dekat ia terkejut ternyata Dhita sedang menangis.


"Sayang....." sapanya pelan.


Dhita yang mendengar suara Daniel memanggilnya langsung menghapus air matanya dengan telapak tangannya.


"Kamu menangis?"


"Kenapa sayang, mana yang sakit" ucap Daniel saat mereka berhadapan.


Bukannya menjawab tangis Dhita pun kembali terdengar bahkan saat ini terdengar begitu memilukan.


"Sayang kamu kenapa, jangan diem aja aku kan gak tau mana yang sakit Dit"


" Yang sakit di sini Niel" ucap Dhita sambil menunjuk dadanya.


Ia pun berlalu meninggalkan Daniel yang masih belum mengerti maksud perkataannya Dhita.


"Dadanya kenapa ? kayanya gak ada yang luka di situ" gumam Daniel masih belum mengerti apa yang dimaksud oleh Dhita.


Hari ini Daniel pun berangkat kerja saat jam sudah menunjukkan pukul 10.00.


Dhita sengaja tidak memberi tahu Daniel jika hari ini jadwalnya periksa kandungan.


Ia ingin menguji apa Daniel ingat atau tidak.


Jam demi jam berlalu hingga sore hari tidak ada pesan yang masuk di ponselnya.


Akhirnya Dhitapun memutuskan berangkat sendiri ke rumah sakit.


Kebetulan hari ini bunda Ipeh sedang ada acara begitu pun dengan Niken.


Sambil menunggu antrian ia terus saja megelus perutnya yang mulai membuncit.


Entah karena apa tiba-tiba saja perutnya terasa begitu sakit.


Keringat mengucur di dahi Dhita, ia sedikit meringis saat berdiri dan berjalan masuk kedalam ruangan.


"Ibu kenapa, kok wajah ibu pucat?" tanya suster.


"Perut saya sakit banget sus, aduhhhh" ringis Dhita sambil memegangi perutnya.


Dengan sigap dokter pun langsung menggendong Dhita dan menaruhnya di temani tidur.


"Ibu kesini dengan siapa?" tanya dokter Heri


"Saya sendiri dok, suami saya lagi sibuk jadi gak sempat menemani saya" ucap Dhita sambil meringis menahan sakit di perutnya.


Setelah melalui pemeriksaan akhirnya dokter Heripun meminta Dhita untuk dirawat sampai kondisinya lebih baik.


Sementara itu Dhanil yang baru saja tiba dirumah sibuk mencari keberadaan Dhita.


Berkali-kali ia menghubungi Dhita namun tidak ada jawaban.

__ADS_1


__ADS_2