Cerita Kita

Cerita Kita
Bab 82


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Daniel dapat sedikit lega karena sudah mengetahui siapa dalang dari musibah yang menimpa istri dan juga anaknya.


"Sayang bangun, kamu sudah terlalu lama tidurnya, kasihan anak kita dia haus mau minum susu" Daniel terus saja mengoceh di samping Dhita yang masih terpejam.


"Cewe kutub ku, ayo lah jangan buat aku semakin gila sayang, aku gak sanggup kamu diamkan terlalu lama"


"Aku kangen kamu, kangen dengan Omelan kamu" lanjutnya sambil mengelus pipi Dhita yang terlihat begitu tirus.


Mungkin karena terlalu lelah Daniel pun tertidur dengan posisi duduk disebelah Dhita.


Seminggu berlalu setelah kejadian itu, kondisi Dhita sudah lebih baik walaupun ia belum mau membuka matanya.


Siang itu Fico dan Pian datang menemui Daniel dengan seorang wanita yang ternyata Anti.


"Haii Niel gimana kondisi istri loe, apa kata dokter" tanya Anti tanpa merasa bersalah.


"Alhamdulillah sudah lebih baik, ini lagi istirahat aja tadi abis minum obat" jawab Daniel berbohong.


Ada rasa kecewa terlihat di wajah Anti.


Sebentar Daniel sudah begitu ingin menghabisi wanita didepannya, namun harus ia tahan demi rencana yang sudah ia dan teman-temannya susun.


"Niel ini aku bawa makanan, kamu juga harus Jaga kesehatan Niel jangan sampe ikutan sakit" ucap Anti sambil membuka makanan yang ia bawa.


Begitu makanan sudah terbuka dengan segera Fico dan Aldi langsung memakannya tanpa menunggu disuruh lagi.


"ih kalian siapa yang nyuruh sih ikutan makan, ini kan buat Daniel" Anti nampak kesal karena makanan yang sudah ia persiapkan ternyata sudah habis dimakan kedua temannya.


"Enak juga Anti, loe beli mana ini" ucap Fico basa basi.


"Itu gw masak sendiri tau khusus buat Daniel, eh yang makan malah kalian" ucap Anti kesal.


"wkwkkwk maaf ya Anti, abis kita juga laper tadi dari kantor Daniel langsung kesini" timpal Fico dengan mulut masih penuh dengan makanan.


"Gak apa-apa, kalian habiskan aja,tadi aku udah makan kok" jawab Daniel santai.


"Sial udah cape masak yang abisin malah bukan Daniel " batin Anti kesal sambil menatap kedua temannya.


Siang itu Anti datang kerumah sakit tanpa ditemani oleh kedua teman Daniel, ia sengaja membawakan makanan yang telah ia masak khusus untuk Daniel.


"Assalamualaikum " ucap nya sambil membuka pintu.


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh" jawab seorang wanita paruh baya yang baru kali ini Anti lihat.


"Maaf Daniel nya kemana ya Bu?" tanya nya sambil matanya berkeliaran mencari keberadaan Daniel.

__ADS_1


"Daniel lagi ke mushola dibawah, maaf kamu siapa ya?" tanya Bunda Ipeh


"Oh iya perkenalkan saya Anti temannya Daniel Tante" Antipun memperkenalkan diri dengan suara yang lembut.


"Kalau boleh tau Tante ini siapanya Daniel y" tanya Anti yang penasaran.


"Oh saya mertuanya Daniel, mamanya Dhita" jawab Bunda Ipeh tanpa curiga sedikit pun.


Sambil menunggu Daniel datang mereka pun berbincang-bincang.


Detik demi detik terasa begitu lama, sebentar-sebentar Anti melihat kearah pintu berharap Daniel segera datang.


Daniel yang baru saja selesai sholat dan juga makan siang begitu terkejut saat masuk kedalam kamar Dhita ternyata sudah ada Anti yang sedang duduk ditemani Bunda Ipeh.


"Assalamualaikum" Daniel masuk dengan berpura-pura lemas.


"Niel dari mana aja sih lama banget" ucap Anti dengan suara yang dibuat manja.


"Abis sholat, loe ngapain kesini?" tanya Daniel sinis


"Ih kok kamu nanyanya begitu sih, aku tuh kesini mau jenguk Dhita sekalian bawain kamu makan siang" ujar Anti dengan sok polosnya.


"Gw udah makan siang tadi, tapi terimakasih ya" Daniel pun duduk disisi pembaringan Dhita.


"Sayang, ini ada temen kamu mau besuk, bangun dong" ucap Daniel sambil mengecup punggung tangan Dhita.


"Sabar Niel insya Allah sebentar lagi juga Dhita bangun" ucap Bunda Ipeh penuh harap.


Sebenarnya Dhita sudah sadar namun matanya begitu sulit untuk dibuka.


Ia pun mendengar apa yang mereka ucapkan.


Dalam hati Dhita sedikit berpikir mencoba mengingat masa SMA nya.


Yah ia ingat dengan sosok Anti, yang ia ingat Anti itu sangat menyukai Daniel.


Dulu wanita itu sering sekali menghina dirinya dengan berbagai perkataan yang tidak baik.


"Mau apa wanita itu kesini " batin Dhita.


Sebenarnya ia ingin sekali membuka matanya, ia sudah sangat rindu ingin menatap wajah suaminya dan ingin segera melihat buah hatinya.


Namun entah kenapa matanya seakan enggan untuk terbuka.


Namun ia pun sempat berpikir dengan kondisinya saat ini ia jadi tau bagaimana perasaan Daniel yang sebenarnya.


Sementara itu Anti nampak begitu kesal saat Daniel mengacuhkan diri nya, ia bahkan tidak mau jauh dari sisi tempat tidur Dhita.

__ADS_1


Pikiran jahat kembali melintas dalam otak Anti.


Ia berniat untuk memberi racun dimakanan Dhita.


"kalau saja ni cewe gak ada kan aku punya kesempatan untuk jadi istrinya Daniel" kira-kira begitu lah yang ada dalam otak Anti saat ini.


Setelah hampir satu jam lebih Anti di acuhkan oleh Daniel ia pun pamit pulang dengan berjuta kekesalan dalam hatinya.


Pian dan Fico yang diberitahu jika Anti batu saja menemuinya sedikit terkejut.


Yang mereka tau Anti batu nanti sore mengajak nya untuk menemui Daniel.


"Tuh cewe dari dulu gak berubah ya, agresif banget" ucap Fico saat mereka sedang asik ngobrol diruangan Dhita.


"Cinta tak sampai ya" lanjut Pian


"Buat loe aja Pian, kan loe masih jomblo" ucap Daniel yang langsung mendapat sambutan sebuah pukulan dibahu Daniel.


"Ogah amat gw sama kaya gitu" balas Pian


"Kenapa kan dia cantik juga Pian" timpal Fico


"Buat loe aja, kalo gw mending yang kaya Dhita aja kalem gak kaya gitu hoby mengejar-ngejar cowo, serem gw sama cewe model gitu" ucap Pian.


Mereka pun langsung membahas rencana selanjutnya.


Tanpa mereka sadari Dhita mendengar semua yang mereka ucapkan.


"Oh jadi ini perbuatan tuh Nene lampir,liat aja nanti kalo aku udah sehat aku pasti balas" ucap Dhita dalam hati.


Hari itu Daniel sedikit terhibur dengan kehadiran kedua sahabatnya.


Sementara itu Dhita terus berusaha untuk menggerakkan tangan nya agar mereka tau jika ia sudah sadar.


Awalnya memang terasa begitu sulit sampai pada akhirnya ia pun dapat menggerakkan jarinya sedikit demi sedikit.


Usahanya sia-sia karena saat jarinya dapat ia gerakkan tidak ada satupun yang melihatnya.


Namun Dhita tidak putus asa, ia pun mencoba lagi hingga akhirnya Daniel yang tanpa sengaja melihat pergerakan jati Dhita.


"Sayang kamu udah sadar" ucap Daniel bahagia


Ingin rasanya Dhita menjawab namun bibirnya masih terasa kamu untuk menjawab.


Saat ini ia hanya bisa menggerakkan jarinya saja.


Ia pun berjanji akan terus berusaha agar Matanya pun bisa ia buka dan melihat suaminya yang sangat ia rindukan.

__ADS_1


__ADS_2