
Hari ini adalah hari pernikahan Dhaniel dan Hesti
suasana begitu ramai karena acara diadakan disebuah gedung mewah dan undangan yang datangpun bukan sembarangan orang mereka adalah para pebisnis dan colega keluarga Wijaya besannya.
Dhaniel nampak memasang wajah bahagia begitupun Hesti padahal dalam hatinya ia begitu tersiksa karena harus bersanding dengan wanita yang tidak ia cintai.
Sementara itu disebuah rumah mewah di sebuah pedesaan didalam sebuah kamar nampak seorang gadis yang sedang duduk disebuah pojok ruangan dengan posisi kaki yang ditekuk sementara wajahnya dibenamkan diantara dua lututnya
ia menangis selain sakit hati oleh perlakuan Dhaniel yang mengurungnya bak panjahat dan tak mempunyai kebebasan
sebetulnya ia ingin sekali melarikan diri namun ia teringat akan ada banyak korban jika ia nekad.
ia tak mempunyai pilihan kecuali pasrah tapi ia berjanji jika ada kesempatan dan tak mengorbankan orang lain ia tak akan menyia-yiakannya.
Sudah beberapa hari ini Dhita tak menyentuh sama sekali makanan yang dibawa oleh pelayan ia hanya meneguk segelas air putih
Lemas?sudah pasti ia rasakan bukan hanya badan tetapi pikirannya juga ia tak habis pikir bagaimana bisa Dhaniel dan Hesti menikah tapi hanya untuk tujuan keuntungan saja lalu bagaimana dengan perasaan kekasih Hesti apakah sama seperti dirinya
Kediaman keluarga Wijaya
-----------------------------
Dhaniel memang sengaja menonaktifkan ponselnya ia tak ingin acara penting nya terganggu.
Begitu acara selesai Dhaniel kembali ke Hotel tempat dimana ia akan menghabiskan hari itu dengan wanita yang kini menyandang status istri Dhaniel Wijaya.
matanya terbelalak seakan tak tak percaya dengan pesan yang dikirim oleh kepala pelayan di kediamannya yang memberitakan kalau Dhita sudah tiga hari ini tak menyentuh makanan yang disediakan,mereka juga sudah membujuk dengan berbagai cara agar Dhita mau makan namun hasilnya sia-sia.
ia juga mengirim gambar Dhita yang sedang menangis disudut ruangan.
Hati Dhaniel terasa sakit melihat kondisi Dhita saat ini, ingin rasanya malam ini juga ia menuju tempat Dhita tapi itu tak mungkin karena esok ia harus pergi untuk berbulan mady dengan Hesti walaupun itu hanya pura-pura.
"aghhhhhhhhh"Dhaniel berteriak sekuat nya untuk mengilangkan rasa sesak yang kini terasa didadanya ia meremas rambutnya karena frustasi
Hesti yang mendengar teriakan Dhaniel bergegas lari menghampiri Dhaniel yang berada dikamar mandi
"ada apa Niel"tanya Hesti khawatir
"gak ada apa-apa Hes,aku cuma prihatin ama kondisinya sekarang"ucap Dhaniel lirih
__ADS_1
"ya udah kamu kesana aja sekarang dari pada kamunya malah jadi begini"saran Hesti
"gak bisa Hes kan besok pagi kita harus berangkat ke paris kalau sekarang aku berangkat kesana butuh waktu 6 atau 7 jam PP " jawab Dhaniel
merekapun keluar dari kamar mandi Dhaniel duduk disofa sedangkan Hesti sudah membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.
walaupun mereka sudah sah menjadi suami istri tetapi mereka sudah sepakat akan tidur terpisah.
Sementara itu di tempat terpisah nampak para pelayan sibuk karana mereka menemukan nona muda mereka tak sadarkan diri didalam kamar mandi dengan kondisi kepala yang mengeluarkan darah yang sudah mulai mengering,sepertinya mereka terlambat menemukan Dhita
Pak Imam yang merupakan kepala pelayan dirumah itu nampak bingung apakah ia harus memberitahukan tuannya atau tidak.
Setelah berpikir lama akhirnya ia mengirim pesan pada tuan mudanya tentang kondisi Dhita.
Seperti yang sudah diduganya tuan mudanya marah besar namun begitu mendengar penjelasan dari pak Imam akhirnya amarahnya mulai mereda.
seorang Dokter muda yang sedang ditugaskan didesa itu pun dipanggil untuk datang kerumah megah itu ia memeriksa dan mengobati Dhita.
Setelah menjahit luka di ujung kening Dhita dokter muda itu pun menyerahkan resep berupa vitamin yang terbaik untuk Dhita.
"manis sekali nona ini pantas saja pengawalannya sangat ketat" ujar sang dokter dalam hati
Akhirnya Dhitapun siuman ia merasakan rasa nyeri di keningnya dan sedikit meringis.
"aku kenapa bi?" tanya Dhita pada pelayan yang menjaganya
"anda tadi tak sadarkan diri nona, dan kening anda terluka kemungkinan terbentur ujung westafel saat anda terjatuh" jelas salah satu pelayan
sejenak Dhit terdiam napaknya ia sedang berpikir.
"aku gak boleh seperti ini,aku harus kuat ya hanya tinggal menunggu waktu yang pas buatku untuk pergi dari nya" ucap Dhita dalam hati
"bi...bisa tolong ambilkan ponselku di laci itu"ucap Dhita sambil menunjuk kearah laci dimeja samping tempat tidurnya.
setelah menerima ponselnya ia pun mengaktifkannya dan ada banyak chat dan panggilan tak terjawab dari Dhaniel namun tak satupun yang ia baca.
"Dasar berengsek ijinin aku keluar dari kamar ini,aku bukan tahanan"
"kamu orang paling jahat yang pernah aku kenal dan aku menyesal telah kenal dengan mu"
__ADS_1
tak lama kemudian ada 📞 dari Dhaniel namun Dhita langsung menolaknya,saat ini dia tak ingin mendengar suara Dhaniel
setelah beberapa kali Dhaniel mencoba menghubungi Dhita namun selalu ditolak akhirnya ia pun mengirimi chat
"beib gimana keadaan kamu"
"aku gak mengurung kamu aku hanya tak ingin kejadian kemarin terulang lagi"
"beib aku tuh sayang banget sama kamu dan aku gak mau kamu ninggalin aku"
tak ada satupun chat dari Dhaniel yang di balas oleh Dhita.
esoknya pagi sekali Dhaniel dan Hesti sudah terbang menuju kota paris untuk berbulan madu.
sementara itu Dhita sudah di ijinkan keluar dari kamar dengan syarat harus selalu ditemani oleh pelayan dan penjaga
Dhita pun sangat bahagia walaupun hanya keluar sekedar bermain di taman samping atau taman belakang.
ia menikmati pagi itu, ia pun meminta dibelikan bubur ayam dan ia pun menikmati sarapan paginya di taman samping bersama para pelayan.
Tiga hari sejak Dhita ditemukan tak sadarkan diri dokter muda itu datang lagi untuk melihat kondisi Dhita
Sejenak ia terpaku saat matanya melihat seorang gadis yang sedang asik bermain ayunan dengan perban yang masih melekat dikeningnya
dokter itu pun menghampiri palayan dan memberitahu maksud kedatangannya
"selamat pagi nona,saya dokter adit yang kemarin mengobati anda" sapa dokter itu ramah
"oh selamat pagi juga dokter,maaf jadi merepotkan anda" balas Dhita dengan nada lembut dan tersenyum manis
"tidak apa-apa nona memang tugas saya,mau diperiksa dimana nona?"
"kita kedalam aja ya"
Dhita pun turun dari ayunan dan berjalan masuk menuju sofa diruang tamu
setelah mempersilahkan duduk sang dokterpun menjalankan tugasnya dengan diawasi oleh pak Iman dan beberapa pelayan.
setelah selesai dokter adit pun pamit namun sebelumnya ia neminta Dhita untuk banyak istirahat karena kondisinya yang belum pulih.
__ADS_1
setelah dokter adit pergi Dhitapun langsung kembali kekamarnya untuk istirahat dengan ditemani dua pelayan wanita