Cerita Kita

Cerita Kita
Bab 86


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Sepanjang perjalanan Dhita hanya menangis, walau pun ia tau rencana Daniel tapi tetap saja ia merasa cemburu jika harus melihat sendiri bagaimana Daniel bersikap pada Anti.


Masih jelas terbayang dalam ingatannya saat Anti menggenggam tangannya dan Daniel hanya diam saja.


Sebenarnya Dimas ingin sekali menghibur Dhita namun biar bagaimanapun ia tau batasan dan sadar jika saat ini Dhita masih berstatus istri orang.


"Betapa bodoh orang itu yang sudah sia-siain kamu Tha" batin Dimas.


"Aku gak mau pulang dulu kk Din" pinta Dhita


"Terus kamu mau aku antar kemana?" tanya Dimas.


"Aku gak tau, tapi aku gak mau ketemu dia dulu, sakit banget rasanya kk Din" Dhita kembali menangis.


"Terus apa yang bisa aku bantu Tha, terus terang aku gak tau bagaimana caranya buat ngehibur kamu" ucap Dimas.


"Lagian kasian anak kamu Tha kalau kamu gak pulang, dia masih kecil banget nanti takut masuk angin" ucap Dimas.


Sejenak Dhita terdiam, apa yang dikatakan Dimas ada benarnya juga, Kasihan Dika jika kena angin malam terlalu lama.


Akhirnya setelah membeli ponsel dan juga nomor baru Dhitapun minta diantar pulang kerumahnya.


Bunda Ipeh yang sudah berada di rumah sejak tadi nampak khawatir menunggu Dhita.


Begitu juga dengan Daniel yang langsung pulang sejak kejadian di parkiran kafe tadi.


"Sayang kamu kemana, ini udah malem loh, kasihan anak kita" sebuah pesan singkat Daniel kirim namun hanya centang satu.


Akhirnya ia pun mencoba menghubungi Dhita namun tidak bisa.


Ia pun mulai merasa khawatir setelah berkali-kali mencoba menelpon Dhita namun tidak bisa.


Ia sedikit lega saat sebuah mobil berhenti didepan rumahnya.


Benar saja Dhita turun dari mobil itu ditemani dengan seorang pria.


Bunda Ipeh pun segera menghampiri Dhita.


"Kamu dari mana saja sih Nak, ini tuh udah melem banget kasihan Dika" ucap Bunda Ipeh .


"Maaf ya udah bikin bunda khawatir, tadi ada sedikit masalah, untung ketemu Dimas" jawab Dhita


"Dimas, kalau gak salah Dimas itu teman kamu yang waktu kerja di kafe bukan?" tanya Bunda Ipeh.


"Iya Bun"


"Kk Dimas mampir dulu yuk" ajak Dhita


"Udah malem Tha, aku langsung pulang aja ya"

__ADS_1


akhirnya Dimas pun pamit pulang.


"Bunda Malam ini Dhita tidur sama Bunda ya" ucap Dhita


""Lah emang kamu kenapa sama Daniel, tadi dia pulang sendiri" tanya Bunda Ipeh heran.


"Nanti Dhita ceritain , sekarang Dhita cape Bun mau tidur" ucap Dhita.


Dika yang digendong oleh Bunda nampak tidur dengan sangat pulas.


Diam-diam Dhita masuk kedalam kamar, ia melihat Daniel sudah tertidur, dengan sangat hati-hati ia membuka lemari pakaian dan mengambil beberapa pakaian untuk ganti.


Daniel yang hanya berpura-pura tertidur merasa begitu sakit, ingin rasanya saat ini ia memeluk dan mengatakan yang sebenarnya pada Dhita.


"Sayang maafin aku" batin Daniel sambil menatap punggung Dhita yang telah menghilang dibalik pintu.


Pagi harinya Daniel menyiapkan segala sesuatunya sendiri.


Saat sarapan pagi pun ia tidak melihat Dhita ada dimeja makan.


"Bun..Dhitanya sudah sarapan belum?" tanya Daniel pada Bunda Ipeh


"Belum, ia masih sibuk ngurusin anak-anak"


"Sebenarnya kalian ada masalah apa?"


"Kalau ada masalah itu diselesaikan jangan ditunda-tunda dan jangan dibiarkan berlarut-larut" Bunda Ipeh menasehati Daniel.


"Niel bingung Bun bagaimana menjelaskannya pada Dhita"


"Memang semua ini salah Niel, tapi percayalah Bunda Niel gak selingkuh, Niel punya alasan sendiri kenapa dekat dengan Anti" ucapa Niel menjelaskan kepada Bunda Ipeh.


"Apapun itu alasan kamu Niel, sebaiknya kamu bicara jujur sama Dhita biar dia tidak salah pengertian" ucap Bunda Ipeh


"Iya Bunda, Niel cuma cari waktu yang pas aja buat bicara dengan Dhita"


"Niel juga gak bisa Bun kalo di diemin terus" ucap Daniel dengan raut wajah sedih.


"Yang sabar ya Niel, inget pesen Bunda jangan terlalu lama dibiarkan" ucap Bunda Ipeh lalu meninggalkan Daniel.


Di tempat kerjanya Daniel lebih banyak termenung, masih teringat semua yang diucapkan Dhita.


"Anti tunggu saja pembalasan aku, semua gara-gara kamu" ucap Daniel sambil meremas kertas yang sedang ia pegang.


Ia begitu kesal dengan wanita itu, kalau saja tidak ingat dengan rencana yang sudah ia dan teman-temannya susun ia pasti sudah memasukkannya kedalam penjara.


Beberapa bukti yang ia punya setidaknya cukup untuk membuat Anti masuk bui.


Andreas masuk keruangan Daniel dengan membawa begitu banyak berkas yang harus Daniel tanda tangani.


Kantor anak cabang yang bermasalah telah berhasil ia tangani.

__ADS_1


Kini ia fokus dengan masalah rumah tangganya.


Ia terus saja menatap foto Dhita bersama anak-anaknya.


Ia rindu suasana saat Dhita bermanja-manja dengannya, jalan-jalan bersama.


Tanpa memberi tahu Daniel siang itu Anti datang menemui Daniel.


"Hallo Niel, boleh aku masuk" ucap Anti dengan nada dibuat selembut mungkin.


"Sorry Nti, gw lagi sibuk banyak berkas yang harus gw cek " jawab Daniel dingin.


"Gw gak akan ganggu kok, gw temenin ya"ucapnya lagi.


"Plis ya Nti, gw lagi perlu konsentrasi, tolong jangan ganggu gw dulu" ucap Daniel mulai kesal.


"Niel gw cuma mau minta maaf soal waktu itu, sumpah gw gak ada niat buat kacauin rumah tangga loe" ucap Anti dengan wajah dibuat seakan-akan dia menyesal.


"Udah terlanjur Nti, mending sekarang loe keluar" usir Daniel.


"Tapi Niel..." ucap Anti terjeda saat Andreas masuk.


"Anti lebih baik sekarang loe pulang dulu ya, suasana hati Daniel sedang tidak baik" ucap Andreas mengusir Anti secara tidak langsung.


"Tapi Re..." sebelum Anti menyelesaikan perkataannya Andreas sudah lebih dahulu menariknya keluar.


"Plis An loe ngertiin Daniel ya, biarin aja di sendiri dulu ok" ucap Andreas sedikit tegas.


Dengan rasa kesal akhirnya Antipun meninggalkan kantor Daniel.


"Ha....ha... rasain loe Dhita, sebentar lagi loe pasti akan minta cerai dengan Daniel, dan jika saat itu tiba gw yang akan gantiin posisi loe sebagai Nyonya Daniel" ucap Anti saat ia sudah didalam mobilnya.


Sementara itu untuk menghilangkan rasa jenuhnya Dhita mengajak anak-anaknya untuk berjalan-jalan kesebuah mall dengan ditemani para pengasuh dan juga Bunda Ipeh serta Niken.


Bayu dan Sheila terlihat begitu bahagia, mereka bermain sepuasnya.


Setelah puas bermain mereka pun makan disebuah restoran cepat saji.


Sore itu Dimas secara tidak sengaja bertemu dengan Dhita dan keluarganya.


Dimas sedikit lega saat melihat wajah Dhita telah kembali ceria.


"Aku suka liat kamu seperti ini Tha, tersenyum, tertawa" ucap Dimas.


"Soal yang kemarin aku minta maaf ya, pasti aku jelek banget ya saat nangis" ucap Dhita malu.


"Semua juga saat menangis itu jelek Tha" Dimas meringis saat Dhita menepuk lengannya .


"Oh..maaf ya kk Dim, sakit ya" tanya Dhita


"Gak sakit Tha, cuma kaget aja" ucap Dimas sambil tertawa.

__ADS_1


Daniel yang kebetulan sedang berada di mall yang sama tanpa sengaja melihat Dhita dan Dimas begitu akrab, ia hanya bisa melihat dari kejauhan, Daniel merasa cemburu melihat kedekatan mereka.


__ADS_2