
Seminggu sudah Dhita berada di ruang ICU masih tak sadarkan diri,nampak wajah putus asa diwajah Bunda Ipeh tak sedetikpun ia mau beranjak meninggalkan ruangan dimana Dhita dirawat kecuali untuk sholat dan mandi saja.
"Dhita..bangun nak,ini bunda,apa kamu gak kangen sama Bunda,baru aja kita ketemu nak setelah hampir lima tahun masa kamu mau ninggalin Bunda,Sheilla,Bayu,Niken dan Dhaniel,kami semua sayang kamu nak ayo bangun" tangis Bunda Ipeh pun pecah terdengar begitu memilukan bagi siapa pun yang berada diruangan itu.
Rivan yang kebetulan berada disana merasa begitu menyesali perbuatannya,jika bukan karena obsesinya untuk memiliki Dhita seutuhnya tentu hal ini tak akan terjadi.
Perlahan ia pun mengusap kasar wajahnya,dalam hatinya ia selalu berdoa agar Dhita segera sadar.
Sementara itu dikediaman Dhaniel nampak Sheilla yang menangis memanggil-manggil nama mamanya,sudah hampir satu bulan ia tak melihat wajah mamanya begitupun Bayu setiap hari selalu saja ia bertanya pada pengasuhnya kapan mamanya kembali.
Niken yang memang sekarang tinggal dirumah Dhaniel untuk mengawasi kedua keponakannya hanya bisa berbohong kala kedua anak itu merengek minta bertemu dengan mamanya.
Sementara itu Dhaniel selalu memantau perkembangan Dhita walaupun disana ada Bunda Ipeh namun ia menempatkan 2orang penjaga yang selalu siap jika ada hal-hal yang tak diinginkan terjadi apalagi disana masih ada Rivan rival abadinya.
Walaupun lelah harus bulak-balik antara rumah,kantor,dan rumah sakit namun hal itu tak ia rasakan yang ada dalam pikirannya ia ingin segera membawa Dhita kembali kerumahnya dan merawatnya dirumah namun karena kondisi Dhita belum sadarkan diri pihak rumah sakit tidak mengijinkan Dhita untuk dipindahkan.
__ADS_1
Malam itu,suasana terasa begitu sepi hanya ada dua orang suster yang sedang berjaga memantau kondisi Dhita sedangkan Bunda Ipeh dan Rivan berada didepan ruangan ICU
Perlahan bulu mata lentik itu bergerak perlahan,memaksa untuk membuka matanya yang sudah lama terpejam,terangnya cahaya dari lampu membuat mata Dhita terasa sulit untuk dibuka.
Seorang suster yang melihat mata Dhita berkedip-kedip segera menghubungi dokter jaga untuk segera memeriksa kondisi Dhita yang sudah mulai sadar.
Nampak seorang dokter wanita berjalan dengan tergesa-gesa memasuki ruangan dimana Dhita dirawat.
Bunda Ipeh pun mulai panik ia takut sesuatu terjadi dengan putrinya,ia hanya mampu melihat dari kaca kecil yang terdapat didepan pintu.
Rivan pun ikut berdiri disamping Bunda,walaupun Bunda marah pada Rivan yang sudah dianggap sebagai anak namun Bunda dapat menahan emosinya ia masih bisa memaafkannya.
"tenanglah Bunda,sepertinya Dhita sudah sadar Bun,coba lihat tangannya bergerak"ucap Rivan mencoba menghibur Bunda
"mudah-mudahan yan Van,Bunda takut Dhita kenapa-napa"ucap Dhita sedikit terisak
__ADS_1
"Bun,maafin Rivan,semua salah Rivan Bun"sesal Rivan sambil bersujud dikaki Bunda Ipeh dengan suara parau .
"bangun nak,semua udah takdir bukan salah kamu juga,Bunda udah maafin kamu nak"tutur Bunda sambil memegang bahu Rivan menyiruhnya untuk berdiri.
Tak lama kemudian dokterpun keluar dari ruangan Dhita dengan senyum lega.
Bunda dan Rivan segera menghampiri sabg dokter untuk meminta penjelasan.
Setelah sang Dokter menjelaskan keadaan Dhita Bunda Ipeh pun terlihat senang.
Setelah semua siap Dhita dipindahkan keruang perawatan.
Nampak Bunda tersenyum saat Dhita menatapnya masih dengan mata yang sayu.
"sayang akhirnya kamu sadar juga,Bunda takut nak"ucap Bunda dengan suara terisak dan memeluk Dhita erat.
__ADS_1
"maafin Dhita Bun,udah bikin Bunda khawatir"ucap Dhita pelan
"jangan pernah melakukan hal bodoh lagi ya nak"ucap Bunda lembut sambil membelai lembut kening putrinya.